Serahkan Rp 15 Juta, Dipaksa Jadi PSK

Serahkan Rp 15 Juta, Dipaksa Jadi PSK

  Selasa, 2 Agustus 2016 09:30

Berita Terkait

Modus Penipuan TKI ke Malaysia

JAKARTA – Kisah sedih selalu mengiringi tenaga kerja Indonesia (TKI). Yang terbaru, 12 perempuan asal DKI Jakarta dan Jawa Barat yang ingin menjadi TKI ditipu habis-habisan. Mereka menyerahkan Rp 15 juta untuk menjadi TKI. Namun, sesampai di Malaysia, mereka malah harus melayani lelaki hidung belang. Bareskrim telah menangkap tiga pengirim TKI tersebut, yakni Radit alias Rendi, Vio alias AR, dan Sarip alias SH. 

Kasubdit III Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri Kombes Umar Fana menyatakan, tiga tersangka itu awalnya menawarkan melalui media sosial pekerjaan di Malaysia dengan gaji Rp15 juta. Ada 12 perempuan asal sejumlah daerah di Jawa Barat dan Jakarta yang tertarik. ”Mereka di Jakarta ditampung di suatu apartemen,” ujarnya kemarin (1/8).

Mereka lalu dibuatkan paspor baru dengan nama orang lain. Seakan-akan 12 perempuan tersebut sudah pernah memiliki paspor. Setelah itu mereka dikirim ke Malaysia. ”Begitu sampai di sana, ada dua orang jaringannya yang membawa 12 orang ini ke sebuah spa di Kuala Lumpur,” ucap Umar.

Ternyata, di spa tersebut 12 perempuan itu dipaksa menjadi PSK. Saat itulah mereka juga mengetahui bahwa pemilik spa menganggap mereka memiliki utang. ”Mereka harus membayar utang tersebut dengan menjadi PSK. Mereka tidak bisa berbuat banyak,” jelasnya.

Namun, seorang korban berinisial MSN atau AR ternyata berupaya untuk bisa kabur. Dia berdalih orang tuanya sakit di Indonesia dan ingin pulang untuk bisa menjenguk. ”Mungkin MSN ini sudah dipercaya. Tapi, begitu sampai di Indonesia, MSN melapor ke Bareskrim,” terangnya.

Dua orang yang menjual 12 perempuan itu bernama Radit dan Vio. Keduanya telah ditangkap dan ditahan. Ada juga Sarip yang ternyata bekerja sebagai petugas di kantor imigrasi. ”Mereka bekerja sama untuk menipu TKI,” katanya.

Untuk Sarip, lanjut Umar, dugaan yang ditujukan adalah pemalsuan dokumen imigrasi. Sebab, dia secara tidak sah menggunakan nama orang lain untuk bisa mengirim 12 perempuan tersebut. ”Kami dalami perannya lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kabareskrim Komjen Ari Dono mengatakan, dari kasus tersebut dapat diketahui kondisi masyarakat yang membutuhkan pekerjaan. Kondisi itu dimanfaatkan para pelaku perdagangan manusia. ”Dalam perjalanannya, ternyata terjadi pelanggaran,” ucapnya.

Bila dilihat, memang kebutuhan untuk lowongan kerja itu besar. Di Indonesia, lowongan pekerjaan masih ada, tapi kebanyakan menginginkan hasil yang lebih besar. ”Tentu semua itu akan menjadi masukan,” kata Ari.

Kasus tersebut, menurut Ari, terjadi karena banyak masyarakat yang terbujuk janji-janji itu. Keresmian perusahaan seharusnya dicek terlebih dulu. Gaji besar dengan beban kerja yang minim tentu juga kurang masuk akal. ”Harus lebih waspada,” tutur jenderal berbintang tiga tersebut. (idr/c9/agm)

 

Berita Terkait