Siap Menjadi Rumah Sakit Rujukan Regional

Siap Menjadi Rumah Sakit Rujukan Regional

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:32
KUNJUNGAN: Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek didampingi Wali Kota Pontianak Sutarmidji berkunjung ke RSUD Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, Kamis (4/8). Nila meninjau pelayanan serta melihat rencana pengembangan rumah sakit. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek sangat mengapresiasi adanya Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohammad Akaldrie. “Bagus sekali. Kalau saya boleh bilang, ini merupakan inovasi dari Pak Wali kota, melihat Pontianak tidak memiliki rumah sakit daerah,” katanya usai mengunjungi rumah sakit tersebut, Kamis (4/8) lalu.

Selama ini rumah sakit yang ada di Kota Pontianak hanyalah RSUD Soedarso yang berstatus rumah sakit nasional. RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie ini nantinya akan diproyeksikan menjadi rumah sakit regional di antara puskesmas dan rumah sakit nasional yang sudah ada. Setelah itu, rumah sakit ini pun akan menjadi terhubung secara vertikal dengan pusat. “ini yang mau diurus nantinya,” terangnya.

Salah satu yang menjadi perhatiannya, rumah sakit umum daerah tersebut tidak dibangun di pusat kota, tetapi di pinggiran Kota Pontianak. Hal itu akan memudahkan masyarakat di daerah sekitarnya untuk mengakses rumah sakit ini. “Apresiasi sekali,” katanya lagi.

Setelah sebelumnya ia bersama Walikota Pontianak Sutarmidji, berkeliling untuk melihat kondisi bangunan rumah sakit yang pengerjaannya sedang berlangsung. Ia juga menyempatkan diri melihat beberapa fasilitas utama yang dimiliki rumah sakit tersebut.

Menurutnya, perencanaan rumah sakit itu sudah diatur dengan sangat baik. Sumber daya manusia berupa tenaga kesehatannya juga sudah dipenuhi. “Saya kira ini betul-betul bermanfaat bagi masyarakat di Pontianak dan sekitarnya,” ujarnya.    

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, lawatan Menkes Nila hari itu ke RSUD kebanggan Pontianak tersebut merupakan permintaan Menkes Nila sendiri untuk melihat kondisi di dalam rumah sakit yang masih terbilang baru tersebut. “Nantinya rumah sakit ini akan diurus menjadi rumah sakit rujukan regional. Kita harus tingkatkankan tipenya menjadi tipe B,” katanya kemarin.

Pembangunan bangunan baru yang berada di bagian belakang rumah sakit pun direncakan akan selesai pada akhir tahun 2016 ini. “Semua peralatan akan dilengkapi semuanya, pusat akan membantu,” jelasnya. Akan tetapi, Tetapi ada beberapa peralatan seperti cuci darah atau hemodialisa, pihak rumah sakit akan bekerjasama dengan pihak ketiga. “Sepanjang tarifnya tidak melebih tidak melebihi yang ditanggung oleh BPJS,” katanya lagi.

Saat ini yang perlu diperhatikan dan dikembangkan ialah peralatan rumah sakit. Peralatan rumah sakit itu lebih mahal dari biaya membangun gedungnya. Apabila biaya membangun gedung rumah sakit bisa mencapai angka Rp 23Milyar, peralatan di dalamnya dapat membutuhkan biaya hingga Rp 150Milyar – Rp 200Milyar. 

Ia mencontohkan harga CT-Scan yang memiliki 18 slice, harga termurahnya berkisar Rp 15Milyar – Rp 20Milyar. Sehingga nantinya banyak kerja sama dengna pihak ketiga. SDM sudah cukup bahkan sekaran gin iada beberapa yang akan pulang dari sekolah dokter spesialis. “Saat rumah sakit ini masih menjadi rencana, saya sudah dorong tenaga ahli dari Pontianak untuk melanjutkan sekolah kedoketerannya,” katanya.

Hingga kini, banyak dari mereka yang pulang ke Pontianak dan siap bertugas di rumah sakit tersebur. “Ada yang sedang belajar, ada juga yang pindah ke sini,” katanya lagi. Bahkan, katanya, keunggulan rumah sakit tersebut ada pada dokter bedah syaraf yang tidak dimiliki di rumah sakit lain.(mif)

Berita Terkait