Skala Likert

Skala Likert

Minggu, 26 June 2016 10:39   1

SEORANG dosen muda dalam minggu ini mengunjungi ruang kerja saya (LS) serta mengajak berdiskusi tentang penggunaan ‘Likert scale’-(skala Likert)  pada penelitian kuantitatif untuk menggali sikap atau pendapat seseorang atau sekelompok masyarakat. Dalam kolom ini disajikan ekstrak dari diskusi itu.

Skala Likert ini dikembangkan oleh seorang pakar psikologi sosial Amerika Serikat, Rensis Likert (lahir 5 Agustus 1903 - meninggal 3 september 1981). Skala Likert diusulkannya pada tahun 1932 (Rensis Likert, Wikipedia)  

Kepada seseorang atau sekelompok orang yang akan digali sikap atau pendapatnya disodori sejumlah pernyataan baik positif maupun negatif tentang sesuatu fenomena. Mereka diminta menyatakan pendapatnya, (lebih tepat disebut ‘tingkat persetujuannya’), dengan cara memilih sejumlah alternatif yang tersebar dari ‘sangat tidak setuju’ hingga ‘sangat setuju’. Jumlah alternatif pilihan bervariasi, ada yang genap (4, 6 pilihan) ada yang ganjil (5,7 pilihan). 

Hershey H. Friedman dari Kolese Brooklyn,  Paul J. Herskovitz dari Kolese Staten Island, Simcha Pollack dari Universitas St. John, dan Hershey H. Friedman dari Kolese Brooklyn, New York-AS, meneliti pengaruh perbedaan urutan pilihan:  ‘sangat setuju’ à ‘sangat tidak setuju’ dan ‘sangat tidak setuju’ à ‘sangat setuju’. Kepada  208 partisipan  (mahasiswa) disodori 10 pernyataan tentang keadaan almamaternya. Mereka diminta menyatakan tingkat persetujuannya dengan cara memilih alternatif baik dari ‘sangat setuju ke sangat tidak setuju’ maupun ‘dari sangat tidak setuju ke sangat setuju’.  Mereka menemukan bahwa respons para mehasiswa tersebut berbeda secara signifikan. Alternatif yang diurutkan dari ‘sangat setuju ke sangat tidak setuju’ memiliki tingkat kemiripan (degree of agreement) yang lebih tinggi  dabandingkan dengan urutan ‘sangat tidak setuju ke sangat setuju’. 

Bayu Prasad Subedi, Ph.D. Scholar di Universitas Kathmandu - Nepal, (2016), membahas tiga isu yang berkaitan analisis data tipe Likert. Ketiga isu tersebut adalah: perhitungan reliabilitas data,  dilema skala data ordinal atau interval, serta keberadaan nilai tengah (midpoint) ‘ragu-ragu’ atau ‘tidak memilih’. Hasil review kualitatif dalam disertasinya menunjukkan dua rumus untuk menghitung reliabilitas data tipe Likert, yaitu: ‘Alpha Cronbach’ dan ‘Alpha ordinal’. Rumus yang pertama cocok untuk data interval dan rumus yang kedua cocok untuk data ordinal. Ia menemukan data tipe Likert dapat bersifat baik interval maupun ordinal. Berkaitan dengan pilihan ‘midpoint’ – ragu-ragu atau tidah memilih - ia menyatakan bahwa tidak berpengaruh secara signifikan pada pilihan responden. Walaupun demikian, secara epistemologis akan lebih baik jika disediakan pilihan ‘midpoint’ karena tidak menggiring responden agar menentukan pilihannya.

Sesungguhnya, kerancauan tersebut berpangkal dari kekeliruan penggunaan istilah ‘Item bertipe Likert’ dan ‘(Data ber)-skala Likert’ (Associate Professor Harry N. Boone, Jr dan Associate Professor Deborah A. Boone, dari Universitas  West Virginia, AS; 2012).  ‘Item bertipe Likert’ merupakan sebuah bertanyaan tunggal tanpa digabungkan dengan pertanyaan-pertanyaan tunggal yang lain. Item bertipe Likert menghasilkan data ordinal, data yang bersifat urutan dari besar ke kecil atau sebaliknya. Salah satu contoh data ordinal adalah ranking raport, ranking 1, rankin 2, ranking 3 dan seterusnya.

‘(Data  ber)-skala Likert’ adalah data yang berupa skor gabungan skor pilihan dari sejumlah ‘item bertipe Likert’. Skor ini berskala interval. Salah satu contoh data interval adalah derajad panas yang dihasilkan dari termometer. Nilai ‘nol’ derajad tidak berarti tidak panas sama sekali. Menurut termometer Celcius, nol derajad berarti tingkat panasnya sama dengan tingkas panas bungkahan es yang tengah mencair.  

Prosedur analisis kedua jenis data ini tentu berbeda. Misalnya, ukuran tendensi sentral ‘data bertipe Likert’ adalah ‘median’ dan ‘modus’, ‘data berskala Likert’ adalah ‘mean’.  Sebarannya juga berbeda, secara berturut-turut adalah ‘frekuensi’ dan ‘deviasi standar’. 

John H. Batchelor dari Universitas West Florida, dan Chao Miao serta  Michael A. McDaniel dari Universitas Virginia Commonwealth, 2010, memeta-analisis 174 penelitian tentang pilihan ekstrim-‘ extreme response style (ERS)’ dari item bertipe Likert yang terbit antara 1953-2010. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang ERS-nya tinggi cenderung memilih pilihan ujung: –‘sangat setuju’ atau ‘sangat tidak setuju’. Sebaliknya, orang-orang yang ERS-nya rendah cenderung memilih pilihan tengah: ‘ragu-ragu’ atau ‘tidak memilih’. Ditemukan pula ada perbedaan pilihan menurut jender dan etnis. Sedangkan  pendidikan tidak. 

Inilah ekstrak dari diskusi kami tentang Skala Likert. Diskusi ditutup dengan membawa pertanyaan apakah temuan-temuan ini juga berlaku di Indonesia mengingat karakteristiknya berbeda. Jika mereka, pada umumnya, open ended dan setara masyarakat kita justru sebaliknya. Diduga pilihan akan lebih banyak ke arah tengah karena cenderung lebih aman. Semoga!**

Leo Sutrisno