Suku Tengger, Para Penunggang Kuda Gunung Bromo

Suku Tengger, Para Penunggang Kuda Gunung Bromo

  Minggu, 12 November 2017 09:00

Berita Terkait

Bulan purnama masih terlihat terang meski jarum sudah turun menunjuk ke angka lima. Dengan ditunggangi joki bersarung, ratusan hewan kekar berkaki empat turun menuju kawah Bromo, gunung ikonik aktif 2300 meter diatas permukaan laut. Mereka adalah kaum Suku Tengger dan kuda pemberaninya.

Shando Safela, Jawa Timur

Suku Tengger merupakan suku asli yang hidup di kawasan gunung Bromo dan Gunung Semeru. Mereka telah tinggal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Legenda tentang leluhur mereka yang terkenal adalah Roro Anteng dan Joko Seger. 

Masyarakat sekitar meyakini bahwa ada ikatan mistis antara Suku Tengger dan Gunung Bromo, mereka saling menghidupi satu sama lain. Mayoritas dari mereka memeluk agama Hindu. Beberapa Pura kecil untuk menaruh sesajen ada di sekitar pemukiman. Pura terbesar terletak tepat di samping Kawah Gunung Bromo.

Saat berada di kawasan Gunung Bromo, Suku Tengger sangat mudah dikenali. Sarung menjadi pakaian yang identik dengan mereka. Cara memakainya hanya dikalungkan di leher, sesekali untuk menutupi wajah mereka, gunanya untuk meredam udara dingin yang dirasakan tubuh. 

Suku Tengger juga identik dengan kuda. Para lelaki Suku Tengger mengendarai kuda sebagai kendaraan mereka. Hampir semua keluarga mempunyai kuda. Kuda-kuda peliharaan mereka sangat membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Kuda membantu mereka untuk pergi ke ladang, kondisi geografis dengan tanjakan dan turunan ekstrem dapat sangat mudah dilalui dengan berkuda. 

Warga Suku Tengger juga turut menggantungkan kehidupan ekonominya dari pariwisata. Setiap hari, ribuan wisatawan datang untuk menikmati momen matahari terbit yang sangat ikonik di Bromo. Medan yang berat untuk menikmati suasana Bromo, tak semuanya mampu dilalui oleh para wisatawan. 

Warga Suku Tengger memberi alternatif untuk menyewa kuda mereka untuk membantu wisatawan mendaki maupun melintas padang pasir dan padang rumput. Wisatawan menjadi sangat mudah untuk menaiki kawah Bromo yang terjal. Kuda-kuda kuat ini bahkan mampu memikul beban lebih dari 100 kilogram di punggungnya untuk dinaiki wisatawan.

Hal ini menjadi peluang usaha bagi warga Suku Tengger. Harga yang mereka patok untuk menaiki kuda hingga ke bibir kawah berkisar Rp100 hingga 150 ribu rupiah untuk rute pergi pulang dengan kondisi medan ekstrem. Harga ini merupakan kesepakatan perkumpulan pemilik kuda di Bromo, sehingga tidak memberati wisatawan. 

Rute paling umum yang dilalui adalah kawasan kawah Bromo, padang pasir berbisik dan savana. Beberapa wisatawan juga kerap melintas di kawasan pemukiman Suku Tengger untuk menikmati hijaunya hamparan ladang mereka di lereng gunung. 

Meski selalu didatangi wisatawan dari berbagai daerah dalam maupun luar negeri, tak mempengaruhi adat istiadat hingga budaya mereka. Mereka berpegang teguh dengan adat dan sifat mereka untuk tetap hidup sederhana dan saling mengasihi sesama.  (*)

 

Berita Terkait