Sepuluh Hari Terdampar karena Gelombang Besar

Sepuluh Hari Terdampar karena Gelombang Besar

  Selasa, 24 November 2015 08:34
Para penjaga hutan di pulau terpencil GUSLAN GUMILANG/JAWA POS

Mereka mengabdi kepada negara. Dalam kondisi apa pun tak pernah mengeluh. Mereka berteman lingkungan terpencil dengan tanggung jawab dan risiko besar. JANESTI PRIYANDINI, Pulau Anano, Wakatobi

MATAHARI di Pelabuhan Waha, Tomia, siang itu (7/11) begitu terik. Panasnya terasa seperti membakar kulit. Tapi, setidaknya itu pertanda baik untuk para tim monitoring penyu dan SPAGs (Spawning Aggregation Sites) Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW) yang hendak berangkat menuju Pulau Runduma, Pulau Anano, dan Pulau Kentiole.

”Lautnya sedang teduh,” kata Amiluddin, polisi hutan (polhut) yang juga ”bapak penyu”. Pria yang akrab disapa Udin tersebut melakukan monitoring penyu di Tomia (dan pulau-pulau sekitarnya) sejak 2005. Laut teduh itu berarti cuaca sedang cerah. Air laut juga tenang. Jadi, perjalanan menuju pulau-pulau lain dengan kapal cepat bakal tak terkendala. Bagi Udin dan tim, kondisi seperti itu sangat menenangkan. Sebab, mereka bisa melaksanakan tugas sesuai dengan rencana. Dan bisa segera pulang ke rumah untuk berkumpul dengan keluarga.

Siang itu tim beranggota sembilan orang. Mereka adalah Ferry Setyo Haryono (penyuluh kehutanan), La Engka (polhut), Amiluddin (polhut), Elfiana (polhut), Hendro Mulyono (pengendali ekosistem hutan), Hasbullah (staf), Sarlin (operator komputer), Abdul Jaya Kusuma (motoris), dan Harun Rasyid (motoris). Totalnya sebelas orang dengan Jawa Pos.

Kami menumpang koila (kapal cepat milik BTNW) dengan dua mesin Suzuki 250 PK yang dimotori Harun. Dia menakhodai kapal tersebut dengan kecepatan rata-rata 45 km/jam. Kami mengejar waktu supaya sampai di tempat tujuan tidak terlalu sore. Sebab, kalau sore, air surut. Susah buat kapal mendekat ke daratan.

 

Runduma dan Anano merupakan pulau yang terletak di sebelah ujung paling timur Kabupaten Wakatobi. Dua pulau tersebut menghadap langsung ke Laut Banda. Jarak dari Tomia ke Anano adalah 40,5 mil. Sekitar 2,5 jam dengan kapal cepat. Sementara itu, dari Anano ke Runduma, jaraknya 5,8 mil atau 15 menit dengan kapal cepat.

Dua pulau itu bersebelahan. Namun, hanya Runduma yang ada penduduknya, sekitar 400 kepala keluarga. Luasnya sekitar 521,8 hektare. Anano yang seluas 45,5 hektare tidak berpenghuni. Nah, kalau Kentiole, dari Runduma jaraknya 27,5 mil. Ketiganya merupakan zona perlindungan bahari.

Kami sempat mampir ke Runduma karena undangan penduduk. Ada syukuran Kepala SD Runduma La Sanu yang baru kembali dari berhaji. Semua penduduk Desa Runduma, baik laki-laki, perempuan, dewasa, maupun anak-anak, berkumpul di depan rumah La Sanu. Mereka memasak kambing, ayam, dan ikan untuk dimakan bersama.

Undangan ”makan besar” itu kami manfaatkan untuk mengisi perut sampai kenyang. Sebab, dua hari ke depan, kami tinggal di Anano, pulau yang tak berpenghuni tersebut. Di sana tidak ada listrik, juga air tawar. Urusan makan? Masak sendiri dari bahan yang dibawa dari Tomia. Atau bakar ikan hasil memancing.

