Tak Lelah Timba Ilmu hingga ke Austria

Tak Lelah Timba Ilmu hingga ke Austria

  Jumat, 12 Agustus 2016 10:38
JAMINAN MUTU: Avip Priatna saat menjadi konduktor konser Simfoni untuk Bangsa di Aula Simfonia Jakarta beberapa waktu lalu. Avip priatna for jawa pos

 
Tangan dinginnya menorehkan banyak prestasi internasional. Bahkan hampir setiap tahun menjadi jawara paduan suara dan orkestra di Eropa. Lewat sekolah musik yang didirikan, lahirlah bibit-bibit musisi klasik tanah air.

GLORIA SETYVANI, Jakarta

Ramah dan senang mengumbar senyum. Itulah kesan yang selalu ditunjukkan Avip Priatna, 53. Tak hanya saat tampil di atas panggung, tapi juga dalam keseharian. Misalnya ketika ditemui di sekolah musik The Resonanz Music Studio miliknya di kawasan Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (8/8). Avip menyambut dengan hangat dan gembira.

”Ayo masuk,” ujarnya mengajak wartawan koran ini duduk di ruang tamu sekolah musik yang cukup besar dan berlantai dua itu. Di sekolah tersebut juga terdapat semacam studio untuk konser kecil orkestra atau paduan suara binaannya.

Bertemu langsung dengan konduktor langganan juara itu mengingatkan akan penampilannya saat memimpin Jakarta Concert Orchestra dan Batavia Madrigal Singers (BMS) dalam konser Hymn of Praise di Aula Simfonia Jakarta akhir tahun lalu. Avip yang saat itu mengenakan suits hitam berada di tengah panggung megah dikelilingi berbagai macam instrumen musik.

Sementara itu, paduan suara berada di level panggung berbeda. Ayunan tangannya menyuguhkan lagu klasik nan memesona. Harmoni dan dinamikanya membuat repertoar panjang tersebut jadi hidup.

Bulan lalu Avip kembali mengantar The Resonanz Children’s Choir (TRCC) menjadi juara umum dalam Claudio Monteverdi International Choral Festival and Competition di Venezia, Italia. Kelompok paduan suara anak-anak binaan sekolah musik miliknya tersebut menang untuk kategori Children’s and Youth Choir.

Itulah kemenangan kali kesekian yang diraih TRCC di berbagai event di lima negara dalam lima tahun terakhir. Mereka pernah menang di Bali (Indonesia), Hongkong, Hungaria, Amerika Serikat, dan Italia. ”Bangga tentu saja. Akhirnya perjuangan kami mendapat apresiasi. Selama ini kami sedih karena banyak yang tidak tahu prestasi yang ditunjukkan anak-anak itu,” ungkap dia.

Nama Avip Priatna selama ini cukup dikenal di dunia musik klasik internasional. Sebab, dia sering membawa kelompok musiknya, baik orkestra maupun paduan suara, konser dan mengikuti kompetisi. Selain dengan TRCC dan BMS, Avip pernah mengantarkan Parahyangan University Choir dan Jakarta Chamber Orchestra memenangi berbagai kejuaraan paduan suara dan orkestra internasional. Pria kelahiran Bogor, 29 Desember 1962, itu juga kerap diminta menjadi juri dalam berbagai kompetisi.

Memang, prestasi yang diukir Avip tidak diraih secara instan. Dibutuhkan perjuangan dan kerja keras sebelum dia mendapatkan satu per satu trofi. Meski bukan dari keluarga musisi, sejak kecil Avip sudah mempunyai kesenangan di bidang yang satu itu. Hal tersebut dia tunjukkan dengan kegemarannya menyaksikan acara musik klasik yang disiarkan TVRI. ”Saya juga nggak tahu kenapa (kok menyenangi musik klasik, Red). Mungkin anugerah Tuhan,” ujarnya lalu tertawa.

Untuk menyalurkan hobinya tersebut, Avip kecil sering meminjam piano temannya. Sampai akhirnya sang ayah tidak tega melihat Avip harus ke rumah temannya untuk bermain piano. Ayahnya lalu membelikan Avip piano sendiri. ”Tapi bukan piano sungguhan. Piano kecil yang mungkin dua atau tiga oktaf,” lanjutnya.

