Suryadi Jatuh ke Laut karena Terpeleset

Suryadi Jatuh ke Laut karena Terpeleset

  Kamis, 6 Oktober 2016 21:24

Berita Terkait

MEMPAWAH- ABK Pukat Trawl, Suryadi, 40 telah ditemukan dalam keadaan selamat setelah empat hari hilang dilaut. Bapak tiga anak ini pun menutur kejadian yang menimpanya dalam aksi penyergapan nelayan tradisional di peraian Kuala Mempawah, Senin (3/10) lalu. Suryadi mengaku terjatuh ke laut karena terpeleset.

“Ketika kejadian (penyergapan nelayan tradisional) itu, saya sedang berada didalam kapal. Saya posisinya sedang memasak ikan,” kenang Suryadi menceritakan kejadian yang dialaminya, Kamis (6/10) di kediamannya di Gang Fatimah Bakri, Desa Sungai Bakau Besar Laut, Kecamatan Sungai Pinyuh.

Sedang asik memasak, imbuh Suryadi, tiba-tiba saja kedatangan kelompok nelayan tradisional dan menyergap kapalnya. Suryadi yang ketika itu berada di dalam kapal, tidak mengetahui kejadian diluar kapal. Tak lama kemudian, salah seorang nelayan penyergap menggeledahnya dengan mengacungkan kayu dan senjata tajam (sajam).

“Ada yang mengayunkan kayu, ada pula sajam. Sebisanya saya menangkis. Bahkan, salah satu mereka hendak menyiram saya dengan ikan yang sedang dimasak. Namun, saya lebih dulu menyiramkan air dan keluar dari dalam kapal,” akunya.

Berhasil keluar dari kapal, Suryadi terus terdesak oleh kelompok nelayan yang menyergap kapalnya. Suryadi semakin terpojok dan tanpa sadar berada dibagian tepian kapal hingga terpeleset dan jatuh di laut.

“Saya fikir kalau terus berada didalam kapal, maka sangat bahaya dengan kondisi mereka membawa kayu dan sajam. Makanya saya memutuskan keluar dari kapal dan akhirnya terpeleset hingga jatuh ke laut. Sedangkan rekan saya, Si Is sudah jatuh lebih dulu,” terangnya.

Suryadi pun tak menampik jika para nelayang yang menyergap kapalnya sempat memberikan pertolongan dengan melemparkan jerigen. Bahkan, mereka pun berniat menaikan Suryadi ke atas kapal. Namun, dia mengaku menolak lantaran takut dengan kayu dan sajam yang diacungkan para nelayan penyergap.

“Memang mereka kemudian mencoba menolong untuk menaikan ke kapal, namun saya tidak mau. Karena saya fikir sangat rawan situasinya, mereka membawa senjata. Bagus aku lari, siapa mau mati,” ucapnya.

Bahkan, Suryadi mengaku dirinya sempat membalas ancaman nelayan penyergap dengan menantangnya terjun ke laut untuk berkelahi. “Aku kabar (bilang) kalau kau berani satu lawan satu sini turun kedalam laut. Aku mencoba selamatkan diri, karena mereka mengacungkan senjata. Mereka semua memakai topeng dan bawa senjata,” terangnya.

Masih menurut Suryadi, setelah sendirian terapung ditengah lautan, dirinya memutuskan untuk mengikuti arus. Dengan memakai jerigen sebagai pelampung, dia terus terombang-ambing diterpa gelombang laut.

“Ketika jatuh ke laut, masih pakai celana. Kemudian, celana dilepas agar lebih ringan bergerak didalam air. Saya terapung memakai ken (jerigen) yang dilemparkan. Namun, tidak lama digunakan penutup ken lepas hingga berisi air dan ken pun terpaksa saya lepaskan,” katanya.

Hingga akhirnya Suryadi mengaku tidak sadarkan diri. Dia baru sadar setelah terdampar di Pantai Pulau Baruk. Namun, ketika itu dia tidak bisa melihat lantaran matanya sakit dan bengkak akibat terendam air asin.

“Sampai di pantai sempat duduk, tetapi mata tidak bisa celang (melek). Setelah sore hari berada di pulau, barulah mata bisa celang. Selanjutnya, saya naik dibagian atas pulau dengan cara merangkak. Selama berada di pulau, saya hanya minum air kelapa tua,” lirihnya mengakhiri.(wah)

Berita Terkait