Stop Pembajakan!

Stop Pembajakan!

  Senin, 11 April 2016 09:25

Streaming Musik Lebih Mengapresiasi Karya Musisi

DULU, kalau pengin mendengarkan musik musisi favorit harus beli album hard copy dulu. Karena harganya mahal, pembajakan makin marak. Berdasar data Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri), musik bajakan menguasai 95,7 persen pasar di Indonesia sejak 2007! 

Nah, pasar musik digital pun makin dikenal berkat musisi-musisi internasional yang menjual lagunya di platform seperti iTunes dan Tidal. Pemasaran dengan cara itu terbukti lebih efektif. Sebab, orang lebih suka beraktivitas dari smartphone. 

Nggak lama, muncullah layanan streaming musik seperti Pandora, Apple Music, dan Spotify. Layanan-layanan itu mirip seperti radio kok. Hanya, kamu butuh koneksi internet untuk mendengarkan lagu-lagu di sana. Mau mendengarkan secara offline? Bisa, tapi kamu harus berlangganan dulu. 

Menurut laporan The Recording Industry Association of America (RIAA), pada 2015, pendapatan industri musik justru lebih banyak berasal dari layanan streaming. Emang streaming musik aja udah men-support musisi favorit? Iya! Setiap servis punya kebijakan sendiri tentang berapa yang mereka bayarkan kepada artis untuk setiap lagu yang diputar user. Misalnya, Spotify membagikan royalti 70 persen bagi artis dan 30 persen untuk Spotify.

Mulai ramainya penggunaan streaming musik di Indonesia disambut antusias oleh Raisa Andriana. Musisi yang akan merilis album terbaru bertajuk Handmade itu turut merasakan berkurangnya pembajakan atas musiknya. ’’Semoga kali ini pembajakan benar-benar bisa ditekan,’’ ujarnya. 

Hal serupa diungkapkan Mikha Angelo dari grup The Overtunes. Selain menaruh musiknya pada layanan streaming, Mikha juga pengguna aplikasi streaming musik. ’’Dari satu aplikasi, aku bisa mengakses banyak lagu dari mana pun buat dapat inspirasi,’’ kata Mikha. (life&style/spotify/afr/c14/rat)