Suasana Pagi di Pedesaan Serta Takbir yang Menyejukkan

Suasana Pagi di Pedesaan Serta Takbir yang Menyejukkan

  Senin, 11 July 2016 09:59
SALING BERSALAMAN: Umat muslim, usai salat dan mendegarkan tausiyah di Masjid Al Huda tampak saling bersalaman untuk saliang memafkan. Sementara itu, untuk pelaksanaan salah Id sendiri dapat berjalan dengan hikmat. DANANG PRASETYO / Pontianak Post.

Berita Terkait

Idul Fitri 1437 Hijriah, Rabu (6/7) berlangsung khidmat. Di belahan mana pun, selalu dilakukan sebagai hari kemenangan setelah sebulan melaksanakan ibadah shaum. Di Desa Sepang, Takong, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah juga demikian. Kesederhanaan lebih terasa, namun tidak menghilangkan kekhusyukan mereka yang berlebaran.

DANANG PRASETYO, Anjongan

SUBUH menjelang. Dingin menusuk tulang. Usai salah subuh dilaksanakan, sayup-sayup terdengar suara takbiran. Sebagai pertanda, tidak lagi berpuasa. Tak ada lagi santap sahur, setelah 30 hari dilaksanakan. Seluruh umat muslim menyambut hari kemenangan.

Mendekati jam 7.00 kaum pria, wanita, orang tua dan anak-anak, mengenakan baju bersih melangkah ke masjid untuk melakukan salat Id.

Usai salat, dilanjutkan dengan khutbah Idul Fitri, warga pun bermaaf-maafan yang secara spontan dilakukan di dalam masjid usai salat.

Karena di masjid, jamaah pun meluber hingga ke halaman. Terik matahari ternyata tidak menyurutkan ke kekhusuan jamah saat menunaikan salat Id.

Usai salat, mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Sungkeman atau sesuai tradisi setempat, yang intinya memang untuk silaturahim dan saling bermaaf-maafan.

Berikutnya, sajian makanan khas ketika Idul fitri bersama keluarga digelar. Makan bersama. Bersendagurau. Bagi mereka yang baru mudik, tentu menjadi yang special.

‘’Makanya, biar bagaimana pun kalau yang namanya lebaran, ya tetap harus dipaksakan mudik. Kumpul dengan keluarga. Dan ini sangat menyenangkan sekali,’’ tukas Prasiono Dedi, warga setempat. Meski, daerah rautauan Pras, demikian dia kerap disapa, masih di Kalbar, tepatnya di Kayong Utara.

‘’Kayaknya sulit juga kalau berlebaran tidak kumpul dengan keluarga. Apalagi saya kan masih bujangan,’’ lanjutnya.

Senada dengan Prass, Bambang Sunarto (50) menambahkan ada peningkatan jamaah saat salah Id di masjid Al Huda, Takong ini. Menurutnya, jumlah tersebut karena ditambah beberapa pekerja yang tidak bisa mudik dengan beberapa alasan.

 “Ya, tahun ini memang mengalami peningkatan jamaahnya. Meluber sampai ke halaman masjid. Untungnya, panitia masjid sudah terlebih dahulu mempersiapkannya. Hingga, luberan jamaah itu tidak mengurangi kekhusukan saat melaksanakan salat id,’’ imbuhnya.

Dia menambahkan, bahwa di daerahnya ini, tolerasi beragama sangatlah baik.  Baik antara muslim dan non muslim.

“Kita saling menghormati. Kalau lebaran seperti ini, silaturahmi lagsung tetap terjalin dengan dari rumah ke rumah. Warga yang non muslim pun datang ke rumah untuk berlebaran,” ujarnya.

Warga lainnya, Eko yang berkerja di Pontianak merasa bahagia pada Idul Fitri tahun ini dapat menunaikan salat Id bersama orangtua di kampung halaman. Apa lagi ini lah yang ditunggu-tunggu karena dapat berkumpul bersama keluarga. Karena untuk keseharainnya tentunya disibukan dengan pekerjaan masing-masing.

“Kalu lebaran seperti ini, tetap mudik. Apa lagi ini merupakan momen baik untuk dapat saling bermaaf-maafan dan bersilaturahmi. Selaian itu kita juga dapat bertemu dengan kawan-kawan juga,”katanya.

Ditanya tentang momen spesial saat lebaran, Eko tersenyum. ‘’Begini, di sini kan masih desa. Udaranya masih resik. Juga pagi hari masih bekabut. Nah, kalau subuh itu lho. Suasananya hening. Sekeluarga sudah bangun, dan kemudian dari kejauhan kita mendengar suara takbira, kayaknya itu susah dilupakan. Kemudian bermaaf-maafan dengan keluarga dan tetangga lainnya, ujarnya. *

Berita Terkait