Tak Ada Magi Bagi Atleti

Tak Ada Magi Bagi Atleti

  Kamis, 7 December 2017 10:00
Ribut : Pemain Chelsea dan Atletico Madrid terlibat keributan diantara Antoine Griezmann yang jatuh dilapangan, hingga ditengahi wasit Danny Makkelie pada matchday keenam Liga Champions di Stadion Stamford Bridge, London.(6/12) Reuters/Tony O'Brien

Berita Terkait

LONDON – Dalam lima musim terakhir perjalanan Atletico Madrid di Liga Champions sangat berwarna. Pernah dua kali masuk final, 2013-2014 dan 2015-2016,  namun sayangnya tak satu pun berakhir dengan kemenangan. Atleti selalu tersungkur di tangan sang tetangga, Real Madrid. 
Namun musim ini prestasi Atleti terjun bebas. Los Colchoneros kalah bersaing dengan AS Roma maupun Chelsea di grup C. Atleti hanya menempati posisi tiga klasemen akhir grup C. Hal itu berarti Atleti harus menerima takdir 'ditransfer' ke kompetisi level kedua, Europa League.
Dalam matchday keenam Liga Champions kemarin (6/12) di Stamford Bridge, Atleti yang butuh kemenangan atas tuan rumah Chelsea malah tertahan dengan skor 1-1. Sedangkan Roma yang menjamu FK Qarabag di Stadion Olimpico berhasil menang 1-0. 
Tersisih di fase grup ini cukup menyesakkan entrenador Atleti Diego Simeone. Lihat saja, bagaimana Simeone berkomentar sinis akan kelolosan Gialorossi ke babak 16 besar Liga Champions ini. 
“Kenyataan ini menyakitkan melihat bagaimana sepak bola bisa berakhir seperti ini. Kami tereliminasi setelah kami mengambil poin dari tim teratas dibanding (tim lain) mengambil poin dari yang terbawah!,” ucap Simeone setelah pertanduingan kepada UEFA. “Kami tak akan mencari pemakluman dan mengambil tanggung jawab ini,” tambah pria berusia 47 tahun itu. 
Simeone memang belum terima kalau keajaiban tak terjadi di Stamford Bridge maupun Stadion Olimpico. Dalam imaji bapak empat anak itu, matchday keenam grup C seharusnya akan berakhir dramatis buat Atleti. Yakni Atleti menang atas Chelsea lantas Roma kalah oleh Qarabag. 
“Namun meski saya merasa kami dalam situasi yang buruk, kami akan tetap berkompetisi dengan sekuat tenaga di La Liga, Copa del Rey, dan Europa League,” tutur Simeone. 
Pada pertandingan kemarin, Atleti sebetulnya unggul lebih dahulu melalui gol Saul Niguez pada menit ke-56. Sayangnya bunuh diri bek Atleti Stefan Savic (75') mengubur asa tiga poin mereka. 
Nah, sesungguhnya bukan kali ini saja Atleti menemui kenyataan kalau mereka ditransfer ke kompetisi yang lebih rendah levelnya. Pada musim 2009-2010 lalu, Atleti yang duduk di posisi tiga grup D. Atleti dengan poin tiga ada di bawah, sekali lagi Chelsea (14 poin), dan FC Porto (12 poin). 
Namun pindah jalur itu malah memberikan berkah. Atleti yang terakhir juara di level Eropa saat menyabet European Cup Winners' Cup 1961-1962 lalu, pada musim 2009-2010 mereka juara Europa League buat pertama kali. 
Kiper Atleti Jan Oblak seperti diberitakan Marca masih tertohok dengan kenyataan ini. Kiper Slovenia itu padahal di laga kemarin melakukan banyak penyelamatan gemilang. Oblak melakukan delapan penyelamatan penting bagi Atleti. 
“Rasanya belum percaya kalau kami tersisih dari Liga Champions setelah apa yang kami lakukan sejauh ini. Bermain di luar Liga Champions memang bukan tujuan kami, namun kami harus melakoninya saat ini,” tutur kiper berusia 24 tahun itu kepada Mega. 
Disinggung soal performa individunya yang ciamik, Oblak disebut sebagai pahlawan. Mungkin kalau bukan Oblak yang ada di bawah mistar gawang, Atleti mungkin saya kalah oleh The Blues. 
“Semua bekerja keras pada pertandingan ini. Normal jika pada satu pertandingan seseorang bermain cemerlang, namun ini olahraga tim dimana 11 pemain di lapangan plus cadangan dan ofisial berada dalam tanggung jawab yang sama,” kata Oblak merendah. (dra)
 

Berita Terkait