Suguhan Kopi dengan Konsep Tak Biasa

Suguhan Kopi dengan Konsep Tak Biasa

  Senin, 20 June 2016 10:45
TAK BIASA: Dekupi, warung kopi yang mengangkat konsep berbeda dengan seabrek kegiatan untuk menarik simpati konsumen. Salah satunya, event musik digelar tiap Senin. Beberapa event lainnya seperti kopi sharing, stand up dekupi, kop history dan sesi sore untuk komunitas. DWI FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Ngopi menjadi rutinitas setiap orang yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Wajar saja, jika jumlah warung kopi di kota ini tidak sedikit. Pertumbuhannya bak jamur dimusim hujan. Mulai dari konsep tradisional atau kopi tiam hingga modern dalam bentuk coffee shop.

Ramses L Tobing

KOPI menjelma sebagai minuman yang digemari banyak kalangan. Penikmatnya pun tidak hanya dimonopoli kalangan menengah ke atas saja. Kalangan lain seperti tukang ojek motor, sopir bus, guru, mahasiswa atau karyawan juga banyak yang menggemari kopi.

Karena itu beragam warung kopi pun muncul. Mulai dari brand-brand kafe, coffee shop hingga warung kopi sederhana. Sisi lainnya tempat-tempat seperti inilah yang kadangkalanya bisa memfasilitasi para penikmat kopi untuk saling mengakrabkan diri. Beragam obrolan ringan topik umum pun bisa lahir dari sini.

Ini juga yang menjadi alasan bagi Dwi Agus Prianto ikut terjun mengelola bisnis warung kopi. Pria yang akrab disapa Dwi Bebek ini mengaku sebagai pemain baru dalam bisnis ini. Sebagai pemain baru, dia tak menampik warung kopinya harus memiliki ciri khas agar bisa menarik konsumen. Baginya lokasi di tepian jalan tidak cukup dalam menggaet konsumen.

Untuk mendapatkan itu, maka dia menyiapkan strategi khusus. Dimulai dengan mengundang desain interior untuk membuat tampilan tempat yang menarik. Tampilan berbeda memancing mata orang yang melintas dan ingin mampir menikmati kopi olahan barista dari Dekupi.

“Ruangan ini memang didesain menarik. Jangan seadanya dan jangan mewah. Yang terpenting, orang melihat langsung tergugah untuk mampir,” kata  Dwi saat diwawancarai wartawan koran ini di tempat usaha Jalan Putri Candramidi, malam kemarin.

Setelah itu dia mencari barista yang bisa menciptakan secangkir kopi dengan cita rasa khusus. Meskipun tidak mudah, Dwi tetap konsisten menjalaninya. Dia bahkan harus terjun langsung bagaimana mengolah kopi.

Kemudian dia mengundang produsen kopi agar bisa melihat secara langsung tempat usahanya. Dwi bermaksud dengan cara seperti ini bisa diketahui kopi seperti apa yang memang cocok dijual. Tak bisa dipungkiri kenikmati secangkir kopi tetap menjadi daya tarik untuk konsumen datang kembali ke Dekupi. “Setelah produsen cocok saya minta racikan kopi yang dijual berbeda dengan yang dijual ke tempat-tempat lain,” jelas Dwi.

Setelah tiga hal ini, Dwi baru memutuskan Dekupi resmi dibuka. Mulai dari Maret 2016 lalu, hingga sekarang sudah berjalan tiga bulan lebih. Selain dengan tiga persiapan itu, lokasi Dekupi memang cukup strategis juga menjadi alasan kuat untuk menarik konsumen. Letaknya di tepiannya membuat siapa saja yang melintas melihatnya. Belum lagi ditunjang dengan tampilan yang berbeda.

Lain dari warung kopi biasanya, Dwi lebih banyak memanfaatkan ornamen kayu. Mulai dari kursi hingga meja konsumen. Termasuk meja barista Dekupi yang dibuat dari tumpukan kayu. Di dinding kiri kanan terpanjang berbagai lukisan tiga dan dua dimensi. Karya itu lahir dari tangan Barista Dekupi.

Dwi menuturkan tampilan Dekupi memang tidak lagi seperti warung kopi tradisional. Dia meningkatkan levelnya, akan tetapi belum sampai ke konsep coffee shop.

Kenapa? Dwi beralasan ingin melahirkan sesuatu yang berbeda. Selain itupun tempat yang dikelolanya sekarang, dulunya pernah dibuka coffee shop. Belajar dari pengalaman itu, Dwi tidak ingin mengulang hal yang sama.

Selain itu, ruang yang tidak begitu luas membuat Dwi harus kreatif mengolahnya. Minimnya lahan parkir juga menjadi persoalan. Sehingga tidak banyak konsumen yang datang. Untuk mensiasatinya, Dwi tidak menjual fasilitas wifi. Ini dilakukan agar arus keluar masuknya konsumen lebih cepat.

Dengan strategi seperti itu, Dwi tidak muluk-muluk menargetkan omzet sehari. Baginya omset sehari cukup dengan rata-rata Rp1 juta saja. Dan Dwi pun menyadari jika omset itu masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan maestro warung kopi tiam di Pontianak.

“Sebagai pendatang baru kami menyadari hal itu. Keinginan kami hanya ingin memeriahkan dunia kopi di Pontianak. Makanya tidak muluk-muluk memberikan target. Bagi kami itu cukup, karena tidak hanya kopi yang dijual tapi juga suasana bagi konsumen Dekupi,” pungkas Dwi. (*)

Berita Terkait