Tak Cuma Diajari Hafalan Ayat, tapi Juga Life Skill

Tak Cuma Diajari Hafalan Ayat, tapi Juga Life Skill

  Rabu, 29 June 2016 09:30
TELATEN: Sarmini di tengah para santri di Markaz Utrujah Quran, Jakarta Timur (13/6). Khafidlul Ulum/Jawa Pos

Berita Terkait

Berawal dari keberhasilan menjadikan anaknya penghafal Alquran di usia 7,8 tahun, metode Sarmini lantas banyak diminati dan diadopsi di berbagai penjuru negeri. Dia mengajar dengan cara talqin: dibacakan, kemudian siswa diminta menirukan. 

KHAFIDLUL ULUM, Jakarta

DI rumah dua lantai itu, tak ada pekerjaan rumah yang tak beres. Mulai bersih-bersih, mencuci, sampai memasak. Masing-masing ada yang mengerjakan. Tanpa berusaha melemparkannya ke teman. Bukan semata karena penghuninya banyak, sekitar 40 santri putri. Tapi karena kedisiplinan dan tanggung jawab itu ditanamkan. 

Misalnya yang terlihat Senin dua pekan lalu (13/6) itu. Para santri dengan terampil mengerjakan rangkaian dari memasak. Di antaranya memotong sayur, membersihkan bawang, atau menggoreng. ”Jadi, kami tak hanya mengajarkan hafalan Alquran di sini, tapi juga life skill,” kata Sarmini.

Mereka merupakan para santri Sarmini, pendiri Markas Quran Utrujah. Ada tiga rumah di lokasi padat penduduk itu yang digunakan sejak 2013. Rumah dua lantai tadi untuk asrama santri. Dua rumah lainnya untuk tempat tinggal Sarmini, para ustazah, dan pemilik rumah.

Penamaan Markas Quran Utrujah juga berbarengan dengan pindahnya Sarmini ke Kampung Rambutan. Utrujah diambil dari salah satu hadis Nabi SAW, yaitu jenis buah yang enak rasanya dan harum baunya.

Nama Sarmini mulai dikenal sebagai pencetak hafiz dan hafizah atau penghafal Alquran jauh sebelum Markas Quran Utrujah berdiri. Persisnya ketika dia masih tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur, bersama sang suami Hari Susanto dan anak-anaknya serta mengajar di Ma’had Umar bin Khattab Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). 

Mulai tinggal di Kota Petis itu pada 2010, sekitar setahun berselang, anak pertamanya, Saudah Tsabitah yang baru berusia 7,8 tahun, berhasil menghafal 30 juz. ”Saya selalu membacakannya Alquran sejak dia lahir,” kata perempuan kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, pada 28 Agustus 1975 itu. 

Saudah lahir di Sudan pada 2004 ketika Sarmini berkuliah S-2 jurusan pengajaran bahasa Arab untuk orang asing atau non-Arab di Khartoum International Institute of Arabic Language. Begitu pula anak keduanya, Atikah Madaniya, saat Sarmini melanjutkan pendidikan ke jenjang S-3 di perguruan tinggi yang sama. 

Untuk Saudah, kadang Sarmini juga memutar kaset yang berisi tilawah Alquran. Ketika menginjak usia 2,5 tahun, si kecil sudah diajari huruf hijaiah dan mengenal tulisan Arab. Tiga tahun kemudian Saudah dididik menghafal Alquran. Yaitu dengan cara ditalqin. Dibacakan, kemudian anak diminta menirukan. Dimulai dari juz 30. Proses talqin dilakukan secara bertahap. Ayat per ayat, tapi kadang hanya setengah ayat jika ayatnya cukup panjang. Setelah dibacakan beberapa kali, sang anak diminta menirukan sampai hafal.

Ketika sudah hafal satu ayat, pindah ke ayat selanjutnya. Begitu seterusnya hingga anak itu hafal satu halaman Alquran. Saat sudah hafal satu halaman, Saudah sudah bisa menghafal tanpa proses talqin. Dia sudah mempunyai cara sendiri untuk menghafal. Saudah kemudian diminta setor hafalan setiap pagi. Dan mengulanginya pada siang dan sore hari. Jadi, ayat yang sudah dihafal akan tetap terjaga dan tidak terlupa. Jadilah pada usia 7,8 tahun Saudah sudah berhasil hafal 30 juz. 

Keberhasilan Saudah menjadi hafizah di usia sebelia itu ternyata menarik minat beberapa rekan Sarmini. Sarmini tak berkeberatan. Dia pun menerapkan metode yang telah dipakai ke tiga anak rekannya yang belajar kepadanya.

Namun, pada 2011 Sarmini dan keluarganya harus pindah ke Jakarta. Dia diterima menjadi pengajar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Saat pindah ke ibu kota itu, dia mengajak tiga mahasiswi Ma’had Umar bin Khattab Umsida. ”Mereka saya minta untuk bantu saya (mengajar Alquran, Red),” ucap dia.   

Belum lama tinggal di Jakarta, ada sekitar lima anak yang belajar Alquran darinya. Ibu empat anak itu pun menerapkan kurikulum yang sudah diterapkannya kepada anak-anaknya. Dengan dibantu tiga ustadah, dia dengan telaten mengajari para siswa. Setiap anak bergantian ditalqin. Setelah dibacakan, siswa tersebut kemudian diminta menirukan sampai hafal. 

Metode talqin digunakan untuk menjadikan anak fokus pada pendengaran. Tentu kemampuan anak berbeda-beda. Jika sudah bisa hafal satu halaman, siswa akan dilepas dan tidak ditalqin lagi. 

