SM-K3 di Tempat Magang

SM-K3 di Tempat Magang

  Selasa, 21 June 2016 09:34   1

Oleh: Patrice

PROGRAM Magang diperuntukkan bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (Vocational School), Mahasiswa Politeknik, Akademi atau Program Diploma serta Program S1 yang memerlukan banyak latihan praktek lapangan, seperti misalnya mahasiswa kedokteran. Bahkan para lulusan yang belum kerja atau sedang mencari kerja juga berminat mengikutinya.Dalam bahasa Inggris Magang dinamakan “Internship”; ada yang menyebutnya PKL (Praktek Kerja Lapangan) atau PRAKERIN (Praktek Kerja Industri).Pelaksanaan Praktek Kerja Industri (Prakerin) merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda dan inovasi proses pendidikan dan pelatihan. 

Banyak manfaat yang diperoleh peserta magang, yang waktunya bisa berlangsung beberapa bulan, satu semester atau bahkan bisa lebih lama lagi.Magang merupakan sarana untuk uji coba diri dalam dunia kerja, atau sebagai suatu “test drive” bagi peserta magang.Ibarat, “jika enak akan dipakai atau akan dibeli, dan jangan sakit hati jika tak jadi dipakai dan dibeli”. Setidaknya peserta magang akanmengetahui apa yang harus diperbaiki sehingga nilai jual dirinya akan semakin tinggi. Sebab, terdapat perusahaan yang lebih senang mengambil pegawai yang sudah terbiasa dengan cara bekerja mereka, dan enggan memasukan orang-orang baru. 

Tidak banyak peserta yang mampu melihat dan berhasil mendapatkan  manfaat magang. Magang yang berhasil atau produktif artinya peserta telah mampu memanfaatkan peluang belajar sambil bekerja semaksimal mungkin, terlepas dari apakah pekerjaannya sesuai dengan bidang atau jurusan peserta, apakah akan mendapatkan incentif selama magang dari perusahaan, atau seperti apa situasi dan kondisi tempat magang ? Sehingga, sesudah melewati masa magang peserta menjadi lebih paham akan situasi, kondisi serta tuntutan nyata dunia kerja; menjadi lebih dewasa dan mandiri; pun menjadi lebih siap untuk bekerja setelah lulus dari lembaga pendidikan.

Walaupun demikian, Manajemen Magang bukan perkara mudah untuk perusahaan, sekolah dan masing-masing individu peserta magang.Lembaga pendidikan akan menghadapi berbagai kesulitan, antara lain mencarikan tempat magang. Tidak banyak industri besar maupun kecil yang siap menerima.Kalaupun mendapatkan tempat magang, belum tentu sesuai dengan jurusan peserta, belum ditambah lagi dengan masalah jarak atau lokasi tempat magang.Acapkali peluang magang dilihat sebagai kebebasan dan diartikan secara keliru oleh peserta, sehingga tidak kesempatan belajar tidak maksimal.

Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara singkat dan sederhana dapat dipahami sebagai kondisi tidak mengalami kecelakaan dan sakit selama bekerja.Kecelakaan dan sakit saling berhubungan.Karena sakit, pekerja menjadi kurang konsentrasi, sehingga mengalami kecelakaan; sebaliknya kalau sudah alami kecelakaan pastilah sakit.Kategori kecelakaan itu dimulai dari yang ringan, yang memerlukan rawat jalan, rawat nginap, cacat fisik dan tidak bisa bekerja lagi hingga meninggal.Penyakit itu digolongkan sebagai penyakit fisik dan psikis, atau mental seperti stres, mulai dari yang ringan hingga berat.Berikut beberapa contoh kasus : Sejumlah siswa SMK Tri Darma yang tengah melakukan praktik magang di Gedung DPRD Kota Bogor, Jawa Barat secara mendadak ditarik pulang oleh pihak sekolah untuk dimintai keterangan. Seperti ditayangkan Liputan 6 Petang SCTV, Kamis (12/11/2015), penarikan 6 siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini diduga terkait adanya kejadian pelecehan yang dilakukan oleh pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terhadap 3 siswi SMK lainnya. 

