Sensasi Rasa Cuko jadi Brand Andalan

Sensasi Rasa Cuko jadi Brand Andalan

  Jumat, 6 May 2016 16:07

Bisnis kuliner berkembang pesat seiring dengan pola hidup masyarakat yang suka makan di luar rumah. Jenis makanan apapun yang ditawarkan pun tetap dicari pembeli. Jadi wajar saja, bisnis ini mudah sekali tumbuh di setiap sudut jalan Kota Pontianak.

Ramses L Tobing

TIDAK sulit mencari berbagai jenis makanan di Kota Pontianak. Baik yang berkonsep modern atau khas. Umumnya masyarakat lebih senang makanan cepat saji. Akan tetapi makanan khas daerah pun tidak kalah saing.
Inilah yang dilakukan Muhammad Pink Syafril, Owner Pempek Sriwijaya. Pria asal Palembang yang memilih menjual makanan khas daerahnya di Pontianak yakni Pempek. Om Pink sapaan akrabnya memilih pempek karena merupakan kuliner khusus yang tidak banyak orang menjualnya.
Ditambah lagi, Pontianak merupakan pasar yang menjanjikan bagi bisnis pempek ini, karena banyak sekali orang yang suka makanan dengan cita rasa pedas.  Meskipun pasarannya bagus, namun tidak semua orang bisa membuat pempek yang enak.
Sebab, kata kunci dari Pempek adalah Cuko. Cuko atau kuahnya inilah yang menjadi andalan jika menikmati Pempek. Sementara tidak banyak orang yang bisa membuat cuko dengan rasa yang nikmat.
Kenikmatan Cuko inilah yang ditawarkan Om Pink dalam kuliner Pempek Sriwijaya miliknya. Ini sesuai dengan taglinenya “Rasakan sensasi Cukonya”
“Makan pempek itu sangat nikmat apabila cukonya bisa di hirup, jadi membutuhkan racikan yang pas dalam pembuatannya. Meskipun semua bisa membuat Pempek, tapi tidak untuk cukonya,” terang Om Pink siang kemarin.
Namun kelezatan Pempek Sriwijaya tidak hanya pada rasa cukonya yang nikmat. Kelembutan Pempek ketika dikunyah juga membuat makanan ini beda dengan kuliner lainnya.
Dia mengaku tidak memakai penyedap rasa tertentu untuk meracik pempek yang lembut saat dikunyah. “Kami ingin menawarkan produk yang lebih sehat dan halal sehingg tidak menggunakan penyeba rasa tertentu,” ujar dia.
Beberapa paketan yang ditawarkan Om Pink di antaranya paket couple (dua kapal selam + dua es teh), paket familly  (tiga kapal selam + tiga pempek mix) dan  paket big familly.
Om pink menceritakan bisnis ini sudah dibangunnya sejak lima tahun ini. Tetapi ini bukan bisnis pertama yang dikembangkannya. Sebelumnya pria yang memiliki ciri khas mengggunakan sarung itu pernah membuka usaha warnet di tahun 2007-2011.
Sayanngya usaha itu tutup seiring dengan berkembangnya teknologi. Banyaknya pengguna laptop dan HP membuat usaha warnet ini kolap. Sebab biaya operasional yang sedemikian besar sementara konsumen tidak terlalu ramai. “Dari situlah akhirnya saya dan istri sepakat menjual kuliner khususnya pempek,” kata dia.
Akan tetapi tidak selamanya bisnis itu berjalan mulus. Tetap saja ada tantangan yang nantinya bisa membuat bisnis itu berkembang atau kolaps. Om Pink mengaku tantang yang dihadapinya  saat ini mengenai bahan baku Pempek. Pada momen tertentu daging ikan tenggiri yang segar susah didapat. Begitu juga gula merah yang belum ada standar rasa yang pas. (*)