Tak Hanya di atas Kertas, Mereka juga Turun ke Lapangan

Tak Hanya di atas Kertas, Mereka juga Turun ke Lapangan

  Minggu, 28 Agustus 2016 10:28
JURNALISME WARGA: Sebanyak 27 perempuan yang menjadi peserta jurnalisme warga, usai mengikuti pelatihan sejak Kamis (25/8) dan ditutup kemarin (27/8) di Harris Hotel Pontianak. ISTIMEWA

Berita Terkait

​UNDP, REDD+, bersama Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar, mengumpulkan 27 perempuan jurnalis warga di Harris Hotel Pontianak. Mereka digembleng untuk mengikuti Training Lanjutan Peningkatan Kapasitas Jurnalis Warga Sadar Lingkungan, 25 – 27 Agustus. Para perempuan ini merupakan warga aktivis perwakilan dan masyarakat peduli api dari berbagai kabupaten dan kota di Kalbar.

ANDRI JANUARDI, Pontianak

MESKI mereka perempuan dan bukan jurnalis sungguhan, tapi soal meliput, mereka tidak kalah. Itu terlihat saat rombongan 27 jurnalis warga ini dipecah dalam beberapa kelompok, untuk meliput sisa kebakaran lahan di pinggiran Jalan Parit H Husin II, Kecamatan Pontianak Tenggara, Jumat (26/8). 

Berbekal peralatan seadanya, mereka merekam lahan yang telah rata karena terbakar sehari sebelumnya. Seperti jurnalis sungguhan, mereka mewawancarai siapa pun yang dijumpai di sekitar tidak jauh dari lokasi yang mereka sasar. Bahkan mereka juga memvideokan serta memfoto objek-objek yang mereka jumpai.

Syofiardi Bachyul Jb, tutor para jurnalis warga tersebut bahkan kagum dengan hasil liputan mereka. Bahkan secara gamblang, jurnalis Jakarta Post tersebut menilai bahwa hasil karya jurnalistik para peserta pelatihan, cukup layak untuk ditampilkan di media-media cetak dan elektronik. Padahal, perempuan-perempuan ini baru saja diperkenalkan dengan teknik penulisan berita. Meskipun ada juga di antara sebagian mereka telah digembleng untuk mengenal ilmu 5 W plus 1 H (what, why, where, when, who, dan how). Mereka diajak untuk membuat berita, sesaat setelah kegiatan dibuka Boy Manuputty dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar. 

Tak cukup sampai di situ, keesokan harinya mereka juga diajak untuk melihat lokasi kebakaran lahan di Jalan Parit H Husin II. Di sana mereka diajak untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai narasumber yang dijumpai. Beruntung sisa hujan sehari sebelumnya menjadikan lahan sisa hasil kebakaran tersebut sedikit jinak. Padahal, jika tidak, bisa saja para jurnalis warga ini harus berjibaku dengan gumpalan-gumpalan asap yang muncul dari areal gambut tersebut.

Mereka bahkan sempat dikejutkan oleh kemunculan api yang hadir secara tiba-tiba. Api yang terbilang kecil itu kemudian dijinakkan dengan cukup menginjak-injaknya. Momen yang satu ini tentu saja menjadi pemandangan menarik buat perempuan-perempuan tersebut, untuk kemudian diabadikan dalam video mereka. Tidak ada kelelahan di wajah mereka, meski harus memasuki areal perladangan di atas hamparan gambut. “Semua asyik, liputannya jadi mengasyikkan,” aku Shikal, salah satu peserta.

Perempuan-perempuan ini bahkan mengibaratkan liputan mereka seperti wisata gambut. Mereka harus melintasi lahan yang labil tersebut dengan dikawal petugas dari Unit Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Setidaknya luasan lahan yang terbakar tersebut mencapai hampir 3 hektare di kawasan yang tidak jauh dari pinggiran Kota Pontianak. 

Nurul Hidayah dari UNDP mengungkapkan bahwa mereka ini sengaja dikader untuk menjadi jurnalis warga. Para peserta ini diharapkan dapat melaporkan berbagai macam kejadian menyangkut lingkungan yang terjadi di sekitar mereka. Mereka, menurut dia, bisa memanfaatkan laman fesbuk, untuk memberitakan sesuatu. Diakui dia bahwa keterlibatan masyarakat dalam upaya kampanye dan pencegahan kebakaran lahan dan hutan di provinsi ini sangat penting dilakukan. Salah satu cara, diungkapkan dia kembali, adalah dengan mendorong aktivitas jurnalis warga. Dia menilai peran jurnalisme warga sangat penting dan efektif, untuk memengaruhi masyarakat, lantaran dilakukan oleh warga sendiri untuk memublikasikan aktivitas di lingkungannya.

Menurutnya, para peserta ini nantinya akan dimonitoring secara online melalui group whatsapp, untuk terus berkarya guna mempraktikkan ilmu jurnalistik yang mereka dapat. Namun, diakui dia juga bahwa para jurnalis warga tersebut terbentur kendala keterbatasan tempat dalam aplikasi serta fitur. Menurutnya, tidak semua peserta mempunyai aplikasi whatsapp, keterbatasan pengetahuan, dan keterampilan dalam hal membuat berita melalui teknik pengambilan foto dan video secara sederhana.

Dengan kendala-kendala tersebut, menurut dia, perlu adanya strategi atau alternatif lain, guna memaksimalkan kanal komunikasi yang sudah ada. Dia berharap, melalui peningkatan kapasitas jurnalis warga tersebut, para peserta akan didorong untuk rajin mengisi media social, dengan mengangkat isu lingkungan dan pencegahan kebakaran lahan dan hutan. Keberadaan media social diharapkan dia, bisa dijadikan proses pembelajaran antarpeserta, untuk saling mengabarkan aktivitasnya. Di samping itu, tentu saja menjadi media control bagi pemerintah, dalam rangka menjaga lingkungan dan upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan. (*)

Berita Terkait