Sweeping Zamzam di Bandara

Sweeping Zamzam di Bandara

  Jumat, 16 September 2016 09:20

Berita Terkait

MAKKAH – Salah satu fokus dalam pemulangan jemaah haji adalah menyortir barang bawaan. Pihak maskapai mengaku sulit mendatangkan water detector ke setiap hotel jemaah. Sortir hanya dilakukan untuk berat koper jemaah maksimal 32 kilogram. 

”Sulit mendapatkan water detector yang bisa mobile. Tapi, nanti di bandara ada pemindai X-ray yang bisa memastikan tidak ada barang terlarang di dalam koper jemaah,” kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Abdul Djamil saat meninjau penyimpangan koper jemaah di pemondokan 101 kemarin. 

Tahun ini penimbangan koper jemaah dilakukan di pemondokan. Sebelumnya, koper jemaah dibawa ke madinatul hujjaj (semacam tempat city check-in untuk jemaah Indonesia) untuk dicek isinya sebelum masuk bandara. ”Sekarang koper langsung masuk bandara. Karena itu, kami mengimbau jemaah tidak memasukkan barang-barang yang dilarang,” ujarnya.

Jika memaksa memasukkan zamzam ke koper, mereka sendiri yang akan rugi. ”Jangan sampai ada pemahaman dan kesimpulan bahwa membawa air zamzam di koper dalam penerbangan itu tidak apa-apa,” kata Djamil.

Penimbangan koper kemarin dilakukan terhadap jemaah yang pulang ke tanah air besok. Di antaranya, koper untuk jemaah kloter 1 embarkasi Padang. Petugas dari Garuda Indonesia membawa keliling timbangan koper ke tiap lantai pemondokan jemaah.

Tidak sedikit jemaah yang berat kopernya melebihi batas maksimal 32 kg. Bahkan, ada koper bertulisan nama Guspardi Gaus, wakil ketua DPRD Sumbar, yang beratnya mencapai 42 kg. Koper itu dipaksa diisi karpet yang dibungkus karung putih. Ritsleting koper tidak bisa ditutup, tapi diikat dengan tali.

Kepala Daerah Kerja Airport Nurul Badruttamam mengungkapkan, tahun lalu ada sekitar 200 kasus jemaah yang memaksa barangnya tetap dibawa ke Indonesia meski melebihi batasan berat. Permintaan itu tidak bisa dipenuhi. ”Tega atau gak tega, harus dibongkar. Yang membongkar langsung dari pihak maskapai,” ujarnya.

Beberapa jemaah dengan sukarela membongkar koper mereka yang kelebihan beban. ”Kelebihan 4 kg, di dalamnya ada kurma 4 kg, tinggal ambil saja,” kata Audia Tresia binti Rustam Rusli, jemaah dari embarkasi Padang.

Audia mengatakan, informasi yang dirinya dapat sebelum pemberangkatan haji kurang akurat. Misalnya, soal kelengkapan mandi. ”Ternyata di sini tidur di hotel. Handuk juga disediakan. Bagaimana gak kelebihan berat koper, kan pulangnya kami tambah barang oleh-oleh,” katanya. (*/c10/ca)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait