Shella Rimang; Penulis Kalbar Luncurkan Buku Puisi Kedua

Shella Rimang; Penulis Kalbar Luncurkan Buku Puisi Kedua

  Kamis, 26 Oktober 2017 10:00
BUKU: Shella Rimang dengan buku puisi keduanya yang baru diluncurkan belum lama ini. GUSTI EKA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Puisi untuk Mengingat Waktu yang Terlupakan 

Penulis Puisi asal Kalbar, Sheilla Rimang (22) kembali menerbitkan karyanya. Puisi-puisi yang lahir dalam buku ini merupakan hasil perenungan dan kegelisahan terhadap sosial masyarakat sekitar. Penulis wanita kelahiran Kapuas Hulu ini memandang puisi adalah sebuah karya untuk mengingat waktu yang terlupakan.

GUSTI EKA, Pontianak

“Untuk kenangan, yang kelak akan berkhianat,” tulis Shella dalam ontologi puisi berjudul “Dialog 00.45”. Kalimat itu merupakan kalimat pembuka ketika pertama membuka buku tersebut.  Dialog 00.45 merupakan karya puisi kedua yang dibukukan oleh Shella. Sebelumnya setahun yang lalu, ia telah melahirkan “Perempuan Puisi” sebagai karya pertamanya dalam menulis puisi. 

Malam itu. Shella murah senyum, setelah memesan minuman, ia kemudian bercerita tentang buku keduanya ini. Bagi Shella karya ini merupakan karya yang lebih matang dari proses pembuatannya daripada buku puisi yang pertama. Kendatipun demikian, buku yang pertama tetap berkesan baginya.  

“Bagi saya puisi itu, kalau aku bilang, puisi adalah aku, dan aku adalah puisi,” kata Shella seraya kembali tersenyum. Shella sangat gemar menulis puisi, bahkan sejak SMP ia telah menulis puisi. Baginya puisi merupakan cara untuk mengingat waktu yang mudah dilupakan.

Tidak ada alasan khusus kenapa ia menulis puisi, bagi mahasiswa yang baru saja menyelesaikan studinya di Univ. Tanjungpura ini puisi adalah cara paling mudah untuk mengingat sebuah peristiwa. “Aku mencoba mengingat karena aku adalah orang yang pelupa, untuk mengingat itu aku menulis puisi,” katanya.

Puisi yang ditulis Shella dalam buku ini sebagai penanda sekaligus pengingat, hal itu terlihat dalam Dialog 00.45 yang terdapat tiga bagian dan terdiri dari 64 puisi ini. Bagian pertama yang berjudul sajak dua puluh satu, kedua sajak bulan, dan ketiga sajak untuk muara. 

“Sajak dua puluh satu saya tulis karena angka itu spesial, selain saya lahir tanggal 21, saya juga mulai menulis puisi ini pada usia 21 tahun. Ini sebagai pengingat, karena kenangan kelak akan berkhianat dan kita mudah melupakan,” tuturnya.

Karya-karya Shella lahir dari kegelisahan sosial masyarakat sekitar, bahkan terhadap kehidupan, lingkungan dan diri sendiri. Ia ingin merespon apa yang terjadi di sekitarnya.  “Aku sering terbangun tengah malam. 00:45 menunjukan waktu dan aku sering berdialog dengan cermin dan diri sendiri,” jelasnya.

Tidak hanya itu, puisi-puisi yang lahir dalam buku kedua ini ditulis Shella terhadap hasil bacaannya. Ia suka mengekplorasi gaya dan teknik banyak penulis dalam menulis puisi. Apalagi ia juga terinspirasi dengan penyair Sapardi Joko Darmono, Aan Mansyur dan juga Joko Pinurbo.

“Karya-karya mereka yang menjadi panutan. Karya mereka juga mengganggu pikiran saya. Sehingga saya banyak terinspirasi dari puisi-puisi yang ditulis penulis-penulis itu,” katanya sesekali meneguk minumannya.

Buku  kedua ini bagi Shella juga sebagai satu permintaan maaf untuk orang tua dalam bentuk puisi. Menurutnya ini merupakan permintaan maaf seorang anak karena lama menyelesai kuliahnya. 

“Hari ini baru sampai ke bapak, ia bilang terima kasih. Dia paling bersemangat lahirnya buku ini. Buku ini permintaan maaf untuk orang tua karena belum selesai,” ucapnya sambil tertawa.

Lahirnya buku kedua ini memotivasi ia untuk kembali menulis dan melahirkan karya-karya lainnya. Selain itu ia tidak berharap orang mengenal namanya, karena ia ingin orang mengingat seperti ia mengingat peritiwa dalam puisi di buku ini.

“Bukan tidka mau dikenal, tapi mereka harus mengingat aku. Karena dilupakan itu sakit. Walaupun aku tidak hidup 100 tahun lagi, aku ingin diingat banyak orang,” ucapnya sekali lagi dengan senyum. (*)

Berita Terkait