Tak Perlu Cemas karena Bukan Unas

Tak Perlu Cemas karena Bukan Unas

  Senin, 16 May 2016 09:30

Berita Terkait

DEPOK – Apa pun namanya, ujian akhir pasti membuat siswa khawatir. Termasuk ujian sekolah untuk jenjang SD dan MI (madrasah ibtidaiyah) yang digelar mulai hari ini (16/5). Bocah-bocah berseragam putih-merah itu diimbau tetap tenang serta tidak cemas.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan bahwa ujian nasional (unas) hanya berlaku untuk SMA sederajat dan SMP sederajat. ’’Besok yang untuk anak-anak SD itu bukan unas,’’ katanya setelah menjadi pembicara di forum TEDx Lazuardi di Depok kemarin (15/5).

Karena ujian yang akan ditempuh siswa SD-MI hari ini bukan unas, Anies meminta siswa tidak usah cemas. Bagi dia, anak-anak SD tetap menghadapi ujian hari ini seperti ujian semesteran atau kenaikan kelas biasa.

Mantan rektor Universitas Paramadina itu mengatakan, ujian hari ini bersifat lokal dan menjadi agenda rutin tahunan pemerintah daerah kabupaten dan kota. Bahkan, menurut laporan yang dia terima, tidak seluruh kabupaten dan kota di Indonesia menggelar ujian sekolah untuk SD dan MI mulai hari ini. ’’Termasuk di sini (Depok, Red) ujian sekolah untuk SD tidak mulai besok (hari ini, Red),’’ katanya. Namun, DKI Jakarta, daerah yang berbatasan dengan Kota Depok, mulai menggelar ujian SD-MI hari ini.

Selain urusan jadwal, Anies mengatakan, pembuat butir-butir soal ujian bukan Kemendikbud. Sebaliknya, butir-butir soal ujian dibuat guru-guru di setiap kabupaten dan kota. Kemendikbud hanya memberikan acuan kisi-kisi. ’’Jadi, kalau besok ada soal ujian yang aneh-aneh, bukan ke Kemendikbud protesnya,’’ katanya, lantas tersenyum. Beberapa kali soal ujian sekolah untuk SD dan MI kerap menjadi polemik. Di antaranya, ada soal yang meminta siswa menyebutkan nama pemeran di dalam sinetron televisi swasta dan contoh kasus serupa lainnya.

Penggagas program Indonesia Mengajar itu mengatakan, beberapa tahun lalu memang berlaku unas mulai jenjang SD hingga SMA. Namun, aturan itu diubah karena SD dianggap belum saatnya mengikuti ujian akhir yang bersifat nasional. Sebab, bagi Anies, untuk porsi pembelajaran di SD, masih banyak nuansa bermainnya. Dia tidak ingin anak-anak SD mengalami ketegangan serupa kakak kelasnya di SMP atau SMA.

Meski ujian sekolah hari ini terkesan ’’main-main’’, Anies berharap siswa menghadapinya dengan sungguh-sungguh. Itu menjadi latihan mereka untuk menyongsong pendidikan di jenjang SMA/MTs. Anies berharap siswa tidak memforsir waktu untuk belajar sampai subuh. ’’Belajar tetap seperti biasa. Jam 8 malam tidur,’’ tuturnya.

Kepada para orang tua, Anies berharap tidak membuat anak-anak menjadi makin terbebani. Orang tua diharapkan membiarkan anak-anak untuk mengerjakan ujian sesuai dengan kemampuan sendiri.

Dia mengenang ketika menjelang ujian akhir di SD dulu. Waktu itu malam hari H-1 ujian, Anies malah diajak makan malam bersama ayah dan ibunya. ’’Waktu itu saya ingat naik motor vespa. Saya duduk diapit bapak dan ibu,’’ jelasnya.

Anies yakin bahwa orang tuanya saat itu paham bahwa dirinya besok akan mengikuti ujian akhir. Setelah Anies mempelajari, ternyata ajakan makan malam jelang ujian itu ternyata bertujuan membuatnya tidak stres dan tegang. Menurut dia, ketika siswa menghadapi ujian dengan situasi stres dan tegang, hasilnya tidak bisa maksimal.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud Nizam mengatakan, Kemendikbud memang tidak terlibat dalam teknis ujian SD dan MI hari ini. Meski begitu, Nizam mengatakan, ada sebagian soal ujian yang dibuat Kemendikbud. Tujuannya hanya mengukur standar kualitas SD dari kacamata nasional.

Di mana letak soal titipan Kemendikbud itu? Nizam tidak bersedia mengungkapkan. Dia berharap siswa fokus mengerjakan soal ujian sesuai dengan kemampuan. Guru besar Fakultas Teknik UGM itu meyakini, selama belajar dengan baik dan tuntas, siswa pasti bisa mengerjakan ujian.

Seruan supaya siswa menjaga integritas dan tidak menyontek disampaikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad. ’’Utamakan kejujuran,’’ tegasnya. Dia mengatakan, belajar dengan optimal, percaya diri, dan doa adalah kunci kelancaran menghadap ujian hari ini.

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menjelaskan, selama ini pihaknya tidak pernah membuka posko pengaduan ujian sekolah untuk SD dan MI. Menurut dia, harapan akan adanya siswa SD yang melaporkan kecurangan unas tidak semudah siswa SMP maupun SMA. Itu sama halnya dengan mengharapkan orang tua siswa SD melaporkan adanya kecurangan. Kebanyakan diam.

Retno mengatakan, potensi kecurangan tentu masih ada di jenjang SD meski tidak sebesar di SMP maupun SMA. Apalagi ketika nanti pertimbangan kelulusan SMP menggunakan nilai hasil ujian sekolah jenjang SD-MI. Secara alamiah, siswa tentu akan mengejar nilai ujian setinggi-tingginya. ’’Kita lihat saja regulasi masuk SMP nanti seperti apa,’’ ujarnya. (wan/c10/agm)

Berita Terkait