Senang Semimiliter, Bercita-cita jadi Tentara

Senang Semimiliter, Bercita-cita jadi Tentara

  Selasa, 18 Oktober 2016 09:30
PRAKTIK: Harry Puteramuda (kiri) sedang mengerjakan tugas praktik komputer di sekolahnya, Sabtu (15/10). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Hampir 50 persen dari seluruh siswa SMKN 9 Pelayaran berasal dari keluarga kurang mampu. Termasuk Harry Puteramuda. Warga Pontianak timur yang bercita-cita menjadi seorang TNI ini, merasa terbantu dengan biaya gratis di sekolah semi-militer tersebut. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

LULUS dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) tiga tahun silam, tekad remaja 17 tahun ini sangat kuat melanjutkan ke SMKN 9 Pelayaran Pontianak. Salah satu alasannya, karena pendidikan di sekolah tersebut semi militer. 

Warga Tanjung Hilir, Pontianak Timur yang akrab disapa Harry ini berpikiran, dari dasar sekolah di sana, ia akan lebih mudah masuk TNI setelah lulus kelak. Tentara memang menjadi cita-cita idamannya. “Di sini dasarnya pelayaran yang semi militer. Saya ingin sekali jadi TNI AD dan keluarga juga sangat mendukung dari awal saya masuk hingga sekarang,” ucapnya percaya diri. 

Siswa kelas XII ini merasa cukup terbantu dengan bersekolah gratis di sana. Apalagi bisa dikatakan keluarganya masuk kategori kurang mampu. Sang ayah bekerja sebagai buruh bangunan sementara ibu hanya berjualan kecil-kecilan. “Alhamdulillah sekolah gratis sangat membantu,” katanya.

Harry juga dikenal sebagai pelajar yang cukup berprestasi. Beberapa kali menang dalam kompetisi tingkat sekolah hingga ia terpilih menjadi salah satu pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) Kota Pontianak pada 2015. “Waktu itu saya jadi tim 17,” kenangnya.

Dia menceritakan selama hampir tiga tahun bersekoloh di sana, saat magang menjadi hal yang tak akan pernah ia lupakan. Dimana ia ikut bekerja di kapal ferry penyeberangan rute Teluk Batang-Rasau Jaya, Kubu Raya. 

“Di sana saya diajarkan jadi pemimpin, segala teori yang dipelajarai selama ini semua bisa dipraktikan di sana,” katanya. Ia berharap dari pengalaman berharga itu bisa berguna dalam menggapai cita-citanya kelak.

Sementara itu, Kepala SMKN 9 Pelayaran Pontianak Usmadi megatakan, rata-rata pelajar yang bersekolah di sana memang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Indikasinya, lanjut dia, ketika awal tahun ajaran ada biaya pakaian dan lain-lain. Untuk bisa membayar kewajiban tersebut kebanyakan orang tua sampai harus mencicil.

“Bahkan ada yang berharap dapat beasiswa biar bisa mencicil, mungkin sekitar 50 persen dari seluruh pelajar yang ada ekonominya kurang mampu,” terangnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Mulyadi menambahkan, tujuan Pemkot mendirikan SMKN Pelayaran lima tahun silam, awalnya, selain peluang kerja yang cukup besar, juga untuk membantu pelajar dari keluarga miskin. Sebab hampir sebagian besar siswa SMKN Pelayaran itu direkrut dari anak-anak kurang mampu. 

Harapannya ketika lulus bisa memperoleh ijazah profesi ANT/ATT IV. “Sehingga tamatan SMKN pelayaran ini bisa langsung masuk pada pasaran kerja atau setidaknya kuliah di akademi yang memiliki peluang kerja yang besar,” tuturnya. 

Apalagi mereka tidak dipungut biaya apapun untuk mengenyam pendidikan di sekolah ini. “Nah pendidikan di SMKN Pelayaran ini gratis, artinya seluruh pembiayaan ditanggung sepenuhnya oleh Pemkot,” tutupnya.(*)

Berita Terkait