Sudah Meninggal Bisa Terima KKS?

Sudah Meninggal Bisa Terima KKS?

  Kamis, 25 Agustus 2016 09:30
KARTU KIS: Lurah Putussibau Kota, Kecamatan Putussibau Utara, M Hasan memperlihatkan salah satu kartu yang diterima warga miskin di kelurahannya, untuk disalurkan kepada keluarga miskin.

PUTUSSIBAU – Sampai hari ini, masih banyak warga miskin di Kelurahan Putussibau Kota, Kecamatan Putussibau Utara, belum menerima Kartu Kesejahteraan Sosial (KKS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Lurah Putussibau Kota, M Hasan, pun sampai meminta agar pemerintah memperbaharui kembali data penerima kartu yang diperuntukkan bagi warga miskin itu.

 
Hasan mencontohkan, warga penerima KKS, untuk tahun 2015 – 2016, di mana warganya yang mendapatkan KKS hanya 41 orang. Padahal, kata dia, jika mengacu pada data penerima Raskin, tentu ada sekitar 345 warga miskin yang harus mendapatkan KKS tersebut. Ini sontak membuat dirinya bingung, dari mana Pemerintah Pusat mendapatkan data 41 orang tersebut? Sementara, dia menyayangkan, masih ada ratusan warganya yang tidak mendapatkan bantuan. Akibatnya, diungkapkan dia, ada kecemburuan sosial di masyarakat. "Saya dicurigai oleh masyarakat, seolah-olah saya yang membuat data, maupun memotong data penerima bantuan  dari Pemerintah Pusat tersebut. Padahal kami juga tidak tahu," akunya.

Hasan menegaskan, untuk 41 orang penerima KKS tersebut memang sangat layak dibantu. Menurut dia, sangat tak layak jika melihat jumlah data penerima KKS yang sangat sedikit, sementara banyak warga mereka yang miskin dan layak menerima bantuan pemerintah terabaikan. Diakui dia jika apa yang dibantu oleh pemerintah saat ini masih jauh dari harapan. Ia berharap ada pembaharuan data, sehingga bantuan dari pemerintah merata dan tepat sasaran, seperti yang diharapkan. Sebagai orang yang bersentuhan langsung dengan dengan masyarakat, dikatakan dia bagaimana tak jarang mereka menjadi sasaran protes masyarakatnya.

Sementara itu, Rukmansyah, kepala Kelurahan (Lurah) Kedamin Hilir, mengakui jika mereka pernah mendapatkan KKS yang dibagikan Kantor Pos Putussibau. Tapi pihaknya tidak menerimanya, karena merasa tidak pernah memberikan data apapun kepada pihak terkait. Akibatnya, sebagai Lurah, dia tak berani untuk mengambil dan membagikan kartu tersebut kepada masyarakat. "Kami juga tidak tahu dari mana Kantor Pos dapat data warga kami? Mau tak mau kartu dari mereka kami tolak dan mereka sendiri yang membagikan langsung ke warga," ucapnya.

Dia mengatakan, seingat dirinya, kartu yang diberikan oleh Kantor Pos tersebut tidak mencapai jumlah penerima Raskin. Oleh karena itu, dia mengaku takut menerima dan membagikan KKS tersebut kepada warga. "Kami takut ada warga yang komplain, kenapa si A dapat sementara dirinya tidak? Biasanya begitu," jelasnya.

Maka, ia menyarankan, jika pemerintah ingin membantu masyarakat miskin, semestinya data yang ada saat ini diperbarui. Dengan demikian, dia yakin, tidak akan ada lagi kecemburuan sosial dan bantuan tersebut benar-benar tepat sasaran. "Kalau seperti ini kami tidak tahu data siapa yang mereka pakai dan tiba-tiba saja ada kartunya," ucapnya.

Sementara itu, Abang Saharman, ketua RT02/RW 01, juga mengaku pernah mendapatkan KKS dari Kantor Pos Putussibau. Ia pun merasa aneh kenapa pembagian kartu tersebut tidak melalui kelurahan? Mestinya, kata dia, kartu tersebut diberi melalui kelurahan, untuk kemudian diteruskan ke RW/RT.

Dijelaskan Saharman, selain dirinya yang menerima, juga ada warganya yang sudah meninggal, masih mendapatkan kartu. “Masak yang sudah meninggal menima KKS?" ucapnya dengan nada heran.

Adanya pembagian kartu tersebut menjadikan dia sering ditanyai oleh warga, kenapa hanya dirinya saja yang mendapat KKS? Sementara yang lain tak dapat, itu yang membuatnya bingung.(aan)