Siaga Tanggulangi Karhutla

Siaga Tanggulangi Karhutla

  Rabu, 17 Agustus 2016 10:25

Berita Terkait

PONTIANAK - Penanggulangan permasalahan kebakaran hutan dan lahan merupakan tugas dan tanggungjawab semua pihak. Sinergitas harus tetap terjaga mulai dari upaya sosialisasi, pencegahan hingga penanganan. 

Hal tersebut diungkapkan Kapolresta Pontianak Kombes Iwan Imam Susilo usai menggelar apel kesiapan terkait karhutla di Kantor Wali Kota Pontianak, Selasa (16/8) pagi. "Kebakaran lahan, kebun maupun hutan tentu bukan gawai polisi saja, tetapi gawai kita semua," ucapnya.

Sebab, lanjut dia, dampak dari kebakaran itu dirasakan oleh semua lapisan masyarkat. Terjadinya kebakaran bukan menjadi tugas Polri saja, tetapi semua stakeholder. Untuk itu peran aktif dari pemerintah kemudian, unsur TNI, Polri, pengusaha perkebunan diharapkan bisa berjalan dengan baik. "Semua harus saling bekerjasama mengatasi dan menanggulangi hal ini," katanya.

Dampak dari asap hasil pembakaran juga dapat menganggu kondisi kesehatan. Indonesia digugat internasional karena kebakaran ini mengakibatkan kerugian dunia serta dirasakan langsung oleh masyarakat luas. 

"Juga berdampak terhadap cuaca dan udara menjadi tidak bagus, tentu bisa mengganggu kesehatan. Kesadaran masyarakat menjadi penting. Upaya preventif kami lakukan dengan memberikan kesadaran yang tiada hentinya," katanya.

Kemudian untuk upaya preventif dilakukan berupa penanganan langsung ke titik rawan kebakaran. Kemudian juga dilakukan pemetaan terhadap wilayah yang rawan terjadi karhutla. "Namun sekali lagi kebakaran yang terjadi di titik itu bukan mereka tidak tahu. Di sini ada upaya masyarakat mencari keuntungan, kalau mengolah menggunakan metode lain mahal dan memilih cara mudah dengan dibakar," tuturnya. 

Dia berharap masyarakat bisa memahami bahwa mengolah lahan dan kebun dengan cara membakar bisa mengganggu dan merugikan. "Di wilayah hukum kami yang menjadi titik rawan itu ada di Sungai Raya dan Rasau. Dimana disitu juga merupakan lintasan penerbangan dan jika tertanggu akan merugikan masyarakat," imbuhnya.

Dia mengapresiasi upaya kreatif dari petugas pemadam kebakaran dengan memodifikasi sepeda motor yang dapat difungsikan memadam api. Motor operasional modifikasi kreatif dari pemadam, dengan tujuan untuk masuk ke medan yang tidak terjangkau oleh mobil. "Seperti kejadian kemarin siang di KM 40 Ambawang kami tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa memadamkan di pinggir karena susah menjangkau," katanya.

Dalam waktu dekat, Kapolresta akan melakukan rapat staf dan mengumpukan seluruh Kapolsek. Untuk merealisasikan di wilayah kerja masing-masing dengan mengadakan alat pemadam dengan memodifikasi kendaraan yang ada. "Kami ada kendaraan dan tinggal memperbaiki mesin sekitar Rp7 juta sudah bisa operasional dengan melibatkan CSR," akunya.

Polresta sendiri memiliki 12 Polsek dan akan dilengkapi dengan kendaraan khusus untuk menjangkau titik-titik lokasi. "Untuk jumlah kasus sampai Juli yang sudah P21 ada dua tersangka dan delapan saksi, dan sekarang penyelidikan ada dua TKP," ungkapnya.

Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan, persoalan asap ini harus dicegah sebelum terjadi. "Karena asap datang kita tidak bisa mengusir dan di Pontianak ini masih ada 20 persen lahan gambut dan terus kita antisipasi jangan sampai terbakar. Ditambah kondisi cuaca musim panas dan mudahan tidak seperti tahun lalu," katanya.

Untuk itu, ia mengedepankan upaya preventif. "Jadi begitu ada kebakaran kami langsung keroyokan dan kami perintahkan camat lurat RT/RW memantau wilayah masing-masing dan jika ada kejadian langsung bisa mengarahkan armada ke lokasi. Selain itu, kami juga mengevaluasi penyebab kebakaran ini disengaja atau gimana. Karena memang ada kaitan hukum dan memberikan pelajaran agar tidak terulang," ungkapnya.

Dikatakan Edi, titik rawan di wilayah Pemkot Pontianak ada di wilayah Selatan dan Utara di Jalan Kebangkitan Nasional, ini terpantau dari titik satelit melalui asap yang dikeluarkan. "Tujuan dengan kegiatan ini untuk siaga dan siap dengan koordinasi yang lebih intens dengan pencegahan dan penanggulangan," pungkasnya.

Kejadian kebakaran lahan di Kecamatan Pontianak Utara dan Tenggara yang memakan berhektare lahan beberapa hari lalu, kata Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin jangan sampai terulang. 

“Sejauh ini respon BPBD terkait kejadian kebakaran dibeberapa titik saya nilai maksimal. Saya pinta BPBD pantau terus lokasi-lokasi rawan kebakaran,” ucapnya kepada Pontianak Post, Selasa pagi.

Diketahui kebakaran lahan yang terjadi dibeberapa tempat masih dicari pelakunya. Agar kejadian ini tak terulang kembali, menurutnya pelaku harus disanksi. Dampak kebakaran lahan, Pontianak kini diselimuti kabut asap. “Memang kalau pagi atau siang kabut asap tak nampak. Kabut asap jelas terasa saat malam,” ujarnya.

Pengaruh bagi kesehatan tentu ada. Apabila fisik masyarakat tak kuat dapat mengganggu saluran pernafasan. Dinas Kesehatan diminta sigap. Apabila kabut asap semakin tebal, masker harus dibagikan. “Alat ISPU milik BLH juga harus harus diperbaiki, agar kita tahu kualitas udara di Pontianak,” jelasnya.

Ia berharap kejadian bencana asap akibat kebakaran lahan tahun lalu tak terulang. Semua harus kerja sama. kabupaten tetangga, yang lahan gambutnya banyak harus lakukan monitoring ekstra. Cuaca panas merupakan salah satu pemicu kebakaran lahan terjadi. Ia minta masyarakat jangan bakar lahan.

Untuk di Pontianak, sosialisasi agar tak membakar lahan terus dilakukan BPBD Pontianak. Agar pesan tersebut sampai, ia minta camat dan lurah turun sosialisasi. 

“Jika bertumpu ke BPBD tentu tak bisa, makanya saya pinta camat dan lurah ikut mengimbau masyarakat agar tak membakar lahan. Wilayah rawan kebakaran itu ada di Kecamatan Pontianak Selatan, Tenggara, dan Utara, terutama wilayah pinggiran,” jelasnya.(bar/iza)

Berita Terkait