Status Bebas Rabies Gugur

Status Bebas Rabies Gugur

  Rabu, 6 April 2016 09:33

Berita Terkait

PONTIANAK - Kalimantan Barat mendapat surat keputusan dari Menteri Pertanian pada 20 Agustus 2014 berisi pernyataan bahwa provinsi ini bebas penyakit anjing gila atau rabies. Selang sebulan terjadi kasus penyakit tersebut hingga saat ini. Akhirnya status Kalbar bebas rabies pun gugur dengan sendirinya.

“Saat ini Kalbar termasuk sebagai daerah tertular (rabies),”  ujar Kepala Subbidang Direktorat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Mardiatmi disela-sela pertemuan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar bersama pemerintah kabupaten kota untuk membahas rabies, (Selasa 5/4). 

Mardiatmi menjelaskan kasus rabies di Kalbar terjadi pertama kali pada 2005 dan terkendali. Selama sembilan tahun tak pernah ada kasus sehingga Kalbar pun dinyatakan bebas rabies oleh Kementerian Pertanian dengan SK Nomor 885/Kpts/PD.620/8/2014. 

“Tiba-tiba ada kasus rabies. Dengan sendirinya sudah menjadi daerah tertular dan bukan rabies lagi,” ungkap Mardiatmi.

Menurut Mardiatmi, pihaknya berharap dalam waktu enam bulan sejak terjadinya kasus pada 2014 rabies dapat dikendalikan. Tetapi ternyata tak berhasil dan pada 2016 terjadi kembali kasus gigitan di Bengkayang, Landak, dan Ketapang (Kendawangan). 

“Sejak Agustus 2015 hingga Februari 2016 tak ada lagi kasus gigitan anjing. Tiba-tiba Maret muncul kembali,” kata Mardiatmi.

Ia menilai terjadinya pengulangan kasus rabies dikarenakan lalu lintas hewan di Kalbar sangat tinggi. Masuknya penyakit pada wilayah yang sebelumnya dinyatakan bebas dikarenakan hewan bawaan dari daerah tertular.

Mardiatmi menyarankan Kalbar terus meningkatkan tindakan pengendalian, vaksinasi, serta KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi). Pemerintah harus bekerjasama dengan masyarakat.
“Pemerintah tak bisa berbuat apa-apa, jika masyarakatnya tak mendukung,” tutur Mardiatmi.

Saat ini, lanjut Mardiatmi, terdapat 25 daerah tertular rabies di Indonesia, termasuk Kalbar. Kasus tertinggi terjadi di Bali. Diikuti Maluku, dan Sulawesi Utara. Bahkan pada tahun lalu kasus rabies pada manusia tertinggi berada di Manado. 

“Kasus rabies tertinggi di Pulau Kalimantan terjadi di Kalimantan Tengah,” jelas Mardiatmi.

Hanya sembilan provinsi yang saat ini bebas rabies yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat, dan Papua. Nusa

Tenggara Barat berisiko tinggi tertular rabies karena berbatasan dengan Bali dan Nusa Tenggara Timur. Pemerintah setempat pun menjadikan pencegahan rabies sebagai program prioritasnya. 

“Pemerintah NTB benar-benar mencegah wilayahnya agar tak tertular rabies,” katanya. 

Mardiatmi menambahkan jika ingin mendapatkan kembali status bebas rabies, Kalbar harus berusaha dari nol kembali. Perjuangan Kalbar cukup berat karena harus menghabiskan kasus yang ada. 

“Harus mulai dari nol tetapi mungkin dilakukan. Karena walaupun rabies penyakit mematikan, tetapi bisa diberantas dengan memvaksinasi anjingnya,” jelas Mardiatmi.  

Kasus rabies terjadi pertama kali setelah 2005 yakni pada September 2014. Ketika itu terjadi di Ketapang. Dalam waktu September hingga Oktober gigitan terjadi pada 47 orang. Kemudian menyebar ke daerah lainnya yakni Melawi, Sintang, dan Kapuas Hulu. Akhirnya terjadi 730 kasus gigitan anjing dalam kurun waktu September 2014 hingga Agustus 2015. Korban jiwa mencapai 19 orang. 

“Sejak Agustus 2015 hingga Februari 2016 tak terjadi kasus gigitan anjing,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar, Abdul Manaf Mustafa, kemarin.

Tetapi Maret 2016 hingga April, terjadi kembali gigitan anjing di beberapa kabupaten. Total mencapai 186 kasus gigitan anjing hingga kemarin. Kasus tersebut tersebar di Bengkayang sebanyak 119 gigitan, Kendawangan Kabupaten Ketapang 59 kasus, Landak 7 kasus, dan Kayong Utara 1 kasus. 

Hasil pemeriksaan otak anjing yang menggigit warga di Bengkayang dinyatakan positif rabies. Di Kendawangan, hasil pemeriksaan rapid test menyatakan positif rabies. Tetapi kepastiannya belum 100 persen. Sampel otak anjing yang menggigit warga di Kendawangan tersebut sedang diuji kembali di laboratorium di Balai Veteriner Banjarbaru untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. 

“Untuk di Kayong Utara bukan rabies tetapi ada kepanikan warga. Sedangkan di Landak, anjingnya dibunuh warga sehingga tak bisa diperiksa,” ungkap Manaf.

Menurut Manaf, pihaknya berupaya mengendalikan kasus gigitan anjing tersebut. Kecepatan penanganan menjadi hal utama. Kasus pada satu daerah harus diusahakan agar tak menyebar ke daerah sekitarnya.

“Kami merekomendasikan Bupati Bengkayang segera menutup kecamatan Teriak dari keluar masuk anjing, kucing, dan kera,” kata Manaf.

Ia juga meminta Pemerintah Bengkayang segera menyatakan status kejadian luar biasa dan melakukan vaksinasi di seluruh kecamatan. Jika ada anjing liar dan diliarkan harus dieliminasi.

Manaf mengatakan masyarakat Bengkayang cukup kooperatif dalam penanganan rabies. “Saat ini kami sedang melakukan pendataan mengenai kebutuhan logistik penanganan rabies,” ungkap Manaf.

Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat mengajukan tambahan vaksin antirabies kepada Kementerian Kesehatan pada Maret lalu. Vaksin tersebut untuk penanganan kasus rabies di Bengkayang.

“Kami kemarin meminta var 800 vial kepada pemerintah pusat. Begitu mengetahui terjadi kasus di Bengkayang, langsung kami ajukan tambahan VAR,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andy Jap. 

Andy mengatakan setiap korban yang digigit anjing diberi VAR. Saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan berkenaan dengan rabies di Kalbar.

Saat ini vaksin tersebut sudah tiba di Kalbar dan diantar langsung oleh perwakilan Kementerian Kesehatan. Vaksin juga sudah disalurkan ke Kabupaten Bengkayang. (uni)

Berita Terkait