Tak Ingin Kalah dari Dominasi Thailand

Tak Ingin Kalah dari Dominasi Thailand

  Rabu, 14 September 2016 09:30
GO INTERNATIONAL: Dari kiri, Mey Hasibuan, Arie Untung, dan Yurita Puji saat membahas rencana penampilan mereka di Amerika Serikat. | JPG

Berita Terkait

Mey Hasibuan, Diaspora yang Tergerak Pasarkan Produk Kreatif Indonesia di AS

Mulai banyak diaspora yang tertarik untuk mengangkat khazanah budaya tanah air untuk ’’dijual’’ di negara rantau. Seorang di antaranya adalah Mey Hasibuan yang kini tinggal di Amerika Serikat. Pekan lalu Mey membawa desainer Yurita Puji tampil di New York Fashion Week.

MOCHAMAD SALSABYL ADN, Jakarta

Sejatinya, Mey Hasibuan tidak hanya kali ini membawa kain tradisional Indonesia ke AS. Sejak 2010, diaspora (orang Indonesia yang tinggal di luar negeri) berdarah Batak tersebut ikut mengenalkan produk budaya tanah air dengan membuka kelas membatik di pusat kebudayaan Greenville, Negara Bagian Carolina Selatan, AS. 

Sayang, kelas itu hanya berlangsung setahun karena dia harus kembali ke Indonesia. Mey diminta untuk menjadi direktur komersial PT Railink (untuk Bandara Kualanamu, Medan) pada 2012.

Memang, belum apa-apa. Tapi, setidaknya, Mey sudah memiliki niat untuk menyebarkan kekayaan kebudayaan Indonesia di luar negeri. Dan, niat itu kembali muncul setelah tahun lalu dia resign dari perusahaan patungan PT KAI dan PT Angkasa Pura tersebut.

Mey kembali bertekad untuk menggiatkan Gallery of Indonesia, usaha jual beli produk kreatif Indonesia di AS. Kali ini dia berniat mengenalkan produk yang bisa memberdayakan masyarakat lokal dan belum banyak dikenal di dunia internasional.

’’Setelah bicara sana-sini dengan teman-teman, akhirnya saya tertarik untuk mengangkat kain ikat Nusa Tenggara Timur (NTT). Mulai saat itu, saya langsung berburu kain ikat NTT,’’ kata Mey beberapa hari sebelum berangkat ke AS bersama desainer Yurita Puji untuk menampilkan baju-baju modifikasi berbahan kain ikat NTT di New York Fashion Week (NYFW). NYFW dilangsungkan 8 September lalu.

Jodoh tak ke mana. Saat Indonesian Fashion Week Maret 2016, Mey berkesempatan melihat penampilan baju-baju berbahan kain ikat NTT karya Yurita Puji. Diperagakan para model, baju-baju tersebut terlihat sangat eksotis. Hal itu pun menambah semangat Mey untuk membawa kain tradisional warga NTT tersebut ke dunia internasional. Dia lalu mengontak Yurita untuk mewujudkan impiannya itu.

’’Setelah saya ceritakan soal serunya New York Fashion Week, Yurita setuju untuk menampilkan karyanya di pergelaran busana bergengsi itu,’’ jelasnya.

Mey memaparkan, fashion show yang diselenggarakan FTL Moda tersebut bukan event fashion sembarangan. Pergelaran itu memang ditujukan untuk perusahaan-perusahaan fashion guna menunjukkan produk mereka. Bagi desainer yang tampil, event tersebut bisa menjadi peluang untuk menjalin kerja sama dengan buyers (pembeli). 

Karena itu, rancangan Yurita yang mengedepankan busana ready-to-wear (siap pakai) sangat cocok ditampilkan dalam NYFW. ’’Yang jadi masalah, ukuran model di Indonesia dan di AS kan beda. Jadi, Yurita harus membuat lagi baju-baju berbahan kain ikat NTT dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran model AS,’’ jelasnya.

Yurita mengaku cukup kaget menerima kabar harus menyiapkan baju-baju baru dalam waktu singkat. Dia diminta menyiapkan koleksinya dalam dua minggu sebelum dikumpulkan ke pihak penyelenggara. 

Dia harus membuat 12 baju berbahan kain ikat NTT dalam dua pekan. Yurita pun harus mengerahkan seluruh tenaga siang dan malam. Apalagi, 12 baju itu harus bisa mewakili 22 kabupaten/kota di NTT yang punya motif berbeda-beda.

