Semua Peralatan High-end, Termasuk Koleksi Mik Pengubah Dunia

Semua Peralatan High-end, Termasuk Koleksi Mik Pengubah Dunia

  Minggu, 23 Oktober 2016 09:46
Studio: Prajna Murdaya (baju batik) saat berlatih di Shoemaker Studios. jpgnewsrom

Berita Terkait

​Orang mengenal Prajna Murdaya sebagai pebisnis. Pria 40 tahun ini juga sering ditemui dalam event cycling karena hobinya bersepeda. Namun, ada satu hal yang menjadi passion besarnya sejak kecil: musik. Belasan tahun menjadi mimpi terpendam, dorongan itu semakin kuat pada 2015. Terwujudlah Shoemaker Studios dengan perangkat supermodern dan ambience yang begitu nyaman.

Nora Andriani S., Jakarta

Begitu menjejakkan kaki di lantai 10 Gedung CCM, Cikini, Jakarta Pusat, suasana yang sangat cozy langsung menyambut. Ketika pintu terbuka, sayup-sayup terdengar suara lembut membawakan lagu bernuansa folk pop. Memunculkan vibe romantis pada malam itu. 

Seorang pria keluar dari ruang studio. ’’Halo, apa kabar? Di dalam sedang ada rekaman,’’ sambut Nikita Dompas, partner Prajna Murdaya dalam membentuk Shoemaker Studios, Rabu malam (12/10).

Jarum jam telah melewati pukul 21.30. Sejenak kemudian, Prajna tiba. Masih mengenakan kemeja batik sepulang dari kantor, managing director PT Berca Sportindo tersebut menyapa dengan senyum hangat. Dia lantas mempersilakan masuk ke dalam ruang studio. 

Tampak beberapa orang mengerjakan mixing. Beberapa saat sebelumnya, di studio itu dilakukan rekaman Andrea Putri Turk, penyanyi muda yang siap memulai debut.

Mereka yang mengerti peranti musik pasti dibuat kagum berada di situ. Perangkat rekamannya kelas dunia. Sulit ditemukan di studio musik lain di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. 

Cadac J Type, mixing console-nya, khusus didatangkan dari Amerika Serikat dengan berat total mencapai 600 kilogram. Mixing console serupa dipakai The Lion King, pertunjukan musikal Broadway.

Tersedia beberapa tipe kompresor, yang dalam dunia audio berfungsi menjaga dinamika suara, sesuai dengan kegunaan. Begitu pula dengan limiter, reverb and delay processor, equalizer, serta berbagai peranti dan instrumen musik lainnya. Rasanya, semua peralatan studio musik dengan kualitas terbaik dunia ada di Shoemaker Studios.

Satu lagi yang membuat berdecak adalah koleksi mikrofon. Jumlahnya 30-an. Mungkin tidak terlalu banyak untuk disebut koleksi. Tapi, tipe dan serinya tergolong bukan mikrofon biasa. Ada small condenser, large condenser, dynamic, ribbon, sampai vintage. Untuk tipe vintage, harga satu mikrofon mencapai ratusan juta rupiah.

Prajna lalu menunjukkan salah satu koleksi mikrofonnya yang sangat istimewa. Neumann U 47, namanya. Tipe itu dipakai penyanyi-penyanyi legendaris seperti Frank Sinatra, Barbra Streisand, Johnny Cash, Nat King Cole, sampai Adele. Vintage microphone yang dimiliki Prajna itu sebelumnya dipakai di Wally Heider Studios, studio rekaman terkenal di San Francisco, California, AS, pada periode 1969–1980. Tulisan nama studio yang diambil dari nama sang owner itu tercetak di mikrofon tersebut.

Satu lagi adalah RCA 44 Style Ribbon Microphone. Dua seri tersebut, Neumann U 47 dan RCA 44, menurut Jim Webb, termasuk dalam 12 mikrofon yang mengubah dunia. Sound mixer peraih Academy Awards untuk film All The President’s Men tersebut menuliskannya dalam artikel berjudul Twelve Microphones That Made History.

Terasa semakin asyik karena peranti audio high-end tersebut dipadukan dengan ambience yang ’’rumah banget’’. Prajna menyebutnya bedroom studio untuk menggambarkan betapa nyamannya berada di dalamnya.

Studio itu terdiri atas dua ruangan dengan luas total sekitar 140 meter persegi. Sebelumnya, itu adalah ruang bermain anak Prajna. Sofa nan empuk, lemari built-in, dan side table tetap dipertahankan sebagai pengisi ruangan. Jadilah Shoemaker Studios yang kali pertama ’’tercipta’’ pada 29 September 2015.

Kalau ditarik ke belakang, Shoemaker lahir dari impian masa kecil Prajna yang terus melekat di hatinya sampai puluhan tahun kemudian. ’’Saya sejak umur 3–4 tahun suka menyanyi. Kelas 2 SD ikut choir. Waktu kuliah di AS bergabung dengan grup acapella kampus sampai tur Amerika dan menang kompetisi,’’ ungkap Prajna. Hobi menyanyi itu pula yang membuat dia sangat passionate terhadap mikrofon.

Ketika lulus kuliah dan terjun ke bisnis, Prajna memang tidak lagi intens bernyanyi. Namun, sesekali dia masih menampilkan suara merdunya dalam acara-acara spesial seperti pernikahan sahabat atau keluarga. 

