Smelter Dongkrak Ekspor Logam

Smelter Dongkrak Ekspor Logam

  Rabu, 16 December 2015 08:54
PENGUKUHAN: Menperin Saleh Husin memukul gong dalam pengukuhan pengurus AP3I di kantor Kemenperin, kemarin (15/12).AGUS WIRAWAN/JAWA POS

Berita Terkait

 
JAKARTA—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu hilirisasi komoditas pertambangan melalui pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian hasil tambang mineral (smelter) oleh pihak swasta. Diharapkan, pembangunan smelter itu bisa mendongkrak nilai ekspor produk logam nasional.

’’Smelter menjadi andalan kita untuk meningkatkan nilai tambah dan mendongkrak nilai ekspor industri logam. Sebab, industri logam sudah terbukti menjadi salah satu penopang ekonomi nasional,’’ ujar Menteri Perindustrian Saleh Husin pada Pengukuhan Pengurus AP3I di gedung Kemenperin, kemarin (15/12).

Program hilirisasi pertambangan sejak 2013 terbukti mampu menaikkan nilai ekspor dan menguatkan struktur industri logam. ’’Industri logam termasuk dalam tiga besar pendukung pertumbuhan PDB (product domestic bruto) nonmigas selain industri alat transportasi serta industri makanan dan minuman,’’ ungkapnya.
Menperin menjelaskan, kontribusi pertumbuhan industri pengolahan nonmigas mencapai 5,61 persen pada 2014 yang berarti lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama sebesar 5,02 persen. ’’Kita yakin, dengan terus mendorong pembangunan smelter, pertumbuhannya akan semakin tinggi,’’ tegasnya.
Dia juga mengingatkan, industri pengolahan dan pemurnian memiliki visi jangka panjang. ’’Kita memang cermati harga jual produk smelter sedang turun di pasar global, namun kita tentu harus melihat jauh ke depan dalam membangun industri ini. Efeknya perlu dilihat 5–20 tahun ke depan, jangan sebatas 2–3 tahun,’’ ucapnya.
Industri smelter logam meliputi beberapa bidang industri pengolah bijih logam seperti industri smelter besi baja, industri smelter alumina, industri smelter tembaga, serta industri smelter nikel dan ferronickel. ’’Dari semua itu, ada 16 industri smelter yang telah beroperasi dan enam lainnya diharapkan akan siap beroperasi pada 2016,’’ katanya.
Pendirian industri smelter tersebut diharapkan sangat membantu hilirisasi industri logam yang selama ini masih banyak bergantung pada bahan baku impor. ’’Smelter nikel, misalnya, akan menghasilkan ferronikel yang digunakan sebagai bahan baku stainless steel. Bisa untuk peralatan rumah tangga dan komponen otomotif,’’ jelasnya.
Selain itu, pendirian industri smelter logam dalam jangka panjang dapat mendorong industri lain di luar industri logam. ’’Contohnya, pengembangan industri peralatan elektronika dan alat komunikasi yang selama ini banyak menggunakan bahan baku tembaga untuk lapisan PCB serta industri alat pertahanan yang butuh baja khusus,’’ tuturnya. (wir/c20/agm)

 

Berita Terkait