Tak Melulu Diisi Pelajaran

Tak Melulu Diisi Pelajaran

  Jumat, 12 Agustus 2016 10:40
FULL DAY SCHOOL: Murid Sekolah Dasar Islam Al-Azhar Pontianak saat beraktivitas di dalam ruangan dibimbing oleh guru,Kamis (11/8). Sekolah Islam Al-Azhar Pontianak sudah sejak lama menerapkan metode full day School sebelum diwacanakan Mendikbud Muhadjir Effendy. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

 
Sebelum wacana full day school  mengemuka, sejatinya sudah banyak sekolah yang menerapkan metode serupa. Yakni dengan memberikan jam tambahan di sekolah. Namun, tidak melulu diisi materi pelajaran.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

WAKTU sudah menunjukkan pukul 13.45. Amanda, siswi kelas 6 SD Al-Azhar masih berada di sekolah. Bersama Zahwa, teman sekelasnya, ia keluar dari masjid sekolah, usai menunaikan salat zuhur berjemaah. Mereka berjalan bersama menuju ruang kelas, bersiap melanjutkan jam tambahan sekolah.

Sebelum jam tambahan dimulai, Amanda mengajak Zahwa menyantap makan siang yang mereka bawa. Siswa siswi lain juga demikian. Ada yang bersantap di ruang kelas, lorong, teras, dan ada pula yang memilih di kantin sekolah. Saat itu para siswa kelas enam sedang istirahat, menunggu bel waktu masuk untuk melanjutkan satu jam tambahan. Suasana sekolah agak riuh.

Di halaman sekolah, beberapa siswa tidak ikut masuk kelas. Mereka siswa kelas I sampai V yang masih berada di sekolah untuk mengikuti ekstrakurikuler yang mereka pilih sendiri. Andri, siswa kelas V tampak membawa pemukul drum. Ia menunggu latihan drumband dimulai. Bersama teman-temannya yang lain, ia terlihat asyik, tanpa memperlihatkan sedikit pun kesan lelah.

Tak lama berselang, bel waktu masuk berbunyi. Para guru memasuki ruang kelas masing-masing. Suasana sekolah kembali hening. Di ruang kepala sekolah, Meddy Andreas tengah merapikan berkas di mejanya.

Kepala Sekolah SD Al Azhar Pontianak itu mengatakan, sekolah yang dipimpinnya ini sudah sejak dulu menerapkan jam pulang sekolah pukul 14.00 siang untuk kelas I – V. Sementara siswa kelas VI pulang pukul 15.00.

Jam belajar dari pagi hingga siang menjelang sore itu ditetapkan karena sejak lama jadwal belajar di SD Al Azhar hanya lima hari. Senin hingga Jumat. Pemandangan berbeda jika melihat sekolah pada umumnya. Pada waktu yang sama, lingkungan sekolah sudah sepi. Meddy mengatakan, jam belajar hingga pukul 15.00 di sekolahnya diperuntukkan bagi siswa kelas enam yang sedang menyiapkan diri menghadapi ujian nasional.

“Mereka sudah mengetahui bahwa jam belajar yang ditambah adalah untuk persiapan mereka mengikuti ujian nasional, semata-mata demi kebaikan mereka sendiri,” jelas Meddy.

Sementara anak-anak kelas I - V, jam pulang sekolahnya hanya sampai pukul 14.00. Itu pun jam belajar mereka sudah berakhir sekitar pukul 12.30 siang. Setelah itu waktu digunakan mereka untuk salat zuhur berjemaah di masjid secara bergantian. Waktu salat zuhur ini mulai pukul 12.30 dan selesai kira-kira pukul 13.45.

“Penambahan jam untuk kelas I - V hanya fokus untuk ekstrakurikuler atau minat yang telah dipilih masing-masing siswa,” jelasnya kepada Pontianak Post, Rabu (10/8).

Sekolah sengaja tidak mengisi jam tambahan di sekolah dengan materi pelajaran agar tak terlalu membebani siswa. “Anak-anak juga perlu istirahat,” katanya. “Lagi pula, mereka masih membutuhkan waktu santai dan bermain dengan teman sebayanya.”

Jam belajar yang ditambah pada kelas enam pun sejauh ini tidak mendapat respon negatif dari anak-anak dan orang tua. Selama jam tambahan itu pun, mereka tidak melulu mendapatkan materi pelajaran. Para guru dianjurkan untuk memberikan kuis dan permainan kepada anak-anak. Tetapi kuis dan permainan itu tetap dikaitkan dengan pelajaran.

Menurutnya, akan lebih baik jika jam tambahan diberikan untuk ekstrakurikuler sesuai minat siswa. Jadi, pada jam tambahan tersebut, mereka tidak melulu harus serius belajar hingga sore hari. “Itu sah-sah saja karena itu minat mereka sendiri. Mereka yang memilih untuk mengikuti dan mengembangkan minat mereka,” ujarnya.

Dalam wacana full day school, juga dikatakan bahwa konsep tersebut diterapkan untuk penanaman dan pembentukan karakter anak. Meddy berpendapat, pengembangan karakter tidak perlu sampai memaksa anak sekolah hingga sore hari. Pengembangan karakter bisa disisipkan selama jam belajar normal.

Tanpa terasa bel tanda waktu pulang pun berbunyi. Siswa keluar dari kelasnya masing-masing. Sebagian buru-buru menghampiri orang tua mereka yang datang menjemput. Ada juga yang masih menunggu jemputan sambil bermain-main dengan teman-temannya. Amanda dan Zahwa merapikan tas mereka di tangga pintu depan sekolah. Mereka lalu kembali bermain berdua, berlarian di lorong sekolah.

Pontianak Post menghentikan mereka sejenak dan menanyai mereka, apakah mereka mau jika mereka baru bisa pulang sekolah pukul 17.00. Amanda menggelengkan kepala. Kata-kata polos seketika itu pun meluncur dari bibirnya. “Endak. Capek kalau belajar sampai sore,” katanya pelan.

Namun, mereka menggangguk tanda setuju, saat ditanya pendapatnya jika waktu pulang sekolah diundur sampai sore, tetapi hanya diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler yang mereka pilih sendiri. “Kalau ekstrakurikuler mau. Tapi kan endak tiap hari,” tutupnya.(*)

Berita Terkait