Solar Mahal, Nelayan Emoh Melaut

Solar Mahal, Nelayan Emoh Melaut

  Kamis, 7 April 2016 09:35
TAK MELAUT: Tampak para nelayan yang menambatkan perahu mereka di dermaga Desa Kinjil Pesisir, Kecamatan Benua Kayong. Tak melautnya kapal-kapal tersebut lantaran solar yang begitu mahal ditambah cuaca buruk. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG – Beberapa hari terakhir sejumlah nelayan enggan melaut. Selain disebabkan gelombang laut yang begitu tinggi, nelayan juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan harga yang murah. Para pelaut ini setidaknya harus membeli solar di tingkat pengecer paling murah Rp8 ribu perliternya.

Salah satu nelayan Desa Sungai Ginjil Pesisir, Arsad (35), mengaku terpaksa menambatkan perahunya beberapa hari dan tidak melaut, karena sulit memperoleh solar murah. "Banyak yang tidak melaut kalau nelayan di sini (Kinjil Pesisir, Red) karena harga solar mahal dan ombak juga besar," katanya, kemarin (6/4).

Ia mengaku harus membayar Rp8 ribu perliter solar. Padahal, pada 1 April lalu, diungkapkan dia jika harga BBM turun, termasuk solar. Saat ini, menurut dia, harga solar di SPBU hanya Rp5.150 perliter. "Tapi kenapa solar yang dijual pengecer mahal menjadi Rp8 ribu? (bahkan) ada yang lebih mahal lagi," ungkapnya.

Ia juga mengeluh karena mereka tidak dapat membeli solar ke SPBU menggunakan jeriken. Jadi, menurut dia, bagi yang ingin tetap melaut, harus mengeluarkan biaya lebih untuk membeli di pengecer. "Kita memang menggunakan kapal kecil, jarak mencari ikan juga tidak terlalu ke tengah, sekitar 5 hingga 7 mil dari darat," paparnya. "Tapi karena solar mahal, jadi ongkos kita melaut juga lebih besar. Hasilnya juga tidak menentu. Syukur-syukur kalau dapat lebih. Biasanya tidak cukup untuk balik modal untuk beli solar. Tapi, mau tidak mau harus tetap dijalani, karena tidak ada pekerjaan lain," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan nelayan lainnya, Saharudin (56). Ia membenarkan jika beberapa hari terakhir sulit mendapatkan solar dengan harga yang murah. "Iya, memang sulit. Padahal kalau tidak salah harga di SPBU sudah turun, tapi kok di pengecer tetap mahal?" katanya.

Ia berharap agar Pemerintah Kabupaten Ketapang menetapkan harga jual BBM, termasuk jenis solar pada tingkat pengecer. Ia meminta agar harga jual solar di tingkat pengecer jangan terlalu melambung tinggi dibanding di SPBU. "Kita harap Pemerintah menetapkan aturan harga jual BBM di tingkat eceran, sehingga pengecer tidak semaunya menaikkan harga jual," harapnya.

Ia mengungkapkan saat ini nelayan hanya bisa pasrah terhadap kondisi harga solar. Tapi ke depan ia berharap persoalan ini bisa segera diatasi. Hal ini, diutarakan dia, demi membantu menyejahterakan mereka, khususnya nelayan kecil. "Semoga ke depan harga jual BBM termasuk solar di pengecer bisa tertib dan terlalu mahal," tutupnya. (afi)

Berita Terkait