Sutarmidji Getol Perangi Rokok

Sutarmidji Getol Perangi Rokok

  Rabu, 24 Agustus 2016 09:30
Sutarmidji

Berita Terkait

Konsen Sebelum Kisruh Harga Rokok

PONTIANAK - Sebelum wacana pengetatan tata niaga rokok mengemuka, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak sudah cukup lama memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini. Salah satunya dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Kota Pontianak Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Dalam perda tersebut disebutkan bahwa, tempat-tempat yang dilarang merokok, menjual, mengiklankan dan atau mempromosikan ada di tempat umum, ruang tertutup, tempat kerja, tempat ibadah, tempat bermain anak-anak, angkutan umum, lingkungan proses belajar mengajar dan sarana kesehatan. 

Meski demikian, sampai saat ini masyarakat masih sangat mudah mendapatkan produk rokok di berbagai tempat. Seperti contoh ketika seorang perokok kehabisan rokoknya, maka cukup dengan mendatangi warung terdekat ia sudah bisa membeli berbagai jenis produk rokok. Apalagi biasanya rokok bisa dibeli eceran (batangan) sehingga lebih murah. Celah inilah yang kadang dimanfaatkan remaja untuk belajar atau mencoba-coba menghisap rokok. 

Apakah mungkin ke depan di kota ini penjualan rokok bisa dibatasi hanya di tempat-tempat tertentu? Atau mungkin jika wacana kenaikan harga rokok terealisasi, produk ini menjadi eksklusif? Hanya bisa dibeli di tempat tertentu dan harganya pun mahal. 

Menanggapi hal itu, Wali Kota Pontianak Sutarmidji berpendapat, pembatasan tempat jual beli produk rokok seperti itu akan sulit diterapkan, karena rokok bukanlah komoditas yang dilarang. Namun jika memang wacana kenaikan harga produk ini benar-benar terwujud, dia yakin akan ada penurunan yang signifikan terhadap jumlah perokok, terutama generasi muda.

"Pemkot akan terus mengampanyekan untuk tidak merokok bagi generasi muda, melibatkan gerakan Forum Anak dan organisasi yang peduli tentang anak, akan ada komunitas antiasap rokok, komunitas muda bebas rokok dan lain-lain," ungkapnya kepada Pontianak Post, Selasa (23/8) kemarin. 

Menurutnya, kehebohan ihwal rokok saat ini, sangat baik untuk bahan diskusi tentang plus minus bagi para perokok. Dimana lanjut dia, orang yang merokok akan mencari alasan pembenaran bahwa rokok tidak membawa dampak negatif. Sebaliknya bagi mereka yang bukan perokok serta tenaga medis, tentu akan memaparkan fakta-fakta negatif dari rokok. "Walaupun ada juga tenaga medis yang merokok," ucapnya.  

Masalah utama yang perlu dipahami adalah pengeluaran keluarga miskin untuk merokok saat ini berada di urutan kedua setelah pembelian sembako. "Ini jelas tidak baik," katanya. Karena sangat banyak fakta medis mengatakan bahwa rokok penyebab kanker dan penyakit tertentu lainnya. Lebih kasihan lagi banyak orang sakit akibat menghirup asap rokok yang dihembuskan oleh perokok.

"Makanya saya tidak mau melarang orang merokok di dalam ruangan asal asapnya bisa ditelan dan tak dikeluarkan, jika tetap keluar asapnya maka silakan merokok di tempat terbuka," katanya lagi. 

Selain itu alasan orang nomor satu di Pemkot Pontianak ini melarang kepala SKPD merokok di kantor adalah untuk efektivitas kerja. Karena jika para kepala SKPD itu merokok dari jam 07.30 hingga 15.30 sebanyak 20 batang dan satu batang rata-rata enam menit, artinya mereka menghabiskan waktu selama dua jam untuk merokok. "Belum lagi dia bolak-balik dari tempat merokok ke ruang kerjanya," imbuhnya. 

Sementara bagi anak-anak atau generasi muda, merokok akan menjadikan mereka rentan terhadap kualitas kesehatan. Sehingga harus semaksimal mungkin mengajak anak-anak menjauhi rokok dan asap rokok. "Dalam Perda Kota Pontianak Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Kawasan Tanpa Rokok sudah juga diatur tentang penjualan rokok," tambahnya. 

Bahkan wali kota yang telah menjabat dua periode ini akan memberlakukan aturan, bagi pelajar yang ketahuan merokok di area sekolah dan di jam sekolah, tidak akan difasilitasi subsidi pendidikannya. "Kami akan tes kandungan nikotin pada karang gigi anak yang diindikasikan perokok," tegasnya. 

Sementara bagi area sekolah yang ditemukan ada sampah atau puntung-puntung rokok, maka kepala sekolahnya akan mendapat teguran. "Tapi bagi sekolah yang semua anak didiknya tidak ada yang terbukti merokok, maka akan ada perhatian khusus dari Pemkot," ujarnya.

Untuk area taman-taman kota ke depan akan dicanangkan bebas dari asap rokok, meski itu tempat terbuka. Lalu di area tempat olahraga milik Kota Pontianak juga nantinya tidak diperbolehkan ada yang merokok dan menjual rokok. Solusinya bagi masyarakat yang mau berhenti merokok, di Puskesmas Jalan Jendral Urip saat ini sudah tersedia klinik berhenti merokok. "Insyallah dengan program itu, dalam waktu 10 hari perokok sudah bisa berhenti merokok," tutupnya.(bar) 

Berita Terkait