Siap Hadapi Proses Persalinan Normal

Siap Hadapi Proses Persalinan Normal

  Jumat, 1 December 2017 10:19

Berita Terkait

Setiap pasangan pasti merasa bahagia menyambut hadirnya buah hati. Proses persalinan normal pun menjadi keinginan para ibu yang sedang mengandung.  Namun, tak sedikit yang takut menghadapi proses persalinan. Apalagi membayangkan jalannya pembukaan yang tak sebentar. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Proses melahirkan secara caesar atau seksio sesarea banyak dipilih oleh mereka yang tak mampu menahan sakit. Namun, adapula sebagian ibu yang harus menjalani proses caesar karena mengalami ketidaksesuaian, seperti kepala janin dan panggul ibu (disproporsi sefalopelvik), kelainan fungsi rahim, dan plasenta berada di bawah rahim (placenta previa). Atau, keadaan janin yang sangat besar, janin yang melintang pada saat mau dilahirkan, serta keadaan gawat janin.

Wakil ketua IBI Kubu Raya, Normawati, A.Md., Keb mengatakan tidak selamanya proses melahirkan secara normal menakutkan. Banyak ibu yang merasa takut menjalani proses kelahiran secara normal karena proses pembukaan yang tidak sebentar, dimulai dari pembukaan satu hingga pembukaan sepuluh. Ditambah lagi dengan proses episiotomi (penyayatan sebagian area vagina di dekat anus). Banyak ibu yang kerap membayangkan betapa sakit dan nyerinya proses penyayatan tersebut. Begitupula pada proses penjahitannya. Karena tidak sedikit ibu yang harus memiliki puluhan jahitan saat melahirkan. 

Bidan yang bertugas di Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya ini mengatakan, rasa sakit dan proses pembukaan yang lama lumrah dialami ibu. 

Kelahiran memiliki tiga kala, yakni kala pertama, kedua, serta ketiga dengan proses fase awal dan fase aktif. Pada fase awal, leher rahim ibu akan menipis dan mulai terbuka. Kontraksi ringan akan ibu rasakan pada fase ini. Biasanya, kontraksi berlangsung selama 30 hingga 90 detik dengan jarak kedatangan yang teratur, misalnya tiap 5 menit sekali. 

“Seiring berjalannya waktu, leher rahim ibu akan mulai terbuka sedikit demi sedikit. Ibu akan melihat lendir bercampur darah keluar dari vagina,” ujarnya. 

Ketika fase awal berakhir saat pembukaan leher rahim mencapai empat sentimeter. Normawati menuturkan waktu pasti yang diperlukan untuk mencapai pembukaan tersebut berbeda-beda pada tiap ibu. Jika ini kehamilan pertama ibu, fase ini pada umumnya akan memakan waktu enam hingga dua belas jam. Tapi, adapula ibu hamil yang mengalami lebih lama atau lebih pendek waktunya. Apabila, sebelumnya Anda sudah pernah melahirkan, kemungkinan fase ini akan berjalan lebih cepat.

“Pada fase aktif, leher rahim ibu hamil akan melebar lebih cepat. Pembukaan leher rahim pada fase ini mencapai 10 sentimeter. Kontraksi yang datang pun akan lebih kuat, lebih lama, dan lebih sering,” tuturnya.

Tidak jarang wanita hamil kesulitan membedakan kontraksi palsu. Kontraksi palsu atau dikenal dalam dunia medis sebagai kontraksi Braxton Hiks merupakan hal normal yang terjadi pada wanita hamil. Kontraksi semacam itu merupakan persiapan rahim untuk menghadapi persalinan. Kontraksi palsu ditandai dengan mengencangnya otot-otot rahim. Umumnya, terjadi sekitar 30 detik, tidak lebih dari dua kali per jam dan bisa saja terjadi beberapa kali sehari. Kontraksi palsu hanya terjadi 1 hingga 2 kali dalam satu jam dan hanya beberapa kali muncul dalam sehari.

“Kontraksi palsu juga tidak teratur, dan jarak waktu kontraksi tidak berdekatan. Sedangkan kontraksi persalinan akan semakin sering mendekati waktu persalinan, teratur, dan jarak waktu antara kontraksi akan memendek,” tambahnya. 

Pada saat menuju kelahiran, tubuh secara alami memberi jalan keluar untuk bayi lahir. Otot-otot di sekitar jalan keluarnya bayi merenggang, sehingga bayi dapat melewatinya. Secara perlahan-lahan posisi bayi Anda akan turun ke jalan lahir. Disarankan untuk bersabar saat menunggu bayi turun dan tidak perlu tergesa-gesa untuk mendorongnya agar cepat keluar. Biarlah rasa ingin mendorong datang secara alami dan jangan lupa mengatur pernafasan. Bersabar juga bisa membuat tubuh Anda rileks dan tidak stres.

Normawati mengatakan, setelah bayi lahir, ibu seperti merasakan kelegaan dan rasa bahagia yang tidak terbendung. Ibu bisa memeluk dan menciumi bayi dengan penuh rasa sayang. Di tahapan ini juga, bisa digunakan untuk memberikan inisiasi menyusui dini (IMD) kepada si Kecil. IMD sangat baik untuk bayi. Kebanyakan, ibu yang menjalani persalinan normal tidak ada hambatan untuk memberikan IMD, begitupula bagi ibu yang menjalankan proses persalinan caesar. Terkecuali bagi ibu yang menjalani proses caesar karena ada indikasi penyakit tertentu.

Terkadang banyak ibu yang merasa takut vaginanya dijahit karena ada sobekan saat persalinan. Normawati menjawab bila ibu pintar dan sabar saat proses ngedan, baik mengatur posisi dan menarik nafas, jalur vagina tidak akan mengalami kerobekan, sehingga tidak perlu dijahit. Jangan takut juga untuk memiliki luka jahitan, karena teknik jahitan sekarang sudah canggih. Biasanya, sebelum bersalin bidan mengajarkan cara menarik nafas dan ngedan yang baik. Terkadang ngedan sembarangan itu yang membuat robek. 

Kelebihan persalinan normal lainnya adalah kekebalan tubuh bayi jauh lebih baik. Hal ini dikarenakan saat melewati jalan lahir, bayi melewati perineum dan vagina banyak dihuni oleh koloni mikrobiota. Mikrobiota menempel pada tubuh bayi dan memberikan imunitas terhadap infeksi dan alergen. Daya tahan (kekebalan) tubuh bayi terhadap alergi lebih tinggi dan risiko asma juga rendah. 

“Sehingga, tidak perlu takut untuk menjalani proses kelahiran secara normal. Karena ada kepuasaan batin tersendiri, ketika berhasil melewati persalinan dengan baik. Rasanya serasa lepas dari memikul beban yang berat,” pungkasnya.(**)

Berita Terkait