Tak Beri Efek Jera, Masih Ada Siswa Bawa Sepeda Motor

Tak Beri Efek Jera, Masih Ada Siswa Bawa Sepeda Motor

  Selasa, 11 Oktober 2016 09:30
RAZIA: Dishubkominfo Kota Pontianak merantai puluhan motor pelajar di SMPN 16, Senin (10/10). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Kota Pontianak terus melakukan razia terhadap pelajar di bawah umur yang mengendarai sepeda motor ke sekolah. Meski sudah sering dilakukan sejak September lalu, sampai saat ini masih ada saja yang melanggar. 

Seperti yang terjadi di SMPN 16, Jalan RE Martadinata, Pontianak Barat, Senin (10/10) pagi. Untuk pertama kalinya Dishubkominfo melakukan razia di sekolah ini. Dari temuan di beberapa titik sekitar sekolah, hasilnya sekitar dua puluh lebih sepeda motor berhasil diamankan dan dirantai. 

Kendaraan tersebut tak akan dikembalikan hingga orang tua siswa datang langsung mengambil ke sekolah. Sekaligus menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. 

Salah satu pelajar yang terjaring, Mega mengaku sudah tahu adanya larangan pelajar di bawah umur membawa kendaraan bermotor. Namun siswa kelas IX ini beralasan, jika diantar orang tuanya ia malah sering terlambat. 

Selain itu pernah juga ia pergi ke sekolah dengan sepeda. Tapi ia merasa sangat kelelahan, sebab lokasi rumah dan sekolahnya cukup jauh. “Rumah saya di dekat jembatan Nipah Kuning, batas Kota Pontianak. Bawa motor juga kadang-kadang, tergantung diantar atau tidak,” katanya.

Kepala SMPN 16 Pontianak, Elly Utarie Yuniar menerangkan, pihak sekolah sudah sering memberikan sosialisasi. Hampir setiap apel Senin hal ini terus diingatkan. Bahkan baru seminggu lalu diagendakan pertemuan dengan orang tua murid kelas IX. Membahas hal tersebut. 

Karena itu ia sangat menyayangkan masih adanya siswa yang membawa kendaraan. Apalagi yang dirazia ini banyak juga siswa perempuan. “Perhatian kami memang pada siswa lelaki, kaget juga ternyata banyak yang perempuan. Padahal waktu pertemuan dengan orang tua murid, mereka menyanggupi anaknya tidak akan membawa motor,” terangnya.

Menurut Elly, dari awal ia menjabat kepala sekolah di sana, pihaknya sudah memberikan larangan penggunaan sepeda motor kepada seluruh siswa. Sampai-sampai, pemilik lahan di depan sekolah yang menyediakan lahan parkir sempat komplain. 

“Tidak kurang 200 motor parkir di sana, namun kini sudah tidak ada lagi. Mungkin dia komplain karena merasa pendapatannya berkurang. Kami sudah tawarkan untuk memfasilitasi bikin kantin di sekolah, tapi mereka tidak mau,” jelasnya. 

Ditemui di lokasi, Kepala Dishubkominfo Pontianak, Utin Sri Lena mengatakan sejak dirazia, jumlah siswa yang berkendara sepeda motor berkurang drastis. Dia menyebutkan misalnya di SMPN 12 dan SMPN 9. Di Gang-gang sekitar sekolah tersebut tidak ada lagi ditemukan parkiran kendaraan siswa. 

“Masih ada tapi jumlahnya jauh berkurang, kami juga sempat hentikan razia untuk melihat perkembangannya, sekarang gencar lagi, ada juga sekolah yang sudah tidak ada sama sekali,” ucapnya. 

Untuk pelajar di SMPN 16, dikatakan dia lokasi parkir tersebar di sejumlah titik. Tak hanya di pekarangan warga dalam gang, tapi juga warung-warung internet.

“Penyedia parkir yang hari ini kami ambil KTP-nya, kita laporkan. Sebelumnya mereka tanda tangan surat pernyataan tidak akan lagi menyediakan parkir, terbukti tidak ada lagi yang berani. Mereka bisa ditipiring karena menyediakan lahan artinya ada subahat,” terangnya.

Pihaknya juga rutin melakukan pengawasan secara diam-diam. Sebagian besar alasan siswa yang masih melanggar menurutnya antara lain karena orang tuanya tidak bisa mengendarai motor, orangtuanya sibuk bekerja seperti nelayan ke laut, bahkan ada yang berasal dari Kubu Raya.

“Tapi kan sejauh-jauhnya Pontianak ini masih bisa ditempuh dengan sepeda. Saya rasa sepeda alternatif pertama. Jika menunggu bus, Insyallah bulan Desember baru akan dapat lima unit, sisanya tahun depan, itu akan diutamakan untuk pelajar,” tambah Utin.

Sementara untuk para orang tua siswa yang terjaring razia diminta hadir ke sekolah untuk membuat surat pernyataan. Alamat mereka didata dan awasi. Usai usaha pembinaan ini, jika terjadi pelanggaran sebanyak dua kali, selanjutnya akan dilakukan penindakan oleh Satlantas. 

“Jika masih saat menuju sekolah mereka bisa langsung dirazia, ditilang dibawa ke Polresta,” pungkasnya.(bar)

Berita Terkait