Tak Boleh Beredar, Malah Dibuat Bakso

Tak Boleh Beredar, Malah Dibuat Bakso

  Jumat, 13 May 2016 09:24

Berita Terkait

SANGGAU-Daging merk Allana diketahui belum memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Keberadaannya sendiri masih dalam pengawasan ketat Pemerintah Indonesia. Sejauh ini, daging yang masih diharamkan ini belum diperbolehkan beredar dan dikonsumsi di Indonesia.

Di wilayah Kabupaten Sanggau, pihak Kepolisian Resor Sanggau sendiri telah beberapa kali melakukan penyitaan terhadap daging merk ini. Modusnya beragam, ada yang menjual dengan dicampur daging sapi, sehingga sekilas seperti umumnya daging sapi.

Rabu (11/5) kemarin, kepolisian kembali memngungkap kasus terkait dengan daging merk Allana ini. 

Polres Sanggau bersama dengan Polsek Sekayam melakukan penindakan disalah satu rumah warga yang berada di Jalan Temenggung Gergaji Nomor 35 Rt 004 di Desa Balai Karangan 3 Kecamatan Sekayam.

Sekira pukul 19.00, rumah yang ditinggali pria berinisial MR tersebut didatangi polisi. Yang bersangkutan sedang melakukan menggiling daging dengan merk Allana untuk dibuat menjadi bakso. Dari rumah tersebut juga didapati sekira 7 kilogram daging merk Allana yang sudah diolah menjadi bakso.

“Kurang lebih 7 kilogram sudah diolah menjadi bakso. Sisanya sekira 21 kilogram. Yang 21 kilogram itu dalam keadaan beku berbentuk potongan daging dalam ukuran besar,” ungkap KBO Reskrim, Ipda Rahmad Kartono, Kamis (12/5).

Dari pengakuan MR, daging tersebut didapatkan dari seseorang berinisial ME yang juga warga di Balai Karangan. Sebagai barang bukti, kepolisian menyita empat kotak daging merk Allana masing-masing kotak berisi 28 kilogram dengan harga Rp2 juta. 

“Perkilogram daging merk ini sekira Rp71.500. Perbandingannya, harga sapi saat ini dikisaran Rp120 ribu. Kami akan proses sesuai dengan LP/77/V/2016/Reskrim tertanggal 11 Mei 2016 dan akan dikembangkan untuk mencari pelaku yang menyuplai masuk daging ini ke Indonesia,” terangnya.

Setelah melakukan pengungkapan, pihaknya kemudian melakukan koordinasi kepada Kantor Karantina Hewan. Dari hasil koordinasi itu diketahui bahwa daging tersebut bukan daging sapi melainkan daging kerbau atau banteng dari India yang terdeksi mengandung virus antraks.

“Sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Karenanya, masyarakat harus lebih waspada berkenaan dengan temuan ini. Daging ini memang dilarang keras oleh pemerintah,” tegasnya.

Kepada warga di perbatasan, dia meminta agar turut mengawasi peredaran daging yang tidak bersertifikat halal ini. Selain itu, dia mengingatkan agar jangan ada yang coba-coba untuk menjadi penyuplai atau penjual daging tersebut semata-mata kepentingan bisnis. Pihaknya tidak akan segan menindak pelaku usaha yang dengan sengaja masih menjual daging ini.

“Saat ini, pelaku kami sangkakan dengan Tindak Pidana Perlindungan Konsumen UU nomor 8 Tahun 1999. Kemudian, UU Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan dan UU Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan,” ujarnya. (sgg)

Berita Terkait