Silaturrahmi dan Halal Bihalal

Silaturrahmi dan Halal Bihalal

  Kamis, 28 July 2016 09:01   607

Oleh: H. Mujahidin

Setiap kali kita mengakhiri ramadan dan merayakan idul fitri, kita selalu mengadakan acara silaturrahmi, yang lebih populer kita sebut dengan halal bi halal. Kedua istilah itu silaturrahmi dan halal bi halal, bukanlah kata-kata Arab yang tepat. Silaturrahmi sebetulnya harus diucapkan silaturahmi. Halal bi halal juga tidak bisa dipahami orang Arab manapun, kecuali yang pernah datang ke Indonesia. Kata ini tidak ada di dalam kamus bahasa Arab. Dalam kamus Indonesia – Arab, karangan Abdullah bin Nuh, halal bi halal diartikan Al-haflah ba’da yawm ‘id fithri  - perayaan sesudah hari raya Idul Fitri.Salah satu hal yang paling menarik dalam ajaran Islam ialah bahwa Islam tidak pernah datang pada suatu kebudayaan yang kosong. Islam selalu diberi warna oleh berbagai celupan dan kebudayaan lokal. Ajaran Islam yang kita praktekkan di Indonesia seperti Halal bi halal adalah Khazanah budaya lokal Indonesia. Tetapi, disamping itu ada juga hal-hal yang sama di seluruh dunia. Di negara-negara lain tidak ada acara seperti halal bihalal. Yang demikian adalah budaya lokal guna mewarnai ajaran, guna memberikan mozaik budaya islam.

Idul Fitri adalah nilai ajaran Islam yang universal. Lebaran adalah nilai lokal yang kita berikan kepada ‘Idul Fitri. Karena itu jangan meminta dalil dari Al-Quran atau sunah nabi untuk lebaran ini. Warna-warna lokal yang diberikan oleh bangsa Indonesia seperti halal bihalal, harus dipertahankan sebagai kontribusi kita untuk memperkaya khazanah budaya Islam. Dan bukan dibasmi atau di bid’ahkan. Dalam bidang pemikiran dan budaya Islam, kita hampir tidak memberikan sumbangan apa-apa. Orang-orang Persia misalnya, bisa membanggakan diri mereka sebagai penyumbang terbesar dalam pemikiran Islam. Kita mengenal Imam Al-Ghazali, Al-Zamakhsari, dll. Mereka hampir semuanya keturunan Persia.  Yang penting bukanlah label golongan. Yang penting ialah apakah seseorang itu berjuang untuk islam atau tidak. Hanya dengan itu sajalah kita bisa menjalin silaturrahim dengan sesama kaum muslimin.Ada beberapa  hal yang menjadikan silaturrahim diantara kita ini terputus, yakni: kesenangan untuk mencari  perbedaan dan menisbahkan  berbagai macam label kepada orang lain. Perbedaan pendapat dengan orang lain ini memang penting, misalnya untuk menemukan teori baru. Berbagai  penemuan baru dalam dunia pengetahuan hanya dihasilkan oleh mereka yang mau berbeda dengan orang lain. Berikut, yang menjadikan silaturrahim kita terputus adalah berbagai label dan nama yang kita nisbahkan kepada seseorang . Misalnya Sunni-Syi’ah dan sebagainya. Setiap kali kita memasuki suatu gerakan keagamaan, kita segera memperoleh gelar-gelar baru. Padahal berbagai label dan nama itu akan menjauhkan kita dari Islam. Mestinya kita memberi gelar dengan “Islam”. Paling tidak catatlah bahwa mereka adalah manusia juga seperti kita. Carilah persamaannya dan berilah label bahwa ia manusia juga, kalau ada orang lain yang berjuang untuk Islam kita harus membantunya, dengan demikian silaturrahim diantara sesama muslim akan berjalan dengan baik. 

Pada bagian akhir Q.S. Ar-Ra’du:23, Allah S.W.T menceritakan hamba-hambanya yang beruntung pada hari kiamat nanti karena mereka diberi  anugerah untuk masuk syurga beserta orang tua, istri, keluarga, dan keturunannya. Al-Quran melukiskannya dengan indah ketika mereka datang dengan rombongan keluarganya menuju syurga. Para malaikat memberikan sambutan khusus pada mereka seraya mengucapkan “Salamun ‘alaikum bima shabartum fani’ma ‘uqbaddar”,  selamatlah bagi kalian semua lantaran kalian bersabar dahulu, inilah tempat kembali yang paling bagi kalian.(Q.S.Ar-Ra’du:24). Mereka masuk syurga bersama-sama seluruhkeluarganya. Seperti melakukan reuni pada hari akhirat. Reuni  yang mereka adakan melintasi ruang dan waktu. Reuni yang sering kita adakan didunia  adalah reuni yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita hanya dapat berkumpul dan bersilaturrahim dengan orang-orang yang berada dalam satu tempat yang tidak berjauhan dan dalam satu zaman dengan kita. Kita tidak dapat bersilaturahim dengan orang tua kita yang sudah meninggal atau keturunan kita yang belum lahir. Tapi nanti pada hari akhirat, ada orang yang bisa melakukan reuni kembali dengan seluruh keluarganya, baik yang sebelum maupun dengan sesudah mereka.  Al-Quran menyebutkan:”aba ihim wa azwajihim wa dzurriyyatihim”, generasi terdahulu, generasi yang sezaman dan generasi kemudian(Q.S. Ar-Ra’du:23).

Siapa gerangan orang yang beruntung bisa mengadakan silaturrahim pada hari akhirat beserta seluruh keluarganya?Dalam surat Ar-Ra’du disebutkan bahwa salah satu tanda orang yang beruntung nanti dihari akhirat ialah orang yang didunianya senang menyambungkan silaturrahim.”Walladzina yashilu na ma amarullahu bihi anyu shala”. Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.( Q.S. Ar-Ra’du:21).Karena didunia mereka senang menghubungkan tali silaturrahim  maka Allah S.W.T sambungkan tali silaturrahim mereka nanti diakhirat. Dalam sebuah hadits Qudsi  Allah berfirman : “ Akulah Yang  Maha Pengasih, Akulah yang menciptakan tali kekeluargaan dan Aku berikan nama kepada kekeluargaan dengan nama-Ku sendiri”. Itulah salah satu akhlak orang yang beruntung dapat dipertemukan kembali dengan keluarga pada hari akhirat nanti oleh Allah S.W.T. 

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Adat bersandikan syara’, syara’ bersandikan agama 

Agama bersandikan Kitabullah dan Sunaturrasulullah

Wallah hu a’lam