Tak Mau Disamakan Gafatar, Bertahan demi Uang yang Digandakan

Tak Mau Disamakan Gafatar, Bertahan demi Uang yang Digandakan

  Rabu, 5 Oktober 2016 10:13
MAKIN SEPI: Suasana kompleks padepokan pascadrama penangkapan Dimas Kanjeng. Banyak pengikut yang pulang ke kampung halaman masing-masing. GUSLAN GUMILANG/JAWA POS

Berita Terkait

Meski tokoh sentralnya ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan dan penipuan, masih banyak pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang bertahan di tenda-tenda. Kebanyakan menunggu pencairan uang yang dijanjikan guru spiritual mereka itu. 

KARDONO SETYORAKHMADI, Probolinggo

MIRIP bumi perkemahan di Cibubur. Kesan itulah yang muncul begitu memasuki kompleks Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur. Terdapat sedikitnya 74 pondok beratap tenda-tenda terpal di lahan 4 ribu meter persegi yang dihuni ribuan pengikut padepokan itu. Ada yang dibangun dengan arsitektur tradisi Bali dan ada yang dimodel seperti pondok bambu. 

Di padepokan itu, ada dua lapangan yang menjadi lokasi tenda-tenda tersebut. Yang satu masih di-police line, dekat dengan rumah Dimas Kanjeng. Seluruh aktivitas para pengikut padepokan pun dipusatkan di deretan tenda di lapangan kedua. Di tempat itulah sekitar 3 ribu orang ’’mondok’’ sementara sambil menunggu pencairan uangnya yang digandakan di padepokan. 

Sebagai pemondokan sementara, tempat itu juga dilengkapi fasilitas umum yang bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari penghuninya. Ada kamar mandi dan WC, masjid besar, serta toko koperasi yang menjual aneka kebutuhan hidup. Ada pula warung makan/kopi yang tersebar di sudut-sudut kompleks.

Menariknya, padepokan juga menyediakan tempat fitness dan panggung hiburan. Mungkin itu dimaksudkan untuk membunuh waktu selama menunggu pencairan uang yang dijanjikan. Maklum, para pengikut yang berdatangan dari berbagai daerah tidak hanya sehari dua hari tinggal di padepokan, melainkan bulanan. Bahkan, ada yang tahunan. Bergantung kesabaran dan kesetiaan mereka terhadap ’’ajaran’’ yang diberikan guru mereka, Dimas Kanjeng. 

Namun, sejak penangkapan Dimas Kanjeng pada Kamis (22/9) yang penuh drama, suasana di padepokan berangsur surut dari keramaian. Bahkan, seminggu setelahnya, suasana di tenda-tenda mulai sepi. ’’Maklum, setelah ada kejadian itu (penangkapan Dimas Kanjeng, Red), banyak yang memutuskan untuk pulang,’’ ucap Sekretaris Urusan Program Padepokan Dimas Kanjeng Hermanto. 

Pada hari-hari sebelum penangkapan Dimas Kanjeng, kata dia, biasanya terdapat sekitar 6 ribu orang yang tumplek blek di tenda-tenda di dua lapangan itu setiap malam. Namun, kini tinggal sekitar 400 orang yang bertahan. 

’’Tempat parkir di sini biasanya tidak bisa nampung kendaraan lagi. Motor atau mobil harus parkir di luar,’’ papar Hermanto. ’’Tapi, saya yakin mereka nanti datang lagi. Lihat situasi,’’ kata Hermanto. 

Tenda-tenda tempat para pengikut Dimas Kanjeng itu sebenarnya merupakan bangunan yang menjadi kunci kekuatan padepokan. Sebab, meski bertumpu pada kemampuan linuwih yang diklaim dimiliki Dimas Kanjeng, kekuatan padepokan tersebut sesungguhnya ada pada para pengikut setianya.

Meski suasana padepokan sempat ramai lagi pada Sabtu malam (1/10) ketika Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Marwah Daud Ibrahim hadir, kemarin (3/10) suasana kembali sepi. Terutama setelah polisi selesai menggelar rekonstruksi pembunuhan Abdul Gani, mantan pengikut Dimas Kanjeng yang diduga dibunuh orang-orang dekat Dimas Kanjeng, Februari silam. ’’Santri’’ yang tinggal di tenda-tenda tinggal sekitar 200 orang. 

’’Tapi, yang ngontrak di rumah-rumah warga masih banyak. Kalau sewaktu-waktu disuruh datang ke padepokan, mereka akan langsung datang,’’ tutur Hermanto. 

Menurut cerita dia, padepokan itu bermula dari musala kecil yang hanya bisa menampung 20-an orang pada 2006. Seiring tersebarnya kabar kesaktian Dimas Kanjeng Taat Pribadi, makin banyak pula pengikutnya. Hingga penangkapan Dimas Kanjeng 22 September lalu, pengikut padepokan diklaim mencapai 23 ribu orang. 

Berdasar penelusuran, padepokan berkembang tidak dari uang gaib yang didatangkan Dimas Kanjeng dalam satu malam, melainkan dibangun tahap demi tahap. Seperti halnya pengembangan organisasi massa yang bertumpu pada banyaknya pengikut. 

Artinya, semakin banyak orang yang datang dan berkumpul, tentu saja perputaran uang di sana akan semakin besar pula. Misalnya, untuk makan saja, kata Hermanto, dalam sehari para pengikut Dimas Kanjeng harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp 30 juta. 

