Serawak Jalin Kerjasama Dagang

Serawak Jalin Kerjasama Dagang

  Rabu, 12 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

PONTIANAK –Sebanyak 17 orang Delegasi Serawak Manufacturing Associations (SMA) melakukan kunjungan kerja ke pemerintah Provinsi Kalbar. Selain untuk memperkuat hubungan antar kedua negara, lawatan tersebut juga membahas peningkatan kerjasama bidang perdagangan, menyusul akan segera dibangunnya Dry Port di Entikong.  Ketua Kadin Kalbar, Santyoso Tio mengatakan tujuan kedatangan 17 Delegasi untuk melakukan kunjungan ke Kanwil Bea Cukai dan melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur Kalbar, Cristiandy Sanjaya.

“Mereka ingin memperkuat hubungan dua negara. Selain itu, juga membahas peningkatakan kerjasama bidang perdangan,” kata Tio saat menjamu rombongan orang Delegasi Serawak Manufacturing Associations di Pontianak, Senin (10/10) malam.

Kunjungan itu kata Tio, juga untuk menyambut rencana pembangunan Dry Port di Entikong yang rencananya segera dibangun oleh Presiden Joko Widodo yang ditargetkan Desember ini rampung. “Kami berharap, 2017 sudah bisa dibuka. Jadi kami masing-masing sudah antisipasi,” ujarnya. Menurut Tio, keberadaan Dry Port di Entikong sangat potensial sebagai peluang bisnis. Dengan adanya Dry Port itu, dapat menghemat biaya logistik. Selama ini sebut Tio, belum tersedianya pelabuhan International, ongkos biaya logistik mahal. Untuk suplay barang misalnya, harus transit ke berbagai pelabuhan baru bisa sampai ke negara tujuan.

“Di Serawak, ada pelabuhan international Senari. jarak antara Sosok dan Serawak dekat daripada harus ke Pontianak. Dengan adanya Dray Port, barang bisa diimpor melalui Serawak, dan bisa langsung ke tujuan misalnya Jepang. Jika melewati Pontianak, tentu akan transit dulu ke Jakarta, Singapura dan pelabuhan lainnya. Ini akan memakan waktu dan biaya logistik yang mahal,” papar Tio.

Kadin Kalbar juga menyarankan, agar kedua negara membangun kawasan industri di perbatasan. Menurut Tio, ini peluangg bisnis yang bagus. Apalagi, saat pemerintah dalam hal ini Bea Cukai juga gencar akan membangun Pusat Logistik Berikat (PLB). “Kami mendorong pemerintah agar membangun kawasan industri di perbatasan, agar pertumbuhan ekonomi perdagangan di perbatasan dimulai,” imbuhnya.

Disebutkan Tio, sudah seharusnya Kalbar bekerjasama dengan Malayia dalam hal perdagangan. Dia melihat, ada banyak bahan baku yang bisa diolah menjadi makanan di Kalbar seperti: Nanas, keladi, kelapa. Dengan dibangunnya pabrik pengolahan di Kalbar, tentu saja bisa menjadi kerjasama yang baik antar kedua negara.

“Sebab saat ini ada makanan dibuat di Serawak  disambut baik oleh konsumen di indonesia tidak hnaya di kalbar. Kita punya banyak bahan baku, mereka punya keunggulan tentang pengolahan bahan makanan,” sebut Tio. Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi dalam kunjungannya ke Pontianak belum lama ini mengatakan, pemerintah memastikan pembangunan pelabuhan international dan Pusat Logistik Berikat di Kalbar. Menurut Budi, kehadiran pelabuhan dan PLB ini mampu menghubungkan Kalbar dengan pasar international. “Pusat Logistik Berikat (PLB) kami akan bikin di sini, kami akan jadikan satu,” kata Budi belum lama ini.

Pemerintah saat ini sebut Budi, tengah menargetkan 19 PLB baru yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Menurut dia, keberadaan PLB memberikan dampak positif bagi jasa penyebrangan barang, juga menjaga stabilisasi harga produk. “Tentu saja berdampak pada pemerataan ekonomi,:” jelasnya.  Menurut Budi, kebutuhan logistik di setiap daerah sangat penting dalam menunjang roda perekonomian. Dia mencontohkan, keberadaan pelabuhan tol laut misalnya, sangat berpengaruh terhadap suplay logistik serta disparitas harga.

“Disparitas harga di tempat terpencil sangat mengkhawatirkan, mahal sekali itu,” ungkapnya. Seperti di Kepulauan Natuna misalnya, logistik di sana di suplay dari Jakarta. Dia berkinginan, melakukan Playroad logistik dari jakarta ke Pontianak dan akan dipersiapkan kapal swasta. “Setelah itu, dari Pontianak ke Natuna menggunakan kapal perintis. Itu nanti akan disubsidi,” ujarnya.

Dengan pola seperti itu jelas Budi, jangka waktu pengiriman logistik bisa lebih efisien jika dari Pontianak menggunakan kapal perintis. Selama ini, kiriman logistik dari Jakar ke Natuna butuh waktu 21 hari dengan suplay 250 ton.  Jika bisa dari Pontianak, akan mempersingkat waktu dan hanya butuh 10 hari. Bisa dibayangkan produktifitasnya meningkat. Harganya toh jakarta pontianak sama,” tukasnya. (gus)

Berita Terkait