Menurut data dari BPJS, Ketenagakerjaan di akhir tahun 2015 menunjukkan telah terjadi kecelakaan kerja sejumlah 105.182 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 2.375 orang. Kerugian Kecelakaan Kerja per tahun sekitar Rp 280 Triliun. Salah satu penyebab kejadian ini adalah pelaksanaan dan pengawasan K3 yang belum maksimal, sekaligus perilaku masyarakat industri pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, belum optimal.

Lalu, apa kewajiban lembaga pendidikan yang mengirim peserta magang ?Lembaga pendidikan perlu membuat Perjanjian Kerja Magang dengan pihak perusahaan, dan memberikan pembekalan kepada peserta magangsecara efektif, khususnya bagi siswa SMK yang masih labil kepribadiannya.Orang tua atau wali peserta magang juga perlu diingatkan untuk ikut serta memberi perhatian.Sedangkan kewajiban peserta magang sendiri tidaklah berbeda dengan pekerja lainnya yang berkewajiban (sebagai contoh) : (1). Mematuhi, melaksanakan prosedurK3 yang berlaku, (2) Memiliki kedisiplinan tinggi, (3) Tidak lalai, lengah, ceroboh selama bekerja, (4) Sikap berani melapor ke pihak perusahaan atau sekolah apabila terjadi kasus yang berhubungan dengan K3 termasuk pelecehan seksual,dan seterusnya.      

SM-K3 bersifat preventif (pencegahan), dan diperlukan partisipasi dua pihak, pemberi kerja dan penerima kerja atau peserta magang.Kecelakaan dan sakit dapat bersumber baik dari pihak perusahaan maupun peserta magang, termasuk kasus pelecehan seksual. Penyelidikan yang dilakukan pihak perusahaan akan menjawab siapa yang benar atau salah, siapa pelaku dan korban, serta faktor penyebab atau pemicunya, apakah faktor teknis atau human apabila terjadi kecelakaan kerja. 

Apakah peserta magang, yang bukan pegawai perusahaan ketika mengalami kecelakaan atau sakit juga memperoleh jaminan ? Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaran Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian, dijelaskan dalam pasal 28 : Ayat (1):  Dalam  hal  magang,  siswa  kerja  praktek,  tenaga  honorer,  atau  narapidana  yang  dipekerjakan  pada Pemberi  Kerja  selain  penyelenggara  negara  dalam proses  asimilasi,  apabila  mengalami  Kecelakaan Kerja,  dianggap  sebagai  Pekerja  dan  berhak memperoleh  manfaat  JKK  sesuai  ketentuan dalam Pasal 25 ayat (2). Pasal 28 : Ayat (2) berbunyi :     Untuk menghitung besarnya manfaat JKK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka magang atau siswa kerja praktek atau narapidana dianggap menerima upah sebesar upah terendah sebulan dari pekerja yang melakukan pekerjaan yang sama pada pemberi kerja selain penyelenggara negara tempat yang bersangkutan bekerja atau dipekerjakan. Sedangkan pasal 28 : Ayat (3) berbunyi :  Ketentuan mengenai tata cara pembayaran Iuran JKK bagi  Peserta  magang,  siswa  kerja  praktek  atau narapidana  yang  dipekerjakan  pada  Pemberi  Kerja selain  penyelenggara  negara  dalam  proses  asimilasi diatur  dengan  Peraturan  Menteri  berkoordinasi dengan instansi terkait.

Dalam pasal ini, sudah sangat jelas mengenai hak peserta magang jika mengalami kecelakaan kerja, berhak mendapatkan layanan dari BPJS Ketenagakerjaan untuk Jaminan Kecelakaan Kerja, diperlakukan seperti karyawan sepenuhnya. Bagaimana perusahaan penyedia tempat magang, dan lembaga pendidikan yang mengirim siswa/mahasiswanya menyikapi konsekwensi Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaran Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian, dalam pasal 28 : Ayat 1,2, dan 3 yang ditetapkan 30 Juni 2015, dan baru berusia setahun?

*)Staf Pengajar PT Widya Dharma Pontianak