’’Itu baru urusan makan. Belum kebutuhan sehari-hari lainnya,’’ terang dia. ’’Dalam sebulan, perputaran uang di sini bisa mencapai lebih dari Rp 3 miliar,’’ imbuhnya.

Para pengikut setia Dimas Kanjeng yang hingga kini bertahan di tenda-tenda mengaku tidak akan meninggalkan padepokan bila tidak ada perintah dari guru spiritual mereka. ’’Saya tidak akan pergi sebelum ada perintah gaib dari guru saya,’’ kata Nasrudin, warga asal Indramayu yang sudah beberapa bulan tinggal di kompleks padepokan. 

Menurut dia, kesetiaan terhadap sang guru (Dimas Kanjeng Taat Pribadi) sudah harga mati. Bahkan, Nasrudin mengaku tidak akan terpengaruh meski Dimas Kanjeng akhirnya terbukti bersalah dalam kasus pembunuhan dua mantan ’’santri’’ padepokan dan penipuan berkedok penggandaan uang. 

Nasrudin dan pengikut militan lainnya juga mengaku sering diperlihatkan ’’proses” (bagaimana Dimas Kanjeng mendatangkan barang dari alam gaib). Mereka juga mendapat bagian hasilnya. Selama ini orang-orang yang datang di padepokan, selain memberikan sumbangan (mahar), juga memperoleh sesuatu, barang atau uang. 

’’Bahkan, ada satu santri asal Jember yang tiap kali salaman selalu mendapat sesuatu dari Yang Mulia (sebutan pengikut kepada Dimas Kanjeng, Red),’’ papar Hermanto. 

Para pengikut yang mendapat uang/barang dari Dimas Kanjeng biasanya dipilih secara acak. Ada yang mendapat Rp 100 juta, ada yang Rp 5 juta, ada pula yang hanya berupa makanan. ’’Tak bisa dipastikan kapan waktunya pembagian. Bergantung Yang Mulia,’’ terangnya. 

Namun, sumber lain mengatakan, orang-orang yang mendapat pembagian sesuatu dari Dimas Kanjeng itu adalah ’’orang-orang dalam’’ padepokan sendiri. Mereka sengaja disebar di tengah-tengah pengikut yang lain sehingga seolah-olah pembagian itu benar-benar untuk para pengikut yang beruntung. 

Menurut Hermanto, uang yang diberikan tersebut tidak lantas membuat para santri datang semata-mata termotivasi untuk mendapat uang. ’’Sebab, ada persyaratan bahwa jika mendapat uang dari Yang Mulia, yang boleh dipakai untuk kepentingan pribadi hanya 30 persen. Tidak boleh lebih. Jika melanggar, ada akibat gaibnya,’’ ucapnya.

Hermanto menegaskan, para pengikut Dimas Kanjeng umumnya militan. ’’Buktinya, Sabtu malam lalu (1/10) ribuan santri datang. Mungkin karena ada Bu Marwah (Marwah Daud Ibrahim) yang datang bersama anggota komisi III (DPR),’’ ujarnya. 

Kunjungan Marwah Daud tersebut penting, kata Hermanto, karena para pengikut tak ingin disamakan dengan Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara), organisasi masyarakat yang ajarannya dianggap sesat oleh MUI dan kemudian dibubarkan. ’’Karena tidak ada yang sesat dalam ritual yang kami lakukan,’’ ucap Wakil Ketua Padepokan Ibrahim Taju. 

Menurut dia, tudingan MUI bahwa Padepokan Dimas Kanjeng mempunyai ajaran sesat itu adalah tuduhan tak berdasar. ’’Silakan dicek aktivitas harian kami. Adakah ritual-ritual yang melenceng dari Islam?’’ tandasnya. 

Bagaimana dengan salawat fulus? Ibrahim langsung menampiknya. Menurut dia, secara institusional, padepokan tak pernah mengajarkan salawat itu secara resmi. ’’Jika kemudian ada di antara para santri yang mengamalkan, itu urusan santri sendiri. Sama juga di ponpes lain, kadang ada salawat seperti itu. Tapi, itu bukan resmi padepokan,’’ tandasnya. 

Lalu, bagaimana dengan bolpoin laduni dan benda-benda yang diklaim hasil penarikan gaib lainnya? ’’Itu opsional. Tidak diwajibkan kepada para santri. Memang benda-benda itu berasal dari gaib, tapi tidak diwajibkan. Santri mau beli silakan, kalau tidak juga tidak apa-apa,’’ tambahnya. 

Menurut Ibrahim, pemerintah tak bisa turut campur dan kemudian men-judge padepokan itu mengajarkan ajaran sesat. ’’Secara institusi, tak ada hal yang kami langgar. Ajaran yang kami sampaikan tidak ada yang melawan pemerintah. Bahkan, selalu di awal acara kami selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu, kenapa kemudian dianggap seperti pengungsi (Gafatar)?’’ 

Ibrahim mengatakan, harus dipilah antara urusan hukum yang melibatkan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan padepokan. ’’Soal hukum, tentu kami patuh. Tapi, jika kemudian padepokan disangkut-sangkutkan dan dianggap sesat, itu lain ceritanya,’’ tandas dia. (*/c5/c10/ari)

    

Berita Terkait