Sertifikat Profesi, Gunakan Alat Ramah Lingkungan , Nelayan Singkawang Dipersiapkan untuk Hadapi MEA

Sertifikat Profesi, Gunakan Alat Ramah Lingkungan , Nelayan Singkawang Dipersiapkan untuk Hadapi MEA

  Sabtu, 13 February 2016 10:33
BANTUAN: Nelayan Singkawang dan sekitarnya mendapat pelatihan serta bantuan alat tangkap yang ramah lingkungan guna menghadapi pasar bebas ASEAN (MEA) OZY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, nelayan tradisional pun dipersiapkan. Baik dari Sumber Daya Manusia (SDM) hingga peralatan. Mereka pun harus dibekali pengetahuan untuk tetap mengutamakan ramah lingkungan saat menangkap ikan agar ekosistem laut terus terjaga. FAHROZI- Singkawang

PULUHAN orang, Jumat (12/2) siang terlihat berkumpul di aula yang terletak di tepi Sungai Singkawang, tepatnya di TPI Kuala. Berseragam biru laut. Mereka adalah para nelayan tradisional se Kota Singkawang sedang mengayam benang untuk membuat alat tangkap ikan (jaring ikan) yang digunakan untuk menangkap ikan saat melaut.

Tapi apa yang sedang dibuatnya, bukan jaring atau alat tangkap ikan yang selama ini digunakan nelayan. Mereka dengan didampingi pemateri, sedang membuat alat tangkap yang ramah lingkungan atau disebut jaring insang.Alat tangkap ini, belum pernah digunakan nelayan-nelayan Singkawang. Padahal dalam rangka menindaklanjuti Peraturan Menteri KKP Nomor 2 Tahun 2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (Trawls) Dan Pukat Tarik (Seine Nets), alat tangkap yang digunakan harus ramah lingkungan. Guna melindungi ekosistem laut dari kehancuran.

“Kalau pukat milenium ini (jaring Insang), selektifitasnya tinggi. Ikan yang tertangkap akan rata ukurannya. Hal ini berbeda jika menggunakan pukat tarik dan hela, yang seluruh jenis ikan akan terperangkap termasuk merusak ekosistem bawah laut. Ke depannya, akan berdampak hilangnya berbagai jenis ikan sebagai salah satu kekayaan

perairan Indonesia,” kata Asril, dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BP3) Tegal yang datang ke Singkawang untuk memberikan materi tentang alat tangkap ramah lingkungan kepada nelayan Singkawang, Jumat (12/2).

Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan. Sebutnya, seperti pengakuan nelayan Singkawang. Belum ada yang menggunakan. Sementara di wilayah Pantura di pulau Jawa, alat ini sedang disenangi para nelayan.“Dilihat dari harga, memang agak tinggi. Namun jika dilihat dari hasil tangkapan, bisa lebih signifikan. Dan ini telah dilakukan nelayan-nelayan di Tegal maupun daerah Pantura di pulau Jawa,” kata Asril.

Terlebih adanya Permen KKP Nomor 10 Tahun 2011. Ada dua dari sepuluh alat tangkap yang dilarang digunakan di perairan indonesia. Hal ini adalah bentuk bagian dari ketegasan Menteri KKP, Susi Pudjiastuti.Selain telah berani memberikan sanksi berat jika ada nelayan asing yang secara ilegal menangkap ikan diperaian Indonesia.“Kalau tidak ada tindakan, yakni salah satunya penggunaan alat tangkap ramah lingkungan. Bisa jadi 20 tahun lagi, anak cucu kita tak bisa menikmati kekayaan alam bawah laut. Karena sudah rusak dengan alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan ataupun ulang pelaku illegal fishing,” katanya.

Selain mendapatkan materi tentang alat tangkap ramah lingkungan. Nelayan Singkawang juga mendapatkan pengetahuan kenavigasian. Lantaran selama ini, khususnya nelayan tradisional di Singkawang, masih sifatnya prediksi atau membaca alam saat akan turun melaut.“Ada sembilan ilmu yang seharusnya dikuasai nelayan. Membaca peta, menggunakan alat navigasi, komunikasi, P2TL, keselamatan, alat penolong, ada olah gerak serta hukum perkapalan,” kata Wiryadi, dari BP3 Tegal yang menyampaikan materi kenavigasian.

Seperti diakui nelayan Singkawang. Saat melaut, alat penolong saja terkadang tidak ada. Padahal, apa yang diperlukan adalah demi keselamatan diri sendiri.“Selama ini nelayan belum bisa menghargai jiwa sendiri. Diharapkan dengan kegiatan ini, nelayan Singkawang khususnya lebih memahami, termasuk marka-marka di  laut yang ada tergambar dalam peta,” katanya.

Kabid Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Singkawang, Mulyadi Nursidik SPI mengatakan kegiatan kerja sama dengan BP3 Tegal, Jawa Tengah ini. Merupakan bagian dari pembinaan yang dilakukan kepada seluruh nelayan di kota ini. Terlebih dalam rangka menghadapi MEA.

“Agar nelayan di Singkawang, lebih memiliki SDM. Kita mendatangkan pemateri dari Tegal untuk menambah pengetahuan kepada 30 nelayan Singkawang. Jika nelayan yang dibawa ke Tegal, anggaran yang dikeluarkan akan besar, sementara kondisi anggaran yang ada kurang mendukung. Jadi kita datangkan pemateri saja,” kata Mulyadi.Menurutnya, ini kegiatan kali pertama dilaksanakan, yakni berlangsung sejak Jum’at (12/2) hingga Senin (15/2). Dengan materi penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dan navigasi. Ke depannya, kegiatan serupa akan dilakukan kembali. (*)

Berita Terkait