Dia juga suka membeli alat musik dan peranti audio. Yang dibelinya adalah item-item eksklusif dan langka. Tidak bisa dibeli dengan mudah. Harus memesan secara khusus di AS, Jerman, Jepang, dan beberapa negara lain. Itu pun harus menunggu sampai enam bulan untuk mendapatkan barang yang diinginkan. ’’Isi Shoemaker Studios ini koleksi saya sejak 15 tahun lalu,’’ ucap suami Irene Tedja itu.

Bertahun-tahun harta karun tersebut tersimpan begitu saja tanpa pernah dipakai. ’’I like to buy gear, but I don’t know how to use it,’’ kata Prajna, lantas tertawa kecil.

Karena jumlahnya sudah terlalu banyak dan agak berantakan, suatu ketika pada 2015, Prajna berniat membereskan alat-alat musik tersebut. Dalam seminggu dia mengumpulkan peranti itu di sebuah kontainer. ’’Lalu, saya duduk di ruangan kosong. Now what?’’ ucapnya kepada diri sendiri.

Hingga kemudian, seperti ada intuisi yang menggerakkan dia untuk membangun sebuah ruang kreatif. Prajna lantas menggandeng founding partners yang andal di bidang masing-masing. Ada Nikita Dompas, Harmoko Aguswan, serta perempuan berambut pendek yang akrab disapa Melon Lemon.

Nikita Dompas sudah tidak asing di kalangan musisi. Pria kelahiran 1981 itu merupakan music director penyanyi Andien serta perhelatan akbar Java Jazz dan Soundrenaline. Moko, sapaan Harmoko, adalah sound engineer jempolan yang punya link kuat terhadap jaringan music equipment di AS dan Eropa. 

Kemudian, Melon (dia memang ingin dikenal dengan nama bekennya tersebut) adalah fotografer dan videografer profesional yang kerap bekerja sama dengan musisi serta penyanyi seperti Dira Sugandi. Prajna, sebagai pemilik ide dan penyedia infrastruktur, menyalurkan segenap energi dan intuisinya di studio tersebut.

Momen yang ditahbiskan sebagai kelahiran Shoemaker Studios adalah 29 September 2015. ’’Itu adalah kali pertama musisi profesional main di studio ini,’’ kenang Prajna, lalu tersenyum. 

Pada hari itu, Nikita Dompas memainkan gitar di Shoemaker Studios. Ada Prajna, Moko, dan seorang kolega. Lucunya, gitar yang dimainkan Niki –sapaan Nikita– adalah gitar miliknya yang baru saja dijual kepada Prajna pada hari itu juga.

Nama yang dipilih terasa cukup menggelitik: Shoemaker. Sebenarnya bukan karena bisnis apparel olahraga terkemuka Prajna yang salah satunya mengeluarkan produk sepatu. Sejatinya ada filosofi di balik itu. Prajna menuturkan sebuah kisah. Ada seseorang yang berujar kepada biksu. 

’’Saya ingin membuat jalanan itu semuanya terbuat dari bahan kulit supaya setiap orang tidak merasakan sakit ketika berjalan ke seluruh pelosok bumi.’’

Lantas, sang biksu mengatakan, ’’Bukankah lebih baik jika membuat sesuatu dari bahan kulit itu ada di kaki setiap orang (sebagai alas kaki). Dengan begitu, dia bisa berjalan ke mana pun tanpa merasa sakit.’’ Dari situlah nama Shoemaker Studios didapatkan.

Di balik seperangkat peranti dan instrumen canggih, ada hal yang jauh lebih istimewa. Studio itu tidak untuk disewakan. Misi Prajna adalah mendirikan ruang kreatif bagi para musisi untuk bisa mewujudkan impian mereka tanpa terbatasi hal-hal lain di luar seni. 

’’Dalam pemikiran saya, sumber daya natural Indonesia yang paling kuat adalah bakat kreatif. Sedangkan kelemahan yang sangat parah: pendidikan, juga visi jangka panjang untuk mengembangkan seni,’’ paparnya.

Prajna melihat proses lahirnya kreativitas itu seperti science. Untuk bisa membuat sebuah karya yang ekselen, harus mencoba berapa kali hingga sukses. ’’Mungkin 5, 10, 50, atau bahkan 100 kali,’’ ujar pria yang selalu penuh semangat ketika membicarakan musik itu.

Prajna menjadikan Shoemaker Studios sebagai laboratorium kreatif. ’’Kalau bisa ketemu rumusnya, nanti saya bagikan untuk siapa saja,’’ ucapnya. 

Menurut dia, konsep itu bisa diabstrak dan diaplikasikan ke bidang-bidang lain. ’’Bisa di jurnalistik, melukis, dancing, investasi, apa saja. Saya rasa dinamikanya mirip,’’ kata Prajna menguraikan mimpi besarnya.

Karena tidak disewakan, untuk bisa menggunakan Shoemaker Studios, para musisi atau penyanyi bisa mengirimkan application atau by invitation. Selanjutnya dikurasi oleh tim Shoemaker. Baru setahun berdiri, sudah banyak karya kreatif musisi dan penyanyi kenamaan tanah air yang lahir di studio itu. ’’Many miracles happened,’’ ucap Prajna. (/c5/ayi)

Berita Terkait