Sintang Miniatur Indonesia

Sintang Miniatur Indonesia

  Kamis, 22 September 2016 09:49   1

Oleh DR Erdi

 

INDONESIA adalah negara kesatuan yang penuh keragaman karena terdiri dari beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Namun Indonesia mampu mempersatukan keragaman itu melalui semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang dituliskan pada perisai Lambang Negara Burung Garuda ciptaan Sultan Hamid II. Dalam konteks masyarakat majemuk, unsur keberagaman Indonesia juga mencakup kewilayahan; dimana Indonesia dibagi ke dalam 34 provinsi yang meliputi sebanyak 415 pemerintah kabupaten; sebanyak 93 pemerintah kota dan 5 kota administrasi (Wikipedia, 2016).

Bangsa Indonesia tidak hanya mampu mempersatukan keanekaragaman itu, tetapi juga mampu menerapkan kesetaraan: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi; tanpa membedakan suku, ras, daerah asal dan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Suku-bangsa yang telah dipersatukan oleh semboyan “Bhineka Tunggal Ika” itu diantaranya adalah (1) Pulau Sumatra: Aceh, Batak, Karo, Mandailing, Melayu, Lampung, Komering, dan Minangkabau. (2) Pulau Jawa: Banten, Betawi, Badui, Jawa, Karimun, Madura, dan Tengger; (3) Pulau Bali: Bali; (4) Kepulauan Nusa Tenggara: Alor, Atoni, Adonara, Belu, Bima, Bodha, Damar, Dompu, Ende, Flores, Helong, Kupang, Larantuka, Lombok, Mambaro, dan Riung; (5) Pulau Kalimantan: Abai, Adang, Banjar, Berusu, Bulungan, Busang, Dayak, Dusun, Melanau, Murik, Punan, dan Tabuyan. (6) Pulau Sulawesi: Ampana, Bada, Bajo, Bobongko, Bugis, Gimpu, Kulawi, Lampu, Makassar, Parigi, Selayar, Toli-toli, Letta, dan Toraja; (7) Kepulauan Maluku: Aru, Buru, Galela, Kei, Loda, Moa, Seram, Tanibar, dan Tobelo; (8) Pulau Papua: Asmat, Anggi, Arguni, Biak, Bintuni, Dani, Jakui, Mapia, Mimika, Moni, Muyu, Senggi, Sentani, dan Waigeo; Hampir semua wakil suku dari berbagai daerah nusantara di atas, dapat ditemui di Kabupaten Sintang dan oleh karena itu, wajar bilamana saya menyebut “Sintang is the Miniature of Indonesia Wonderful!”  

Oleh negara lain, pluransi Indonesia itu dianggap sebagai keajaiban dunia (world miracle). Bagaimana tidak, lebih dari 700-an suku-bangsa dapat hidup damai dan setara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (Sudarsono, dalam Reza, 2006).

 

Miniatur Indonesia

Kabupaten Sintang didiami oleh berbagai suku dan agama yang mampu hidup rukun, damai dan berdampingan satu dengan yang lainnya. Kelompok etnik Dayak saja mencakup sebanyak 34 sub suku, ditambah Melayu, Bugis, Bali, Timor, Aceh, Batak, Arab, Jawa dan lain-lain. Hampir semua suku di Indonesia bermukim di Kabupaten Sintang dan oleh karena itu wajar bilamana kabupaten ini disebut sebagai miniature Indonesia.

Kota yang bergelar Bumi Senentang ini telah berusia 654 tahun hampir tidak pernah terlibat konflik antar masyarakat kecuali antara masyarakat dengan perusahaan (perkebunan). Ini menunjukkan bahwa kesatuan masyarakat sudah padu di daerah ini. Fakta yang menunjukkan itu adalah kolaborasi pasangan calon bupati dan wakil bupati sintang pada pilkada tahun 2015, dengan komposisi yang multi etnis; dan pemenang pilkada adalah pasangan yang berdarah O dan AB. Meskipun demikian, masyarakat Kabupaten Sintang mengakui keberadaan pemimpin baru mereka; bahwa yang menang dalam Pilkada tahun 2015 adalah masyarakat dan pemerintah daerah. Dengan dukungan itu, bupati dan wakil bupati terpilih dapat bekerja dengan baik di bawah panglima empat pilar kenegaraan RI.

 

Moral Nasionalisme

Nasionalisme menurut Raliby (1982:98) adalah rasa kebangsaan, kesadaran diri, yang dapat meningkatkan kecintaan pada tanah air dan bangsa. Sementara Said dan Affan (1987:272) menyatakan nasionalisme sebagai rasa kebangsaan yang berupa keinsyafan untuk mengabdi dan bersatu buat negara, karena terikat oleh perasaan yang bersumber pada jiwa, dinyatakan dalam persatuan bahasa, adat dan tujuan yang sama. Memperhatikan dua pendapat di atas, maka nasionalisme adalah keadaan jiwa yang berupa keinsyafan dan kesadaran dalam berbangsa yang lahir secara alamiah karena kesamaan sejarah, kepentingan, senasib dan sepenanggungan dalam menghadapi masa lalu, kini dan akan datang.  Lalu apa relevansi semangat nasionalisme itu bagi Sintang?

Pertama; wajud dari rasa nasionalisme adalah rasa cinta damai yang dibungkus melalui saling asih-mengasihi dan semangat untuk selalu bersatu sebagai sesama anak bangsa, yang dilahirkan dan dibesarkan di tanah air yang sama. Oleh karena itu, wujud dari nasionalisme adalah terhindarnya masyarakat dari konflik yang kini menjadi fenomena umum di banyak daerah, terutama dalam rangka percaturan ekonomi dan poroses marginalisasi akibat implementasi semangat kapitalisme ekonomi. Permasalahan konflik saat ini terjadi di banyak aras. Namun, kondisi ini hampir tidak terjadi di Kabupaten Sintang meskipun penduduknya terdiri dari beragam etnis sehingga Sintang dapat ditiru bagi daerah lain untuk perwujudan masyarakat multikultur di kawasan perdesaan.

