Supermarket Hutan yang Tertata Rapi

Supermarket Hutan yang Tertata Rapi

  Rabu, 20 April 2016 09:18
PANEN: Masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik sedang mengemas gabah usai dijemur di pelataran Rumah Panjang. Gabah-gabah itu merupakan hasil panen tahun ini.

Berita Terkait

HUTAN adat Iban di Sungai Utik mencapai 9.452,5 hektar. Di dalamnya terdapat berbagai macam jenis tumbuhan, baik kayu maupun non kayu. Selain itu juga terdapat macam tanaman obat. Tak heran jika masyarakat Sungai Utik menyebut hutan adat di wilayah mereka merupakan supermarket. “Hutan adat ini bagi kami adalah supermarket. Ini juga cadangan kehidupan,” ujarnya.

Keteguhannya untuk tetap menjaga kawasan hutan adat itu bahkan berakibat pada stigma negative. Dimana masyarakat sungai utik jelek, karena menolak pembatatan hutan, menolak perkebunan sawit dan bahkan masyarakat disana dicap tidak mau duit.

Namun bagi Apai Janggut dan masyarakat setempat tetap menjaga hutan adat sebagai warisan leluhur asset yang tidak pernah tergantikan oleh apapun. “Ini adalah warisan leluhur kami. Kami harus jaga. Kita tidak tahu, di dalam sana ada apa? apakah ada emas, minyak atau apa pun. Ini semua adalah asset. Jika hutan di Indonesia ini rusak, mereka, anak cucu kami akan belajar dimana,” lanjut laki-laki yang juga merupakan pejuang lingkungan itu.

Menurutnya, Hutan Adat tidak sekedar hutan yang harus dijaga kelestariannya, tetapi merupakan sumber kehidupan. Air yang mengalir ibarat darah mengalir pada tubuh mereka. Airnya bersih dan memberi kami kesehatan agar bisa bekerja untuk melanjutkan hidup. “Itu yang kami minum sehari-hari,” katanya.

Dia bersyukur telah diberikan tanah yang subur, tanah yang memberi kehidupan, baik bagi manusia maupun hewan di dalamnya. “Sedangkan udara yang kita hirup sekarang, adalah nafas hidup orang Iban. Tidak ada polusi. Udara kami segar. Ini salah satu alasan kenapa kami menjaganya,” lanjutnya.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul 12.00. ini bertanda sudah masuk waktunya makan siang. Apai Janggut pun mempersilahkan saya masuk ke biliknya. “Monggo. Mangan!!!” saya sedikit bingung. Sebenarnya Apai Janggut ini orang dayak atau orang jawa? Tanya saya dalam hati.

Apai Janggut pun lantas tertawa. Menurutnya, ia sedikit mengerti bahasa jawa dan bahasa lainnya dari sedekar mendengarkan percakapan orang-orang atau wisatawan yang berkunjung ke rumah panjang Sungai Utik.

Saya pun lantas masuk ke bilik no 16, milik Apai Janggut. Di atas meja sudah terhidang berbagai menu makanan. Ada nasi, ikan asing, sayur daun singkong dan sambal.

Tanpa ragu lagi, saya pun menyantapnya dengan lahap. Demikian juga Apai Janggut.

Rumah panjang Sungai Utik sendiri terdiri dari 28 bilik yang dihuni 89 kepala keluarga (KK), 322 jiwa. 157 laki-laki dan 165 perempuan.(arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait