The Super Leader Super Manager

The Super Leader Super Manager

  Rabu, 30 December 2015 09:58   1

Oleh: Dr. Lailial Muhtifah, M.Pd dan Aspari Ismail.   Judul tulisan ini terinspirasi dari buku dengan judul yang sama ditulis oleh Dr Muhammad Syafii Antonio, M.Ec – seorang mualaf yang sebelumnya bernama Nio Gwan Chung.  Antonio seorang ahli manajemen ternama di Asia Tenggara. Buku ini menjadi bacaan yang banyak direkomendasikan para tokoh terkemuka di Indonesia untuk dikaji terkait ilmu kepemimpinan, leadership dan manajemen.

Berbicara mengenai kepemimpinan dan manajemen, telah menjadi topik pembicaraan yang menarik untuk terus digali dan diteliti sejak lebih dari 2000 tahun silam (Antonio, 2007: 15; Veithzal Rivai & Arviyan Arifin, 2009:606; Sudarwan Danim & Suparno, 2009:50).  Dalam Islam, al-Qur’an juga berbicara tentang kepemimpinan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:  “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikannlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Bahkan ketika Allah menciptakan Adam, Allah memakai istilah khalifah (Qs.2:30) yang sangat erat kaitannnya dengan kepemimpinan. Dengan begitu, pembahasan mengenai pemimpin telah ada sejak manusia pertama diciptakan Allah Subhanahu wata’ala. Begitu pun dalam hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam secara jelas menyatakan soal kepemimpinan. Sebagaimana sabdanya:

 “Setiap orang di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya dan akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin dan akan ditanya soal kepemimpinannya. Seorang pelayanan/pegawai juga pemimpin dalam mengurus harta majikannya dan ia akan diminta tanggung jawab atas kepemimpinannya”.

Veithzal Rivai & Arviyan Arifin (2009: 112) menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sesuatu yang istimewa, tetapi tanggungjawab, ia bukan fasilitas tapi pengorbanan, juga bukan untuk berleha-leha, tetapi kerja keras. Ia juga bukan kesewenang-wenangan bertindak tapi kewenangan melayani. Kepemimpinan adalah berbuat dan kepeloporan bertindak.

Antonio menjelaskan (2007:19) bahwa hampir semua teori kepemimpinan ada pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam. Berbagai pendapat pakar kepemimpinan, to some extent ditemukan pada pribadi dan kepemimpinan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam. Misalnya empat fungsi kepemimpinan (the 4 role of leadership) yang dikembangkan oleh Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yaitu: sebagai perintis (pathfinding); penyelaras (aligning); pemberdaya (empowering); dan panutan (modeling).

Begitu pula sifat dasar kepemimpinan menurut Warren Bennis, yakni  visioner (guiding vision); berkemauan kuat (passion); amanah (trust); integritas (intengrity); rasa ingin tahu (kuriositas); dan berani (courage). Kesemuanya sifat tersebut sudah melekat kepada kepribadian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam

.

Pendidikan di mata Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wassallam

 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah teladan umat. Dimensi lain dari kesuksesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam kepemimpinan dan manajemen adalah dalam bidang pendidikan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan dan mendorong umatnya untuk terus belajar.  Antonio menjelaskan (2007:183) bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menekankan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan mutu/ kualitas manusia.  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam membuat beberapa kebijakan yang berpihak kepada pendidikan umat Muslim. Misalnya ketika kaum Muslim berhasil menawan sejumlah pasukan Musyrik dalam Perang Badar, beliau membuat kebijakan bahwa para tawanan tersebut dapat dibebaskan kalau mereka membayar tebusan atau mengajar baca-tulis kepada warga Madinah. Kebijakan ini sukup strategis karena dapat  terjadi akselerasi transformasi ilmu pengetahuan di kalangan kaum Muslim.

Di samping itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam juga membuat kebijakan kepemimpinan menjadikan masjid sebagai tempat ibadah dan sebagai pusat pendidikan di samping sebagai sentra aktivitas social. Di masjid ini terjadi transformasi ilmu pengetahuan antar kaum Muslim terutama pengajaran ajaran Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam juga sebagai Living Model. Beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah adalah al-Qur’an yang hidup (the living Qur’an). Dalam diri Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam tercermin semua ajaran al-Qur’an dalam bentuk nyata.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam memberikan tuntunan tentang sifat-sifat guru, sebagaimana dijelaskan Antonio (2007: 187-193) diantaranya yang harus diamalkan adalah: Ikhlas; Jujur; Walk the Talk; Adil dan Egaliter; Ahklak Mulia; Tawadhu; Berani; Jiwa Humor yang Sehat; Sabar dan Menahan Amarah; Menjaga Lisan; serta Sinergi dan Musyawarah.  Terkait dengan krisis kepemimpinan yang melanda bangsa ini, sudah sepatutnya para pemimpin menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam sebagai role model dan tetap memperhatikan kualitas pendidikan agar kehidupan bangsa semakinn beradab.

 

*)Dr. Lailial Muhtifah, Dekan Fakultas Tarbiyah dan

Ilmu Kependidikan IAIN Pontianak.

*)Aspari Ismail, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Pontianak.