Kedua, terlibatnya masyarakat mewujudkan pemerintahan yang berwibawa, bersih dan bebas KKN. Pemerintah merupakan salah satu dari elemen pada suatu negara yang mempunyai fungsi memformulasi, mengekpresi dan merealisasi keinginan rakyat yang dijabarkan ke dalam tujuh fungsi pemerintah (OECD, 2009) yaitu Defense, Law and order; Taxation; Provision of Welfare Service; Protection of individuals; Regulating the economy; Provision of Certain Economic Service; and Development of Human and Physical Resource’s. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang tidak hanya baik dalam ukuran proses tetapi juga ukuran hasil (Besley, 2006). Dan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa dibutuhkan adanya peran masyarakat (Creighton, 2005). Pemerintahan yang baik menurut pandangan Nasionalisme (Gilbert, 1998) adalah pemerintah yang bersih dan bebas KKN yang merupakan salah satu prasyarat untuk menumbukan kepercayaan masyarakat kepada penyelenggaraan pemerintahan. Untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN, berbagai langkah pun dilakukan diantaranya adalah reformulasi kebijakan, penerapan sistem integritas aparatur, penyelenggaraan pengawasan dan pengendalian birokrasi, perbaikan pengelolaan keuangan daerah dan perbaikan sistem pengadaan barang dan jasa public (Gans, 2003). Kesemua itu, sudah terjdi di Sintang sejak 2012 hingga sekarang.

Ketiga; pemerintahan yang seamless (Linden, 1994; dan Estevez et al, 2007), yakni rakyat yang merasa pemerintah dekat dan menjadi pelindung dalam rangka membangun peradaban; menjaga sistem ketertiban social; dan membuka kapasitas bagi masyarakat untuk menjalani kehidupan secara optimal; baik dalam konteks kehidupan bernegara maupun social. Untuk itu, pemerintah telah merubah paradigm dari pemerintahan yang serba negara ke paradigma yang berorientasi pada pasar (market or public interest oriented), dari pemerintahan yang kuat, besar dan otoritarian ke orientasi pemerintahan yang small and less government, egalitarian dan demokratis, serta transformasi sistem pemerintahan dari yang sentralistik ke desentralistik. Salah satunya adalah meningkatkan peran masyarakat sebagai kekuatan yang ikut mengawal jalannya pemerintahan; termasuk pada penyelenggaraan pemerintahan oleh pemerintah daerah.

Dari catatan keuangan daerah, Kabupaten Sintang telah mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebanyak 4 kali berturut-turut dari hasil pemeriksaan keuangan oleh BPK. Prestasi ini tidak mudah dicapai dan tentu membutuhkan tidak saja kinerja aparatur yang handal dengan system yang mantap; tetapi juga membutuhkan komitmen pejabat pemerintahan untuk bekerja sesuai prosedur dan perundangan. Oleh karena itu, masyarakat sangat mendukung kinerja pemerintahan yang telah baik itu. Dimulai dari Pemerintah Bupati Milton Crosby sejak 2012 hingga sekarang, kasus korupsi di Sintang sudah tidak terdengar lagi. Sukses buat Pemerintah Daerah dan juga sukses untuk Masyarakat Kabupaten Sintang. Terus dukung pemerintahan Djarot dan Askiman sambil kita berpesan agar APBD lebih dibesarkan lagi untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Keempat, melibatkan masyarakat dalam perang melawan narkoba. Narkoba merupakan salah satu masalah terbesar yang sedang dihadapi bangsa. Oleh karena itu, pengedar ataupun kurir narkoba termasuk ke dalam bentuk extraordinary crime atau kejahatan luar biasa. Hal tersebut dikarenakan efek yang diberikan berdampak luas dan menyangkut banyak orang. Perang melawan narkoba pun mulai digalakkan, mulai dari meringkus bandar-bandar besar sampai menghukum mati tersangka kasus narkoba. Peredaran narkoba di negeri ini sudah mengkhawatirkan. Pada tahun 2015 terdapat 5,9 juta orang yang menjadi pengguna narkoba dan termasuk di dalamnya adalah anak-anak.

Sebagai daerah perbatasan, penyeludupan narkoba melalui jalur ini sangat terbuka karena kawasan perbatasan Sintang masih sangat minim dari pengawasan dan sentuhan apparat. Paling tidak, dari 58 desa di kawasan perbatasan tersebut, terdapat 15 desa yang berbatasan langsung dengan wilayah Negara Malaysia: 10 Desa berada di Kec. Ketungau Hulu yang meliputi Desa Nanga Bayan, Sungai Kelik, Jasa, Riam Sejawak, Engkeruh, Sebuluh, Rasau, Muakan Petinggi, Neraci Jaya dan Sungai Seria; dan 5 desa di Kecamatan Ketungau Tengah yang meliputi Desa Wana Bhakti, Mungguk Gelombang, Nanga Kelapan, Desa Semareh dan Radin Jaya. Oleh karena itu, dibutuhkan peran serta masayarakat dalam peredaran dan penggunaan narkoba. Nasionalisme modern saat ini adalah ikutnya masyarakat melawan narkoba sebagai bagian dari jihat untuk menyelematkan generasi Indonesia dari bahaya narkoba.

Demikian paparan miniature Indonesia dari daerah pedalaman Kalbar sebagai best practices untuk mewujudkan Indonesia Jaya. (Penulis dosen FISIP UNTAN, UPBJJ-UT dan IPDN Kalbar)