Tak Pernah Mundur meski Disebut Pelacur

Tak Pernah Mundur meski Disebut Pelacur

  Senin, 24 Oktober 2016 09:30
PEJUANG LINGKUNGAN: Aleta Baun (dua dari kanan) bersama keluarga dan para aktivis lingkungan yang sukses mengusir aktivitas penambangan marmer di desa adat Mollo, NTT. MAMA ALETA FOR JAWA POS

Berita Terkait

Perjuangan Mama Aleta Menggerakkan Aksi Mengusir Penambang Marmer di Desa Adat Mollo, NTT

Aleta Baun berhasil menyelamatkan lingkungan tempat tinggalnya dari kerusakan. Bersama ibu-ibu di kampung halamannya, dia menghentikan kegiatan penambangan batu marmer Gunung Mutis di Mollo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

M HILMI SETIAWAN, Jakarta

Testimoni Aleta Baun di forum simposium World Culture Forum (WCF) 2016 di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa lalu (11/10) menghinoptis sekitar 200 peserta. Isi testimoni itu sederhana. Yakni kisahnya memperjuangkan wilayah adat Mollo, NTT, dari kerusakan lingkungan akibat penambangan liar batu marmer Gunung Mutis.

Tepuk tangan riuh langsung menggema ketika perempuan yang akrab disapa Mama Aleta itu mengakhiri cerita. Dia menutup testimoni dengan penyataan, ”Kita tak jual yang tidak bisa kami buat.”

Perempuan kelahiran Timor Tengah Selatan, 16 Maret 1965, itu mulai bergerak menyelamatkan lingkungan desa adat Mollo pada 1999. Desa adat Mollo mencakup beberapa kecamatan, yakni Mollo Utara, Mollo Selatan, Mollo Tengah, Fatung Nasi, dan Numbena.

Mama Aleta tergerak menyelamatkan desanya karena melihat tanda-tanda kerusakan lingkungan. Di antaranya pasokan air bersih yang menyusut dan bencana tanah longsor yang mengancam. 

Dampak kegiatan penambangan batu marmer dan perubahan hutan alam menjadi hutan erosi juga memengaruhi kondisi ekonomi warga. Yakni, area perkebunan menciut, hewan ternak kesulitan merumput, dan warga susah mencari kayu bakar. ”Saya tidak bisa tinggal diam melihat kondisi itu,” kata istri Liftus tersebut. 

Praktik pembabatan hutan alam itu, jelas Aleta, mulai berlangsung pada dekade 1980-an. Ada empat perusahaan tambang batu marmer yang beroperasi pada 1995. Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan kalau tidak ingin wilayah desa adat Mollo punah.

Aleta kemudian menggalang dukungan masyarakat, khususnya ibu-ibu. Semangat yang dia bawa kali itu ialah menganalogikan bahwa alam adalah tubuh manusia. Jika alam tempat tinggal manusia rusak, rusak pula tubuh manusia.

Ibu Maria, Yordan, dan Nina tersebut menjelaskan, saat menginisiatori gerakan mengembalikan kelestarian alam desanya itu, dirinya masih berstatus ibu rumah tangga biasa. ”Saat itu anak saya masih dua. Tapi, suami memberikan dukungan penuh,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, gerakan penolakan tambang batu marmer oleh Aleta tersebut menjadi bola es. Simpati masyarakat terus berdatangan. Akhirnya, sekitar 200 warga memberikan dukungan kepada Aleta untuk terus berjuang. Mayoritas adalah ibu-ibu. Mereka siap sewaktu-waktu dikumpulkan untuk menolak penambangan batu marmer itu.

Suatu hari Aleta menggelar aksi demonstrasi yang tidak biasa, yakni dengan mengajak ibu-ibu menenun di area tambang. Sekitar 500 perempuan terlibat dalam aksi menenun di atas bebatuan bahan tambang marmer. Aksi itu mendapat peliputan media dari mana-mana. Kasus penambangan marmer di Gunung Mutis pun jadi isu lingkungan yang mengglobal.

Sejalan dengan itu, teror juga mulai sering mampir di rumah Aleta. Yang melakukan orang-orang di perusahaan tambang tersebut dan oknum aparat keamanan yang mem-back up penambangan. Namun, Aleta tidak gentar. ”Saya tidak takut mati karena semua orang bakal mati. Jadi, saya pun tidak takut adanya teror yang bertubi-tubi itu,” jelasnya dengan tegas.

Teror yang paling banyak Aleta terima berbentuk teror psikis. Di antaranya, dia dijuluki pelacur. Sebutan keji tersebut dialamatkan ke Aleta karena sering keluar rumah pada malam hari. Padahal, dia keluar rumah untuk konsolidasi gerakan bersama para aktivis lingkungan lainnya.

Sesekali Aleta juga mendapatkan teror fisik. Suatu hari rumahnya tiba-tiba dilempari batu oleh para preman. Akibatnya, selain rumahnya rusak, anak keduanya, Yordan, terluka (bocor) di kepala dan harus dirawat di rumah sakit.

Buntut teror itu, semangat suami Aleta sempat kendur. Dia meminta Aleta mengakhiri aksi penolakan terhadap praktik penambangan marmer tersebut. Namun, permintaan suami itu tidak digubris Aleta. Perempuan yang kini menjadi anggota DPRD NTT dari PKB tersebut tetap maju. Sampai akhirnya dia bersama para aktivis lainnya berhasil mengusir aktivitas penambangan di tanah kelahirannya itu pada 2009. 

”Begitu penambangan berhenti, kami sangat lega. Bayangkan, sepuluh tahun kami bergerak,” ceritanya. Atas kegigihannya itu, Aleta mendapatkan penghargaan Goldman Environmental Prize pada 2013 di Amerika Serikat.

Mama Aleta menegaskan, kemenangan gerakannya bersama para aktivis lingkungan di NTT itu bukanlah akhir dari perjuangan. Sebab, tantangan berikutnya sudah menunggu. Yakni, bagaimana mengembalikan lingkungan yang sebagian sudah rusak dan bagaimana memacu pertumbuhan ekonomi warga tanpa mengorbankan alam.

Maka, kini Aleta kembali turun ke lapangan dengan menggerakkan warga untuk melakukan penghijauan. Hutan-hutan yang sebelumnya gundul ditanami kembali dengan aneka pepohonan. Terutama di sekitar sumber mata air.

Aleta dan ibu-ibu lainnya juga membangun lumbung-lumbung pangan. Upaya itu dilakukan karena mereka merasakan dampak perubahan iklim global. Antara lain cuaca yang tidak bisa diprediksi sehingga memengaruhi kegiatan pertanian warga. Warga juga mulai mengembangkan pertanian organik dan mendirikan kelompok ternak.

Dua tahun sekali warga juga menggelar Festival Ningkam Haumeni. Festival yang digelar di bawah batu Nausus itu dimaksudkan untuk mengingatkan akan perjuangan Aleta dan kawan-kawan dalam mengusir penambang batu marmer. 

Aleta menegaskan, masyarakat adat Mollo telah mewariskan nilai yang begitu mulia. Yakni memperlakukan alam selayaknya memperlakukan tubuh sendiri. ”Untuk itu, saya tegaskan, kita hanya menjual apa yang bisa kita bikin. Bukan menjual apa yang diproduksi alam,” tandas Mama Aleta. (*/c9/ari)

Berita Terkait