Stok Menipis, Harga Ayam Naik

Stok Menipis, Harga Ayam Naik

  Selasa, 5 July 2016 10:13
HARYADI/PONTIANAKPOST PADAT PEMBELI: Sejumlah pembeli mencari berbagai kebutuhan berupa pakaian di Kawasan Pasar Tengah Pontianak, Senin(4/7). Harga yang relatif terjangkau menjadi alasan warga untuk berbelanja di pasar tradisional.

Berita Terkait

PONTIANAK - Menghadapi Idulfitri stok daging ayam potong tidak merata di pasaran. Akibatnya harga daging ayam ikut terkerek naik dibandingkan harga sebelumnya. Para pedagang dengan pihak pembeli mengeluhkan hal tersebut.
Ketua Harian Asosiasi Agribisnis Perunggasan Kalimantan Barat Suryaman mengatakan hal itu, kemarin. “Harganya sudah naik. Jelang puasa saja harga ayam potong pernah tembus Rp30 sampai 35 ribu per kilogram. Kemudian turun menjadi Rp22 ribu. Sekarang dua hari jelang puasa, naik lagi menjadi Rp30 ribu per kilogram,”’ ujarnya di Pontianak.
Menurutnya, salah satu pemicu kenaikan harga ayam potong adalah karena ketersediaan daging ayam dengan pasokan ke pedagang tidak berimbang. Hampir rata-rata lapak pedagang tidak menumpuk menjual daging ayam potong, seperti lebaran tahun sebelumnya.
“Tidak banyak untuk tahun ini. Alasannya bibit anakan yang dibesarkan peternak mandiri tidak ada. Makanya harga jual juga ikutan naik,” ungkap dia.
Bahkan, lanjutnya, sampai hari ini (Senin), keinginan para pedagang yang akan menjual daging ayam potong ternyata dalam kondisi kosong. Iapun meminta Distanak segera bertindak. ”Stok ayam kosong. Kami merasa kebingungan,” kata Suryaman yang juga penjual ayam potong ini.
Ia menambahkan bahwa rata-rata stok daging ayam potong memang tidak banyak. Makanya, rata-rata lapak pedagang juga menjual dalam jumlah terbatas. Ke depan persoalan seperti begini harus mampu diatasi pemerintah lebih awal sehingga pedagang dan konsumen tidak menjadi korban. Ia juga meminta pemerintah tak malu membuka kran pembelian ayam dari luar Kalbar seperti ayam asal Kalteng atau Kalsel. “Tujuannya supaya konsumen memperoleh harga daging ayam yang pantas dan murah,” tuturnya.
Dia menjelaskan, sebelumnya harga daging ayam potong jenis boiler tangkap kandang sekitar awal puasa dijual Rp24 ribu per kilogram. Harga tersebut tentunya akan berbeda ketika dijual ke konsumen atau pembeli. Padahal sebelumnya harga masih cukup masuk akal meski terbilang tinggi.
Dua pekan setelah puasa sebelumnya, harga daging ayam boiler dijual Rp22 ribu per kilogram dari tangkap kandang. Kemudian dijual langsung ke konsumen atau masyarakat mencapai Rp25 ribu per kilogram. Hal tersebut belum lagi ketersediaan daging ayam potong terbilang langka, bahkan guna memperoleh (DOC) cukup kesusahan.
AAP memperkirakan kenaikan harga ayam selain karena stok kurang, sementara permintaan konsumen tinggi. Artinya berlaku harga pasar yang justru dampaknya dirasakan para peternak kecil dan peternak binaan AAP yang sudah kolaps.
”Para peternak kecil dibawah binaan AAP sudah bangkrut. Tak ada lagi yang berusaha. Mereka (peternak kecil) bangkrut,” ujarnya.
Michael Yan Sriwidodo, Ketua Komisi II membidangi peternakan mengatakan bahwa kenaikan harga daging ayam potong di pasar tradisional harus diimbangi melalui mekanisme operasi pasar pemerintah.
”Tidak ada kata lain selain operasi pasar. Distanak Kalbar harus berani mengalang suara. Masyarakat harus merasakan daging ayam murah. Terlebih jelang lebaran tahun 2017 ini,” ungkapnya.(den)

 

 

Berita Terkait