Sibau; Kota Diujung Sungai yang Melegenda

Sibau; Kota Diujung Sungai yang Melegenda

  Selasa, 19 April 2016 09:15
CARI EMAS: Penambang emas liar yang banyak dijumpai di Sungai Kapuas.

Berita Terkait

SEKILAS Kota Putussibau tak jauh bedanya dengan kota-kota lainnya di Kalimantan Barat. Hanya saja yang menjadi istimewa dari kota ini terletak di hulu Sungai Kapuas yang memiliki panjang 1,143 kilometer. Putussibau terletak di 846 Km dari Pontianak jika ditempuh menggunakan jalur air dan 814 Km jika dilalui jalur darat. Di sebelah timur kota ini, berbatasan dengan Sarawak, Malaysia.

Letak geografis yang dekat dengan Malaysia ini menjadikan Puttusibau sebagai kota yang penuh warna kehidupan sosial. Tidak sedikit dari penduduk kota ini yang keluar masuk Malaysia dengan mudah, yaitu melalui Pos Lintas Batas Badau.

Menurut cerita, nama Putussibau merupakan gabungan dari dua kata, yaitu putus dan sibau. Putus berarti terbelah atau membelah dan sibau adalah nama sungai kuno yang membelah kota tersebut.

Sungai ini dinamakan Sibau karena di sepanjang kanan dan kiri sungai tumbuh pohon sibau yang berbuah mirip rambutan. Oleh penduduk, daun sibau dahulu biasa digunakan sebagai pewarna tikar. Jika ditumbuk dan direbus, daun sibau akan mengeluarkan warna merah. Pewarna ini tidak akan luntur dan hilang terkena air. 

Menurut hikayat yang ada, dahulu terdapat pohon sibau yang besar sekali dan entah kenapa pohon itu tumbang membelah sungai. Dari situlah nama kota ini bermula. Cerita ini menjadi legenda kota yang dipercaya penduduk Putussibau hingga sekarang.

Melalui cerita ini penduduk mengikatkan identitas budaya dan sosialnya. Sebagai penduduk perbatasan, meski mereka sering keluar masuk Malaysia, namun sejarah kota ini mengikat mereka untuk selalu mengimajinasikan Indonesia sebagai tempat lahir.

Penduduk Putussibau adalah keturunan dari orang Dayak Taman dan Kantu’. Namun hanya Dayak Taman yang dalam perkembangannya menetap di Putussibau. Anak keturunan Dayak Taman inilah kemudian yang menurunkan generasi Putussibau sekarang ini.

Sementara itu, Dayak Kantu’ bermigrasi ke hilir sungai. Kedua suku ini berasal dari pedalaman hutan Kalimantan Timur. 

Dalam perkembangannya, wilayah Putussibau kedatangan orang-orang Dayak Kayan. Mereka disinyalir sebagai warga kerajaan Selimbau yang pernah berkuasa di wilayah Putussibau. Namun setelah kedatangan Belanda, kerajaan ini hancur. Konon penduduk Putussibau beragama Islam. Hal itu disebabkan oleh pengaruh Dayak Kayan yang sudah memeluk Islam.(arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait