Tahu Psikolog, Minta Diramal

Tahu Psikolog, Minta Diramal

  Selasa, 29 March 2016 10:28

Berita Terkait

Rika Indarti, M. Psi, Psikolog menikmati betul profesinya. Sebagai psikolog industri, dirinya sudah bekerjasama dengan ratusan perusahaan terkait rekrutmen pegawai. Rika juga kerap menjadi pembicara maupun sebagai narasumber di media. Salah satunya di Rubrik For Her Pontianak Post.

Oleh : Marsita Riandini

Banyak orang menuliskan impiannya sedari kecil, kelak ketika dewasa ingin menjadi apa. Impian tersebut didukung dengan masuk ke sekolah ataupun perguruan tinggi terkait. Tetapi ada pula yang masih belum tahu ingin menjadi apa, kendati ia akan menginjak bangku kuliah. 

Begitu pula yang dirasakan oleh Rika Indarti saat bercerita kepada For Her. Ia bahkan sempat salah masuk jurusan. “Lulus SMA saya ingin kuliah di Jawa, tetapi tidak tahu mau ambil apa. Waktu itu tidak ada tes minat dan bakat, jadi hanya ikutan teman. Ambillah jurusan biologi di Unpad. Kok merasa tidak enjoy, tidak sesuai dengan diri. Tahun 1999 saya coba lagi UNPTN, tes minat dan bakat, ternyata memang cocoknya psikologi. Diterimalah di Universitas Diponegoro,” ucap lulusan Magister Profesi Psikologi di Universitas Indonesia ini. 

Menjalani hari-harinya di Fakultas Psikologi, membuat wanita 36 tahun ini senang.“Alhamdulillah setelah menjalani sesuatu yang disukai, ternyata menyenangkan. Waktu SMA dulu, saya inginnya kuliah yang setelah lulus bisa buka lapangan kerja sendiri. Jadi tidak bergantung orang lain. Khan mencari kerja susah,” papar dia. 

Seiring waktu, Rika menyadari bahwa profesinya ini tetap saja membutuhkan orang lain. Sebab psikolog memang berkaitan dengan orang banyak, baik itu dari prilaku, sikap, maupun masalah yang dihadapi. “Pikologi itu menarik, karena setiap vase perkembangan, bidang pekerjaan, berhubungan dengan manusia. Ilmu psikologi tak hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri. Bagaimana mengendalikan emosi dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi,” jelas istri Tri Budi Meirani ini. 

Pulang ke Pontianak sekitar tahun 2004, bersama dua psikolog yakni Romi Arif Rianto dan Yulia Ekawati Tasbita, Rika mendirikan biro konsultasi psikologi yang diberi nama Persona Consulting. “Tahun 2004 belum banyak orang di Pontianak yang memahami profesi psikolog. Saya sama Mba Yulia itu keliling seperti sales untuk mengajak kerjasama. Seperti ke sekolah-sekolah terkait tes minat dan bakat. Ke kantor-kantor tentang rekrutmen karyawan. Jadi bukan sekadar menawarkan saja, tetapi sekaligus menyosialisasikan apa itu psikologi,” jelasnya yang mengatakan sekarang namanya berganti menjadi PT Persona Optima Indonesia Persona Consulting. 

Rika merupakan psikolog yang mengambil spesialisasi mayor untuk psikologi industri yang berkaitan dengan sumber daya manusia, dan minornya mengambil pendidikan. Menurutnya ada korelasi antara keduanya. Apalagi saat ini dia bekerja di bidang perlindungan anak, pada Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kalimantan Barat.

Pengalamannya door to door untuk menawarkan kerjasama pada biro konsultasi psikologi yang didirikannya itu tak luput dari berbagai cerita unik dan menarik. Dari yang hanya menyewa ruang kecil didapur rumah orang, kini sudah bisa menyediakan tempat layaknya sebuah kantor.

Cerita unik lainnya, lanjut dia ada yang mengira psikologi seperti seorang dukun. “Ada yang mengira seperti dukun. Ini karena mereka pikir ilmu jiwa. Bahkan ada yang mengaku dirinya dukun mengajak bekerja sama, dengan mengatakan kalau mereka bisa melihat makhluk asral,” ungkap dia.

Belum lagi kesan pertama orang ketika mengetahui profesinya sebagai psikolog. Ada yang ingin minta diramal dengan menunjukkan garis tangannya. Menanyakan bagaimana kepribadian mereka seperti apa dan sebagainya. “Psikologi itu beda dengan para dukun. Psikolog ilmu mempelajari prilaku, sikap dan tingkah laku manusia berdasarkan bukti scientifik, sehingga alat tes psikologi pun dasarnya ilmiah,” terang dia yang mengatakan dulu memang ada mempelajari morfologi muka, fisik termasuk garis tangan. Tetapi seiring waktu ilmu psikologi lebih menekankan pada pembuktikan scientific.

Saat ini lanjut dia, bersama tim-nya sudah ada 215 perusahaan yang bekerja sama untuk melakukan tes pada calon karyawannya. “Total ribuan orang. Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Apalagi dengan waktu yang relatif tidak lama. Kadang sore sudah harus ada hasil untuk direkomendasikan ke perusahaan tersebut,” pungkasnya. ** 

Berita Terkait