Bermula dari piano mainan itulah, Avip mulai bisa memainkan lagu dengan benar. Padahal, dia belajar secara otodidak dan menggunakan satu jari untuk memencet tuts-tuts piano mainannya. ”Saya lupa lagu pertama yang saya mainkan. Yang jelas lagu daerah.”

Baru saat usianya menginjak sembilan tahun, Avip dimasukkan orang tuanya ke les piano privat. Sejak saat itulah kecintaannya pada musik semakin berkembang. Dia juga mulai sering mengikuti kompetisi piano di Bogor dan kota-kota lain.

Hobi bermusik itu terus dibawa hingga saat kuliah di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung. Avip memilih masuk unit kegiatan paduan suara di kampusnya, Parahyangan University Choir. Pada awalnya, dia berperan sebagai pianis yang mengiringi paduan suara. Namun, kemudian dia dipercaya menjadi konduktor.

Lama-kelamaan Avip semakin jatuh cinta pada harmoni simfoni dari sebuah tim paduan suara yang melantunkan lagu-lagu klasik. ”Di sisi itu, saya merasa masih banyak ilmu yang harus saya pelajari di musik klasik,” tutur pria yang pernah diundang sebagai konduktor tamu pada acara tahunan Orchestra Ensemble Kanazawa (OEK), Jepang, 2006, tersebut.

Pada 1990 Avip menyelesaikan kuliah. Dia lalu bekerja untuk modal sekolah musik di luar negeri. Pada 1992, ketika tabungannya mencukupi, dia memutuskan untuk melanjutkan studi di salah satu sekolah musik ternama di dunia. Yakni Hochschule fur Muzick und Darstellende Kunst di Wina, Austria. Di sekolah tersebut dia menimba ilmu dari dua guru sekaligus, yakni Prof Gunther Theuring pada bidang choir conducting dan Leopold Hager pada bidang orchestral conducting. Dia dinyatakan lulus pada 1998 dengan predikat high distinction.

Semasa di Austria, Avip juga sempat bergabung dengan berbagai paduan suara top. Salah satunya menjadi asisten konduktor untuk Wiener Jeunesse Choir. Dia juga tetap menjalin hubungan dengan kelompok paduan suara almamaternya, Parahyangan University Choir dan BMS. BMS merupakan kelompok paduan suara yang beranggota alumni paduan suara Unpar yang tinggal di Jakarta.

Bersama Parahyangan University Choir dan BMS, Avip menyabet penghargaan di berbagai kompetisi paduan suara internasional. Beberapa di antaranya lomba paduan suara di Arnhem, Belanda (1995); Arezzo, Italia (1997); Linz, Austria (2000); dan International Choir Chamber di Marktoberdorf, Jerman (2003). Mereka juga sering tampil di sejumlah pergelaran musik klasik di Eropa.

Sepulang dari Wina, Avip mulai merambah dunia pendidikan musik klasik. Itulah cita-cita yang sudah lama dia impikan. Maka, dia pun kemudian mendirikan sekolah musik untuk remaja dan anak-anak The Resonanz Music Studio & Entertainment pada 2013. Lembaga pendidikan musik tersebut berpusat di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru.

Kantor sekaligus sekolahnya tersebut sangat besar. Banyak kelas di dalamnya. Ada kelas vokal, kelas musik, dan tidak ketinggalan sebuah ruang pertunjukan lengkap dengan panggungnya.

Sudah mencetak banyak prestasi, Avip merasa belum cukup. Dia masih memiliki mimpi yang lain. Pria yang pernah menjadi konduktor terbaik dalam ajang The 34th International May Choir Competition Prof Georgi Dimitrov di Varna, Bulgaria, Mei 2012, itu ingin menjadi pemenang dalam kompetisi musik klasik tahunan paling bergengsi di Eropa. ”Saya ingin menjadi pemenang di European Grand Prix for Choral Singing. Kalau memungkinkan, tahun ini saya ikut,” tegas dia. (*/c9/ari)