’’Alhamdulillah, saya banyak dibantu Julie Laiskodat, pemilik butik kain ikat NTT,’’ ungkapnya. 

Dan, hari yang ditunggu pun tiba. Rancangan Yurita tampil pada hari ketiga NYFW. Dua belas baju koleksi spring-summer Yurita akhirnya bisa berjalan di runway Kota Big Apple. Respons para penonton –di antaranya para pengusaha fashion– pun sangat menggembirakan.

’’Ini pengalaman pertama saya dan alhamdulillah tim penyelenggara bekerja dengan cepat serta efisien. Saya dan Yurita bangga bisa hadir di NYFW membawa kain otentik dari Indonesia,’’ ungkap Mey.

Tugas berikutnya, Mey harus bisa menjual kain ikat NTT ke dunia internasional. Hal itu pun tidak mudah. Banyak prasyarat yang harus dipenuhi dengan standar internasional. 

Lain Yurita, lain pula Arie Untung. Presenter yang mulai memproduseri film itu akan dibawa Mey ke AS dengan film karyanya. Tidak main-main, Arie bakal mengikuti Festival Film Asia di Atlanta, 7 Oktober nanti. 

Itulah obsesi Mey yang terpendam sejak diboyong keluarganya untuk tinggal di Greenvile pada 2004. Dia ingin kedudukan Indonesia bisa sama dengan negara-negara asing lainnya di tempat tinggalnya kini. Setidaknya, sama dengan negara tetangga Thailand yang sudah dikenal luas oleh masyarakat AS.

’’Kita ini punya nilai budaya dan produk kreatif yang layak dikenal dunia. Tapi, tidak ada yang menyebarkan itu di negara-negara maju seperti Amerika,’’ ungkapnya.

Karena itulah, mulai tahun lalu, Mey mencari produk-produk kreatif yang bisa dikenalkan ke AS. Salah satunya produk sineas dalam negeri. Dia lalu memilih karya-karya yang layak ikut dalam festival film internasional. Namun, upaya tersebut tidak mudah karena Mey tak kenal dengan kalangan sineas Indonesia.

’’Saya sempat mencoba mendaftarkan film Indonesia untuk festival film di New York lewat kenalan saya. Tapi, tidak ada respons,’’ ungkapnya.

Baru pada 2016 Mey mendapat agenda festival film yang pas dengan misinya, yakni mengedukasi keberagaman masyarakat Asia. Festival yang dimaksud adalah Atlanta Asian Film Festival (AAFF). ’’Selama ini festival itu tidak pernah diikuti sineas Indonesia. Yang biasanya masuk film dari Jepang dan Korea,’’ tuturnya.

Di sinilah akhirnya Mey bertemu dengan Arie Untung yang memproduseri film 3 pada 2015. Arie pun setuju menerima ajakan Mey untuk mengikuti AAFF 2016. Memang, selama ini Arie mengaku bahwa film aksi garapan sutradara Anggy Umbara itu sudah beberapa kali ikut festival film di luar negeri.

’’Tapi, memang biasanya untuk mendaftar saja susah. Karena kadang-kadang e-mail dari kami tidak diterima atau sebaliknya,’’ kata Arie.

Karena itulah, dia bersyukur ada tawaran dari Mey yang bersedia membantunya mengikuti AAFF 2016. Pasalnya, festival film internasional punya peran penting dalam mengangkat martabat karya sineas Indonesia setara dengan karya film asing lainnya. 

’’The Raid bisa dihargai karena sebelum ditayangkan di Indonesia mereka masuk ke festival film asing,’’ tandas suami Fenita Jayanti itu. ’’Doakan kami lancar semua,’’ pintanya.

Mey masih memiliki satu impian lain yang juga akan dibawanya ke Negeri Paman Sam. Yakni, mengangkat makanan khas Indonesia. Menurut dia, kuliner Indonesia punya potensi menjadi makanan favorit internasional. Tidak kalah oleh makanan Thailand yang lebih dulu mendunia. 

’’Saya pernah menjual kerupuk dan nastar di sana. Laris manis. Banyak yang suka,’’ kenangnya.

Sayang, upaya membawa kuliner Indonesia di AS tidaklah mudah. Regulasi di AS mengenai penjualan makanan sangat ketat. ’’Karena itu, sementara ini saya fokus membawa produk kreatif berupa kain tradisional dan film Indonesia lebih dulu. Makanannya belakangan,’’ tandas Mey. (*/c5/ari)

Berita Terkait