Seorang TKW Tewas di Malaysia

Seorang TKW Tewas di Malaysia

  Senin, 25 April 2016 09:30
Winja Marlinda

Berita Terkait

Malaysia Deportasi Ratusan Pekerja Migran

PONTIANAK – Seorang pahlawan devisa asal Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, Winja Marlinda dikabarkan meninggal dunia dalam keadaan yang mengenaskan, pada Sabtu (23/4).

Kabar meninggalnya pekerja migran tersebut pertama kali heboh di jejaring sosial. Seorang pengguna facebook dengan akun Genos Ajaklah menposting tiga foto Winja yang tergeletak di jalan dengan kondisi tak bernyawa. 

Genos Ajaklah dalam statusnya menginformasikan jika foto pekerja migran yang tergeletak di jalan itu telah meninggal dunia ditabrak dengan  porklift atau truk pengangkut industri. “Kejadiannya di kilang Shin di Bintulu sekitar jam setengah sepuluh pagi,” kata Genos di dalam postingannya. 

Badan Pelayanan, Penampatan, dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Pontianak membenarkan informasi tersebut. Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Penempatan, As Syafii, mengatakan informasi sementara yang pihaknya dapatkan bahwa memang benar ada pekerja migran yang meninggal dunia di Serawak, Malaysia. Dari data yang didapat, jika korban berangkat secara resmi melalui PT MHI. “Korban berangkat bekerja ke Malaysia sekitar Januari lalu,” kata, Syafii. 

Syafii menuturkan, korban diketahui bekerja pada pengguna berbadan hukum atau sektor formasi khusus industri plywood. “Saat ini pihak PPTKIS sudah berangkat ke Serawak untuk mengurus kepulangan jenazah korban,” ucapnya. 

Syafii mengatakan terkait penyebab kematian korban pihaknya masih harus menunggu keterangan resmi dari polisi, rumah sakit di negara korban bekerja. “Yang jelas, hari ini juga (kemarin) selain ada yang berangkat ke Serawak, kami juga langsung berangkat ke rumah duka di Tebas untuk memberikan informasi kepada keluarganya,” tuturnya. 

Soal kabar korban meninggal karena ditabrak oleh seseorang, Syafii menambahkan, pihaknya belum mendapatkan kebenarannya. Jika memang murni kriminal tentu kepolisian di sana yang mengusutnya. “Prosedur di sana pengguna tenaga kerjalah yang berkoordinasi dengan polisi untuk proses lanjut apakah korban meninggal murni kecelakaan kerja atau ada unsure tindak kriminal,” terangnya.

Ratusan TKI Dideportasi

Pemerintah Malaysia terus melakukan razia terhadap pekerja migran yang bekerja secara non prosedural di negaranya. Hasilnya 121 pekerja dipulangkan ke Indonesia melalui Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Sanggau, dan tiba di Pontianak, pada Minggu dini hari, (24/4) pukul 01.00. 

Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Penempatan BP3TKI Pontianak, As Syafii mengatakan, berdasarkan hasil pendataan, 115 orang dipulangkan ke Dinas Sosial Kalbar, enam orang tinggal di Entikong, satu lainnya mengikuti pelatihan. 

Syafii mengungkapkan sepanjang tahun ini sudah 673 pekerja yang dideportasi langsung pemerintah Malaysia. Sementara pemulangan yang difasilitasi KJRI Kuching sejak Januari sampai Maret sebanyak 58 orang. “Mereka yang dipulangkan melalui KJRI Kuching ini adalah mereka yang mengaku atau ditolong konsulat. Setelah selesai masalahnya baru dipulangkan ke Indonesia,” ucapnya. 

Syafii menjelaskan dari hasil pendataan, dari ratusan pekerja yang dipulangkan itu sebanyak 62 orang asal Kalimantan Barat, sementara sisanya yakni 59 orang mayoritas berasal dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur. “Mereka diperkirakan sudah bekerja di sana selama enam bulan sampai satu tahun,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BP3TKI Pontianak, Kombes Aminudin mengatakan, pekerja migran yang dipulangkan pemerintah Malaysia itu masalahnya selalu sama, yakni masuk ke negara tempat bekerja tanpa paspor, cap paspor mati, berkerja tanpa visa dan masalah dokumen lainnya. “Mereka ini terjaring razia petugas,” kata, Aminudin.

Aminudin mengungkapkan, para pekerja migran non prosedural tersebut diduga kuat melakukan berbagai upaya untuk bekerja ke luar negeri. Salah satunya mereka nekat pergi sendiri-sendiri atau melalui jasa agen penyalur pekerja ilegal. “Nasib pekerja migran non prosedural ini sebenarnya tidak seindah yang mereka bayangkan. Janji-janji gaji besar ternyata tidak sesuai. Ini jelas merugikan mereka,” tuturnya. 

Berkaca dengan berbagai kasus yang dialami pekerja migran non prosedural tersebut, Aminudin kembali mengingatkan masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri agar berangkat dengan memenuhi persayaratan yang telah ditentukan. “Pekerja migran resmi, jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, sampai dengan asuransi baik di Indonesia dan negara tempat bekerja disediakan,” ungkapnya.(adg)

Berita Terkait