Sosialisasi Forsas Kalbar , Membaca Ahmadun Yosi Herfanda, Ciuman Pertama untuk Tuhan

Sosialisasi Forsas Kalbar , Membaca Ahmadun Yosi Herfanda, Ciuman Pertama untuk Tuhan

  Senin, 18 January 2016 08:38
AKRAB: Suasana sosialisasi yang dikemas dengan kegiatan sastra oleh Forsas Kalbar, Minggu (17/1). FORSAS FOR PONTIANAK POST

Forsas Kalbar menggelar sosialisasi yang dikemas dengan kegiatan sastra, bertajuk membaca Ahmadun Yosi Herfanda. Kegiatan berlangsung di Aula FKIP Untan, Jalan Prof Dr H Hadari Nawawi, Pontianak Tenggara, Minggu (17/1). IDIL AQSA AKBARY, Pontianak Post

Diketahui Kalbar merupakan bagian terpenting dalam peradaban sastra. Sebut saja beberapa nama, seperti Yusakh Ananda, Pradono atau Hana Fransisca dan lainnya, mereka adalah bagian dari peradaban sastra yang telah melawati arus perjalanan panjang sastra Indonesia. Namun saat ini sastra di Kalbar sedikit mengalami kemunduran walau tidak terlalu signifikan.

Kemunduran tersebut disebabkan oleh hilangnya figur sastrawan Kalbar. “Oleh karena itu untuk meminimalisasi kemunduran muncul inisasi dari penggiat sastra Kalbar menggelorakan kembali sastra,” ujar Ketua Umum Forsas Kalbar Ilham Setia. Hal tersebut sudah dilakukan melalui Dialog Sastra Kalbar 2015 yang melahirkan organiasi Forum Sastra Kalbar (Forsas Kalbar).

Forsas sendiri diisi langsung oleh penggiat-penggiat yang bertekad memperjuangkan tetap hidupnya sastra di Kalbar. “Walaupun diketahui menulis adalah pekerjaan individu, tetapi mengembangkan sastra adalah pekerjaan bersama,”  tambahnya.  Untuk itu Forsas Kalbar mulai mempperkenalkan diri di tengah-tengah masyarakat Kalbar dengan massif melalui sosialiasi terhadap kalangan akademisi, masyarakat umum dan pencinta sastra lainnya. Sosialisasi tersebut adalah sebagai upaya menunjukan eksistensi para sastrawan Kalbar. Kali ini dengan tema membaca Ahmadun Yosi Herfanda yang merupakan salah satu sastrawan nasional. Dia adalah salah satu pemenang pengarang puisi Balai Bahasa, Ciuman Pertama untuk Tuhan.

Acara akan diisi dengan pembacaan dan pendiskusian karya-karya tersebut. Sekaligus pengenalan Ahmadun Yosi Herfanda sebagai sastrawan nasional untuk membuka diri dan memperluas wawasan dalam melihat perkembangan sastra Indonesia. "Alasan pembacaan dan pendiskusian karya Ahmaudin juga karena tepat pada tanggal kelahirannya yaitu 17 Januari," ujanya.

Ilham meyakini dengan adanya sosialisasi dan kajian karya ini dapat memperluas wawasan sehingga tidak hanya bisa mengenal sastrawan di Kalbar, namun juga sastrawan di luar Kalbar. “Saya yakin perkembangan sastra Klabar tidak hanya dinahkodai oleh Forsas Kalbar, tetapi lebih jauh dari itu, juga harus bercermin dengan perkembangan sastra nasional,” ujarnya.

Ilham melanjutkan, selain sebagai bentuk meninjau perkembangan sastra regional dan nasional, hal ini adalah sebagai bentuk ruang publik yang membuka kajian-kajian sastra komperhensif untuk tetap berlangsung dan berkelanjutan. Satu diantaranya adalah dengan mendiskusikan karya Ahmadun Yosi Herfanda.  “Kita harus melihat perkembangan sastra Kalbar maupun di tingkat nasional. Maka dari itu perlu untuk adanya pembacaan dan pendiskusian karya yang berkelanjutan,” pungkasnya.**