Spiritualitas Pulang Kampung

Spiritualitas Pulang Kampung

  Senin, 4 July 2016 10:23   359

INSYAALLAH, Rabu, 6 Juli 2016, umat Islam seluruh dunia, khususnya di Indonesia secara bersama-sama merayakan Idul Firtri, 1 Syawal 1437 H
Spiritualitas atau semangat pulang kampung saat lebaran (mudik) sangat luar biasa, dengan berbagai alasan, diantaranya; ingin menyempurnakan ibadah puasa sebulan di bulan ramadhan karena ada keyakinan bermaaf-maafan dengan orang tua dan saudara yang kebetulan masih ada di kampung halaman menyempurnakan ibadah puasa sebulan ini dan menghapus dosa-dosayang telah diperbuat. Jika pun ada diantara orang tua dan saudara mereka sudah wafat secara langsung dapat berziarah ke pemakaman mereka bagi yang mempercayainya. Dengan pulang kampung (mudik) di saat lebaran, terasa ada sesuatu atau semangat baru dalam hidup ini.
Karena semangat mudik yang luar biasa itu, tidak sedikit diantara pemudik meninggal dunia, jumlahnya melebih jumlah korban dalam sebuah peperangan. Alasan semangat mudik tersebut, beberapa hari sebelumnya telah memesan tiket pesawat, tiket kereta api dan tiket kapal laut, ada yang telah mudik beberapa hari sebelum lebaran tiba.
Bapak Joko Widodo selaku presiden berpesan agar semua pihak menjaga keselamatan pemudik. Semua pihak disibukkan untuk menjaga kelancaran dan kenyamaan mudik lebaran, baik pemerintah, swasta dan masyarakat umumnya.
Semua kemungkinan yang menghambat kelancaran dan ketidaknyaman mudik dari skal besar hingga skala kecil harus diantisipasi, seperti banjir dan lonsor dimana alat berat disiapkan. termasuk menjaga daerah rawan begal dan tempat buang air kecil. Menurut Dr. Dr. Taufik Jemaan, SpOG selaku specialis kandungan pada RSIA Bunda Menteng Jakarta menyatakan bahwa menahan buang air kecil lebih dari 15 menit beresiko bagi kesehatan, yakni terjadi infeksi saluran kemih.
Selain itu kepada para pemudik diminta memperhatikan anak selama perjalanan.
Mudik bersama sangat dianjurkan karena dapat mengurangi beban jalan dan menekan potensi kecelakaan lalu lintas. Dan memilih waktu yang tepat untuk mudik agar tidak terjadi penumpukan karena pemudik yang bersamaan itu jumlahnya lebebihi kapasitas jalan juga baik dilakukan.
Makna dari semangat pulang kampung (mudik) tidak sebatas spiritualitas sesaat, yakni pada hari raya Idul Fitri saja, melainkan semangat untuk selamanya sebagaimana telah dicontohkan oleh dua orang kampung, yakni ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari dimana beliau dikenal pendiri dua organisasi kemasyarakatan Islam besar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) yang telah terbukti mampu atau berhasil membangun peradaban bangsanya dimulai dari kampung. Ahmad Dahlan berasal dari Kauman Yogyakarta dan Hasyim Asy’ari berasal dari Jombang Jawa Timur, setelah mereka berhasil melanjutkan studi di luar negeri, yakni di Timur Tengah, kedua cerdekiawan dan ulama tersebut kembali ke kampung halamannya. Dari kampung halamannya, mereka kembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban, dan sekarang telah berkembang tidak hanya di Indonesia tanah kelahirannya, melainkan ajarannya telah menyebar ke banyak negara lain, terutama negara tetangga Indonesia.
Penulis mencatat, saat ini banyak anak kampung telah mencapai prestasi di negeri ini, bahkan tidak sedikit prestasi mereka dikenal di seluruh dunia yang semestinya prestasi-prestasi yang telah mereka capai tersebut meninspirasi anak kampung lainnya untuk lebih berprestasi dan prestasinya itu memberi dampak bagi kemajuan banyak kampung di negeri ini. Dengan kata lain,
spiritualitas atau semangat pulang kampung tidak sebatas pada saat lebaran atau saat hari raya idul fitri saja, melainkan terjadi sepanjang masa dalam bentuk yang lebih bermakna bagi masyarakat sehingga kepulangan mereka ke kampung halaman berdampak bagi kemajuan kampungnya masing-masing, yang kemudian berdampak bagi kemajuan kecamatan, kabupatan, provinsi dan bangsanya.
Demikian pula kepada saudara-saudara kita yang belum sempat pulang kampung (mudik) di saat lebaran ni, spiritualitas dan semangat pulang kampung tetap selalu ada. Di saat banyak teman-teman dan saudaranya mudik, ada diantara saudara dan teman kita yang tidak bisa mudik karena berbagai alasan, misalnya; ada yang terbaring sakit dan sedang bertugas merawat pasien di rumah sakit, menjaga pintu lintasan kereta api, tidak mendapat tiket penerbangan, tiket kereta api, dan tiket kapal laut sehingga gagal mudik, seperti dialami oleh Ika Ocdita Wulandari seorang perawat RS dr. Anton Soedjarwo Bhayangkara Pontianak, ia mengatakan “Yang penting di saat hari raya Idul Fitri ini berkomunikasi dengan orang tua minta maaf dan sebagainya” . Kesempatan mudik terlewatkan, bukan berarti hari raya kehilangan maknanya. Tuhan sengaja membuat hal itu terjadi karena, kesibukan di tempat bekerja dan harus melayani banyak pelanggan atau pasien, kehabisan tiket perjalanan dan apapun alasannya, yang sebenarnya adalah Tuhan ingin bersama mereka merayakan lebaran di tempat-tempat yang telah ditentukan itu. Dari sana Tuhan mengajarkan apa artinya sebuah pelayanan itu sekalipun harus dilakukan seorang diri dalam kesepian di saat banyak orang bersenang-senang mudik dan merayakan idul fitri di kampung tempat mereka dlahirkan. Dalam hidup ini ada saatnya kita harus kehilangan sesuatu sebelum mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih bermakna bagi kehidupan kita. Orang bijak berkata, “Setangkai bunga mawar yang kau berikan kepada seseorang sebagai tanda kasih sayang kepadanya, keharumannya tetap bersamamu”. Agama telah mengajarkan agar berbuat baik kepada semua orang dengan tulus ikhlas, Allah Swt tidak rela kepada mereka itu menderita hidupnya baik di dunia dan di akhirat kelak. Ibnu Abbas mencontohkan balasan keikhlasan ini diberikanAllah Swt kepada nabi Yunus yang selamat setelah ditelan ikan dan kepada tiga pemuda selamat setelah sekian lama berada dalam sebuah gua. Dan balasan dari Allah Swt kepada mereka yang ikhlas beramal berasal dari sumber yang tidak diduga sebelumnya

(Penulis, Dosen FKIP Untan)