Ada satu rumah panggung di Anano yang biasa digunakan untuk beristirahat. Rumah tersebut dibangun pemerintah setempat pada 2007. Tetapi, kondisinya sudah mulai rusak. Hanya bagian ruang tamu yang masih bisa digunakan untuk tidur. Jadi, sebagian besar teman dari BTNW tidur di atas pasir, di pinggir pantai, pakai sleeping bag.

Pulau Runduma, Anano, dan Kentiole dikenal sebagai pulau penyu. Sebab, masih banyak penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Karena itu, wilayah tersebut menjadi area monitoring tim BTNW. Kondisi tersebut harus tetap dijaga supaya penyu-penyu itu tidak diburu. ”Kalau penduduk (Runduma, Red) sih sangat membantu kami. Mereka menjaga pulau dan sekitarnya,” kata Udin. Namun, nelayan wilayah lain tetap harus dipantau.

Karena itu, dalam perjalanan menuju dan pulang dari Anano, beberapa kali koila berhenti ketika ada kapal nelayan. Mereka memeriksa tangkapan di kapal tersebut. Memastikan tidak ada biota dilindungi yang diangkut kapal itu. Misalnya penyu dan kima.

Hingga sekarang monitoring penyu terus dilakukan. Secara rutin mereka memeriksa berapa penyu yang naik dan bertelur. Jejak penyu di pasir juga diukur. Data tersebut bisa menjadi gambaran mengenai ukuran si penyu. Jenis penyu yang banyak ditemui di sana adalah penyu hijau atau Chelonia mydas. ”Penyu sisik ada juga, tapi lebih banyak yang hijau,” kata dia.

Udin dan timnya akan berkeliling pulau saat tengah malam dan pagi. Mereka bakal memeriksa apakah ada penyu yang naik dan bertelur. Lalu memeriksa lokasi penimbunan telur tersebut. ”Kalau tempatnya di pinggir garis pantai, akan kami selamatkan,” kata bapak dua anak itu. Sebab, telur penyu akan sulit menetas kalau sudah terkena air laut. Telur yang mereka selamatkan tersebut dibawa ke Tomia untuk ditetaskan. Mereka memiliki tempat penetasan sendiri di sana.

Dari Runduma, koila tiba di Anano malamnya. Kami langsung saling membantu menurunkan barang. Mulai persediaan logistik hingga peralatan selam. Kami juga melepaskan dua ekor penyu hijau ke laut. Dua penyu tersebut tersangkut jaring nelayan di Tomia sekitar tiga bulan lalu. ”Penyu itu diserahkan kepada kami oleh nelayan. Jadi, kami rilis kembali ke laut,” terang Udin.

Segera setelah itu kami menata pondok dengan bantuan senter. Lilin dinyalakan. Elfie (satu-satunya perempuan di tim tersebut) segera memasak air panas dan membuatkan kami minuman hangat. La Engka dan Hendro sigap mencantolkan handphone (HP) mereka di atas tiang kayu. Lokasi tersebut rupanya jadi spot sinyal operator lewat. ”Cuma di sini sinyal suka ada. Di posisi lain tidak ada,” kata La Engka.

Tapi, hanya HP jadul yang bisa menangkap sinyal. Ponsel pintar sudah mati kutu. No service. Spot itu jadi favorit karena bisa membantu mereka berkomunikasi dengan keluarga di rumah. Meski cuma SMS-an. ”Tapi ya harus sabar. Sinyalnya nggak setiap saat mampir,” tutur La Engka.

 

Tengah malam, Udin, Hasbullah, Hendro, Ferry, Jaya, dan Jawa Pos menyusuri pantai. Kami mulai memeriksa apakah ada penyu yang naik. Untung, suasana sedikit ”meriah” berkat lantunan lagu JKT48 Hissatsu Teleport. Jadi tidak terlalu hening. ”Ini terhitung ramai karena kita ada sebelas orang di sini. Biasanya lebih sedikit,” ucap Udin. Saya lalu membayangkan, hanya sedikit orang, di pulau yang kalau malam gelap gulita, berhari-hari, ah… seram juga.  

