Sidang Perdana Korupsi Pengadaan Alkes Untan

Sidang Perdana Korupsi Pengadaan Alkes Untan

  Rabu, 13 April 2016 09:00
SIDANG : Ya' Irwan Syahrial sedang mendengarkan surat dakwaan yang dibacakan oleh Penuntut Jaksa Umum di Pengadilan Negeri Pontianak, terkait tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK –Dua dari tiga tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, hari ini menjalani sidang perdana pembacaan surat dakwaan. Surat dakwaan untuk M. Nasir dan Ya’ Irwan Syahrial, dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) setebal 21 halaman. Sementara tersangka Amin Andika, berkasnya baru dilimpahkan ke Kejati Kalbar, kemarin. Dalam surat dakwaan itu, M.Nasir selaku PPK dalam pekerjaan pengadaan peralatan Rumah Sakit Untan, tahun 2013 telah menetapkan HPS pada tanggal 1 November 2013 senilai Rp. 17.640.000.000.- yang dibuat atau disusun berdasarkan atau sama dengan usulan BAPSI UNTAN sebagaimana tercantum didalam surat No. 16060/UN22.14/PR/2013 tanggal 21 Oktober 2013 perihal penyusunan HPS. 

“Dari dari data jenis barang yang akan dilelang tersebut tidak seluruhnya merupakan alat kesehatan atau medic, tetapi termasuk pengadaan peralatan non medic berupa aplikasi SIM Rumah Sakit, TV LCD, komputer (laptop/PC), komputer server, printer, scanner, UPS, stabilizer, LCD, projector, dan mesin fotocopy,” jelas Penutut Umum Juliantoro.

Dalam penyusunan HPS, khususnya harga dari satuan dari spesifikasi pengadaan peralatan RSP Untan, terdakwa melakukannya dengan cara mendwonload dari internet, kemudian harga satuan tersebut ditambahkan 25 hingga 30 persen untuk setiap item barang. 

Hal ini bertentangan dengan Perpres No 53 tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah, penyusunan HPS didasarkan pada data harga pasar setempat yang diperoleh berdasarkan hasil survey

“Akibat perbuatan terdakwa M. Nasir, selaku PPK, mengakibatkan kerugian keuangan Negara sebesar Rp. 6. miliar lebih karena adanya penambahan harga satuan sekitar 25 – 30% per item jenis barang,” kata Juliantoro.

Saat pembacaan surat dakwaan, M.Nasir yang mengenakan kemeja putih itu tidak membuat eksepsi. Hanya saja, dia meminta untuk menjadi tahanan kota. Namun, usulan ini masih dipelajari oleh Hakim Ketua. 

Sementara terdakwa Ya’ Irwan Syahrial melalui penasejat hukumnya Daniel Tangkau mengatakan akan mempelajari dan menyesuasikan dengan BAP dan dakwaan sebelum membuat eksepsi. “Nanti kita jawab, saat ini belum ada, persidangan cukup baiklah ini, berjalan lancar” tukasnya. 

Irwan Syahrial ditahan oleh Penutut umum dengan jenis penahanan rutan sejak 29 Maret hingga 17 April 2016. Dalam surat dakwaannya, Irwan yang merupakan Direktur PT. ANNISA FARMA DEWI yang ditetapkan sebagai pelaksana pekerjaan pengadaan peralatan Rumah Sakit Pendidikan UNTAN TA. 2013 sumber dana APBN-P  tahun 2013.

Dalam pelaksanan pekerjaan pengadaan peralatan, PT. ANNISA FARMA DEWI telah menggunakan dokumen HPS yang disalin menjadi dokuen penawar. Padahal, isinya bersumber dari data yang tidak dikalkulasikan berdasarkan keahlian dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya..“Sehingga menyebabkan terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan Negara dalam pengadaan peralatan Rumah Sakit Pendidikan Untan tahun 2013,” jelas Juliantoro

Dalam surat  tersebut juga dinyatakan bahwa, Ya’ Irwan Syahrial telah menawarkan imbalan kepada M.Nasir yang diserahkan dalam satu amplop yang diserahkan langsung di meja kerjanya. Pemberian ini pada awal tahun 2014 ketika paket pekerjaan pengadaan telah selesai dikerjakan. 

Ada Aliran Dana 
Jaksa Kejaksaan Tinggi Kalbar, Juliantoro mengungkapkan, dari ketiga yang tersangka yang sudah ditetapkan, berdasarkan berkas persidangan ada keterlibatan pihak lain. Dia menyebut, ada aliran dana yang saat ini belum diketahui ke siapa dan berapa besarannya. 

“Ada keterlibatan pihak lain, dalam hal ini aliran uang kalaupun jumlahnya kita tak dapat jelas. Tetapi fakta itu ada, nanti sama-sama kita lihat hasil persidangannya apakah itu akan terungkap berapa jumlahnya kepada siapa uang itu,” ungkap Juliantoro.

Dijelaskan pula, saat pembacaan surat dakwaan, terdakwa M.Nasir tidak mengajukan eksepsi, artinya munggu depan dalam persidangan sudah bisa menghadirkan saksi. “Minggu depan saksi kita upayakan  yang dekat dari Untan utamanya paling banyak 5 orang,” jelasnya.

Ditanya apakah Rektor Untan, Thamrin Usman akan hadir sebagai saksi dipersidangan?. Juliantoro menyatakan jika didalam berkas perkara yang dijadikan dasar Jaka Penuntut Umum tidak dicantumkan nama Rektor. Namun, julian menyatakan jika tidak menutup kemungkinan, dalam fakta persidangan nanti dari keterangan saksi-saksi juga akan muncul. “Ada atau tidak keterlibatan Rektor kita tidak tahu kita lihat saja,” sebutnya. (gus)
 

Berita Terkait