Untuk memudahkan proses pengajaran, Sarmini pun membagi dua kelas. Yaitu kelas mentoring untuk yang belum hafal satu halaman dan kelas mandiri yang sudah hafal satu halaman. Anak yang masuk kelas mandiri sudah mempunyai cara sendiri dalam menghafal dan memiliki target sendiri. Misalnya, dalam sehari dia bisa setor satu halaman. 

Anak yang belajar di rumah Sarmini pun semakin banyak. Hanya dalam beberapa bulan, siswanya sudah mencapai 15 anak. Saat itu dia tinggal di rumah kontrakan berukuran 5 x 6 meter di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Dia mengontrak dua kamar. 

Setelah banyak anak yang belajar di rumah itu, Sarmini menyewa satu kamar lagi. Siswa tersebut juga menetap di rumah Sarmini. Mereka banyak berasal dari luar Jakarta. Misalnya Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Jogjakarta, dan Kalimantan Timur. ”Mereka mendapat informasi dari mulut ke mulut. Banyak yang anak teman saya,” kata perempuan yang punya hobi traveling itu.

Walaupun tinggal di rumah kontrakan, para siswa tetap bersemangat. Orang tua siswa juga percaya dengan Sarmini. Semakin hari siswa yang mendaftar bertambah banyak. Akhirnya dia pun menerima tawaran seorang teman untuk pindah ke rumah yang ditempati kini bersama para santri di Kampung Rambutan. 

Setahun di sana, Markas Quran Utrujah menggelar wisuda perdana untuk siswa angkatan pertama sebanyak 15 siswa. Dalam usia belia, mereka sudah hafal Alquran. Ada yang dalam waktu 10 bulan sudah hafal 30 juz. Padahal, rata-rata mereka masih berusia 6 , 7, 8, dan 9 tahun. Yang paling kecil berusia 6 tahun.

Seusai wisuda perdana, semakin banyak siswa yang mendaftar. Namun, ujar Sarmini, pihaknya tidak bisa menerima banyak siswa. Sebab, tenaga pengajarnya terbatas. Hanya enam orang. Karena itu, banyak yang akhirnya masuk waiting list. ”Yang waiting list sampai 50 orang,” ucapnya. 

Seleksi masuk Markaz Quran Utrujah memang ketat. Calon siswa harus mampu membaca Alquran dengan lancar dan pernah satu kali khatam Alquran. Setelah wisuda pertama itu, Sarmini kemudian mendirikan Markaz Quran Utrujah untuk siswa laki-laki yang berlokasi tidak jauh dari tempat santri perempuan. Saat ini siswa di setiap tempat itu sekitar 40. Para siswa berasal dari berbagai daerah: Jawa Timur, Jogjakarta, dan Kalimantan Timur.

Selain menghafal Alquran, para siswa diajari bahasa Arab. Juga life skill alias keterampilan untuk menunjang hidup mereka kelak. Yang terlihat Senin siang dua pekan lalu itu misalnya. Beberapa santri tampak mengangkat keranjang besar yang berisi pakaian basah. 

Ada dua keranjang baju. Setiap keranjang diangkat dua santriwati. Pakaian basah itu lantas dibawa ke jemuran. Mereka hanya dilibatkan dalam menjemur, sedangkan mencuci pakaian dengan mesin dilakukan sendiri oleh ustadah yang bertugas mencuci. Saat waktu mendekati salat Duhur, para santri sudah selesai menjemur pakaian. Mereka kemudian mengembalikan keranjang baju dan bergabung dengan santri lain untuk menunaikan salat berjamaah. 

Kartika Sari, salah seorang wali siswa, menyatakan, banyak kelebihan yang dimiliki Markaz Quran Utrujah. ”Anak diajari tanggung jawab walaupun masih kecil,” ujar dia. 

Hasilnya, anak-anak jadi cepat mandiri dalam menghafal. Dia memberi contoh anaknya, Aisyah Tsamroh, yang baru dua tahun mondok di tempat itu. ”Dia jadi dewasa dan bertanggung jawab,” katanya.

Karena menghafal Alquran membutuhkan fisik yang prima, makanan untuk para santri juga sangat diatur. Siswa tidak boleh membeli jajan di luar. Hanya saat hari libur mereka boleh beli jajan. Itu pun dibatasi hanya Rp 10 ribu. 

Setiap siswa selalu diberi makan sayuran. Mereka juga dibatasi untuk makan gorengan. Daging ayam yang dipilih tidak sembarangan. Harus daging sehat yang tidak disuntik hormon. Utrujah mempunyai langganan khusus dengan harga yang lebih murah.

Karena kemampuan para siswanya, para santri Utrujah pun pernah diundang untuk mengisi acara di salah satu stasiun TV nasional. Mereka diminta menunjukkan kebolehan menghafal Alquran. Para siswa bergantian memperlihatkan kemampuan. Jadilah Utrujah pun semakin berkibar. Lembaga pendidikan dari berbagai daerah pun datang untuk studi banding. Dalam sebulan setidaknya ada dua lembaga yang datang. 

Banyak sekolah yang kemudian mengadopsi dan memakai nama Utrujah. Antara lain di Samarinda, Jogjakarta, Malang, dan Depok. Yang mengadopsi kurikulum saja tanpa nama terdapat di Sidoarjo, Mojokerto, dan Gresik. 

Sarmini juga menjadi konsultan di banyak sekolah Islam. Dia juga semakin sibuk mengisi seminar Alquran di berbagai wilayah. Misalnya di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sumatera, Aceh, Riau, Bengkulu, dan Lampung. Sarmini juga menulis buku dengan judul Alhamdulillah Balitaku Khatam Alquran. Buku kedua sedang dikerjakan. ”Saya ingin terus mengembangkan lembaga pendidikan hingga punya SMP sampai SMA,” katanya. (*/c9/ttg)

 

Berita Terkait