Malam itu kami menemukan lima jejak penyu yang lebarnya bervariasi, 75–110 cm. Empat di antaranya bertelur. ”Tapi, ini bukan jejak baru. Mungkin dua atau tiga hari lalu penyu itu naik ke sini,” terang Hendro.

Tim monitoring tersebut sudah sangat terbiasa dengan tugasnya itu. Mereka terbiasa pula dengan keterbatasan kondisi, juga medan yang berat. Mereka punya banyak cerita dalam melaksanakan tugas. Baik saat monitoring maupun patroli. Tim tersebut bisa pergi hingga lima hari hanya untuk melakukan pemantauan. ”Biasanya dua hari sebelum dan setelah bulan purnama. Dulu malah sepuluh hari sebelum dan sesudah purnama,” kata La Engka.

 

Jadi, selama itu, komunikasi dengan keluarga bisa saja terputus sama sekali. Suatu ketika anak Udin sedang sakit. Padahal, dia sedang berada di Anano. ”Cari sinyal juga susah. Khawatir sekali dengan kondisi anak di rumah,” cerita Udin. ”Saya sampai memanjat pohon kelapa biar dapat sinyal,” lanjutnya.

Yang lebih menkhawatirkan sebetulnya bertugas saat ombak besar. ”Kalau sudah musim gelombang, ngeri,” ungkap Hasbullah. Mereka pernah terdampar di pulau, tak bisa kembali ke rumah, karena gelombang terlalu besar. Ketika itu tim dibagi menjadi dua. Ada yang di Anano dan ada yang di Kentiole. Rencana yang dibuat, setelah menyelesaikan pekerjaan, pada hari yang ditentukan tim Anano menjemput tim Kentiole. Lalu bersama-sama kembali ke Tomia.

Namun, ternyata badai melanda. Angin dan gelombang menerjang. Tim Anano tidak berhasil mencapai Kentiole. ”Terlalu besar gelombangnya. Kapal pun kembali ke Anano,” ujar Hasbullah. Yang di Kentiole pun menanti tanpa kepastian. Pada hari yang ditentukan, mereka tidak dijemput juga. ”Mau menghubungi juga tidak bisa. Kan tidak ada sinyal,” lanjutnya.

Padahal, yang di Anano juga telah berupaya. Berkali-kali mereka mencoba, tapi tetap tidak bisa. Kalau dipaksakan, membahayakan keselamatan. Ketika kondisi laut mulai sedikit bersahabat, ternyata persediaan bahan bakar mereka tidak cukup untuk mencapai Kentiole. ”Terpaksa kapal kembali ke Tomia dulu isi bahan bakar,” kenang dia.

Padahal, itu sudah molor dari jadwal monitoring mereka. Tim yang di Kentiole pun semakin waswas. Mereka tidak tahu kabar teman-teman di Anano. Di sisi lain, persediaan logistik di Kentiole mulai menipis. ”Sampai sepuluh hari kami tidak bisa pulang karena gelombang besar,” tambahnya. Akhirnya mereka berhasil dijemput dan pulang dengan selamat ke Tomia.

Bukan hanya antar-anggota tim yang khawatir. Keluarga di rumah juga bingung. Sebab, mereka tidak kunjung pulang, padahal sudah lebih dari waktu yang ditentukan. Wajar keluarga berpikir sesuatu terjadi pada para pegawai BTNW itu. Apalagi melihat kondisi laut yang tidak tenang. ”Keluarga bahkan sudah minta bantuan untuk mencari kami. Mereka mau menyewa kapal. Tapi, sama saja, tidak ada kapal yang berani melaut,” cerita Udin.

Kondisi seperti itu bisa saja mereka hadapi lagi ke depan. Sebab, memang wilayah kerja mereka ”istimewa”. Bukan daratan, melainkan lautan. Meski begitu, mereka tetap tulus menjalankan tugas dan kewajiban. Menjaga wilayah-wilayah terpencil di Indonesia itu agar tetap lestari. (*/c9/nw)