Sudah Empat Bulan Guru Tak Terima Gaji

Sudah Empat Bulan Guru Tak Terima Gaji

  Rabu, 13 September 2017 10:00

Berita Terkait

Di ”Sekolah Indonesia”, Mereka Diajari Toleransi 

Sekolah itu memiliki tiga ruangan dengan tiap kelas bisa menampung 25 bangku. Satu bangku panjang bisa diduduki empat murid.  Sekolah di Desa La Ma Chae itu merupakan satu di antara dua sekolah yang dibangun dengan dana bantuan dari donatur Indonesia.

Laporan DHIMAS GINANJAR dari Sittwe, Myanmar

Pintunya terbuat dari kayu, tapi kusen tiap jendela terbuat dari aluminium. Seperti khas sekolah SD lain, di dalamnya ada berbagai poster hewan dan abjad. Saat saya  berkunjung Senin (11/9), tidak banyak murid yang berada di kelas. Sebab, sedang ada kegiatan di masjid yang tidak jauh dari sekolah. 

’’Saat Idul Adha, kami juga merayakannya di masjid,’’ ujar Khin Maung Naing, salah seorang guru.

Saat konflik Rohingya meletus di Distrik Maungdaw pada 25 Agustus, dua sekolah itu kembali jadi perbincangan di tanah air. Gara-garanya, banyak yang menuding Presiden Joko Widodo mengklaim kinerja PKPU Human Initiative dalam mengumpulkan dana dan membangun sekolah-sekolah tersebut sebagai kerja pemerintah.

Sekolah satunya berada di desa muslim lain, Thet Kay Pyia Ywar Ma. Jarak kedua desa dari jantung Kota Sittwe sebenarnya tidak jauh. Sekitar 8 km dan bisa ditempuh dalam 15 menit menggunakan sepeda motor.

Dua desa tersebut tidak sulit dicari. Tidak jauh dari pos militer Sittwe yang berdekatan dengan bandara. Dari jalan utama, Desa La Ma Chae bisa ditemui terlebih dahulu setelah melewati jalan makadam. Tepat di pintu masuk desa, sekolah yang didominasi warna hijau itu berdiri.

Meski hanya memiliki tiga ruangan kelas, sekolah di La Ma Chae tersebut juga difungsikan untuk taman kanak-kanak. Sedangkan untuk sekolah dasar, bangunan difungsikan sampai grade 7. Di Myanmar, SD biasanya sampai grade 4. 

Tetapi, anak-anak di sekolah di La Ma Chae itu belum masuk ke sekolah menengah. 

Biasanya disebut dengan over primary school. 

Total 385 murid memanfaatkan sekolah itu untuk menimba ilmu. Murid sebanyak itu diajari empat guru yang seluruhnya muslim.

”Biasanya kami mulai belajar pukul 10.00 dan selesai 15.30 dari Senin sampai Jumat,’’ imbuh Khin Maung Naing. 

Khusus hari Jumat, ada tambahan kegiatan di luar, yakni di masjid. Materi pelajaran yang diajarkan, mulai pengetahuan umum sampai bahasa Myanmar.

Pelajaran penting lain yang diajarkan di sekolah tersebut adalah toleransi beragama. ’’Jadi, kami tidak hanya mengajarkan soal pengetahuan, tetapi juga bagaimana berbagi cinta kepada orang lain,’’ imbuh Khin. 

Dia menegaskan ingin hidup dalam harmoni di Sittwe. Konflik di Maungdaw yang mengakibatkan ratusan muslim Rohingya tewas dan ratusan ribu menyeberang ke Bangladesh diharapkan tidak menular.

Semangat untuk memberikan pengetahuan dan cinta kasih itulah yang membuat dia bertahan menjadi guru. Meski, sudah hampir empat bulan ini pemerintah belum membayar gajinya. 

Gaji yang biasa diterima guru sepertinya berkisar 150 ribu kyats (sekitar Rp 1,5 juta). Namun, dia tidak mau berpolemik tentang apakah keterlambatan itu akibat dari konflik yang terjadi Maungdaw.

Dia dan tiga guru lain sudah merasa nyaman untuk menjadi pembimbing. Namun, dia berharap suatu saat ada bantuan lagi untuk sekolah tersebut. 

Terutama dalam membangun pagar yang bisa mengelilingi kompleks sekolah. Itu penting supaya tempat belajar tersebut tidak dimasuki orang atau hewan ternak.

Dari La Ma Chae, Thet Kay Pyia Ywar Ma sebenarnya hanya terpisah 2 kilometer. Namun, jalan tanah dan hujan yang sempat mengguyur Sittwe membuat akses sulit dilalui. Beberapa kali sepeda motor harus melewati jalanan berlumpur dan banjir.

SD di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma lebih besar daripada La Ma Chae. Sebab, ada empat ruang belajar. 

Di sekolah itulah saya melihat secara langsung bagaimana sistem belajar di perkampungan muslim Rohingya. Terutama membagi kelas untuk berbagai jenjang murid.

Satu ruangan bisa dihuni untuk tiga kelas sekaligus. Misalnya, ruangan tempat Kyaw Min Tun, 21, mengajar. 

Dia yang mengajar bahasa Inggris untuk siswa grade 5 harus berbagi dengan Bu Guru Myint Myint Than yang mengajar matematika untuk siswa grade 4 dan Bu Guru Ma Soe Phyu yang mengajar geografi untuk grade 6. 

Sempitnya ruangan membuat para siswa harus bisa berkonsentrasi lebih. Sebab, dalam satu ruangan bisa terdengar tiga pelajaran berbeda. Siswa grade 5 dan 6 harus saling memunggungi karena menghadap ke papan tulis yang berbeda.

Di sekolah itu, ada 250 murid yang menerima pelajaran dari enam guru. Populasi di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma mencapai 1.400 orang dengan mayoritas bekerja sebagai petani dan peternak. 

’’Sebelum sekolah ini berdiri, sudah ada sekolah. Tetapi, dihancurkan dan diganti yang baru,’’ ujar Kyaw.

Sama dengan guru di La Ma Chae, dia dan lima guru lainnya belum mendapat gaji. Guru muda yang tidak mendapatkan ilmu di perguruan tinggi itu juga tidak bisa menarik bayaran. Sebab, di Myanmar sekolah negeri –terutama SD– gratis.

Di beberapa kelas, banyak siswa yang mengenakan seragam putih dan bawahan hijau. Soal alas kaki, bebas. Tapi, tidak ada yang memakai sepatu. Pilihannya cuma dua, sandal atau nyeker. 

’’Buku dan peralatan tulis biasanya disumbang lembaga non pemerintah. Tapi, kadang juga beli sendiri,’’ imbuhnya.

Dia berharap suatu saat sekolah itu memiliki perpustakaan sendiri. Dengan demikian, mata pelajaran yang satu jamnya berlaku 45 menit itu bisa memiliki materi yang lebih mendalam. Selain itu, mereka berharap bisa membangun pagar karena di sekitar sekolah adalah tanah kosong yang berlumpur. (*/c10/ttg) 

Berita Terkait