Sempat Putus Harapan, Termotivasi Anak dan Keluarga

Sempat Putus Harapan, Termotivasi Anak dan Keluarga

  Jumat, 7 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Mengetahui menjadi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di akhir usia kehamilan merupakan cobaan terberat bagi wanita ini. Bagaimana ia bangkit dari keterpurukan dan terus bersemangat untuk hidup, menjadi kisah yang bisa menginspirasi banyak orang.  

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Memasuki sembilan bulan usia kandungan anak pertama, harusnya bisa dilewati dengan sukacita oleh salah satu warga Kota Pontianak ini. Namun siapa yang mengira, ibu rumah tangga yang tidak ingin disebutkan namanya itu,  justru mengalami cobaan terberat dalam hidupnya. Pada masa itu ia justru baru mengetahui bahwa dirinya positif sebagai ODHA.

Kisah itu terjadi lima tahun silam. Sebelumnya tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya, bahwa ia bisa positif terpapar HIV. Selama menikah, menurutnya sang suami tidak pernah berkelakuan negatif. Begitu juga dengan dirinya. Namun tiba-tiba sang suami jatuh sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di kota ini. Sampai diketahui penyakit itu ternyata ditularkan dari suaminya. 

"Kejadiannya tahun 2011 lalu, saat saya hamil sembilan bulan. Karena sakit, suami dirawat dan dari situ diketahui ia positif HIV. Saya langsung drop dan tidak menyangka. Kok bisa," ceritanya saat memberikan testimoni dalam kegiatan penguatan media dalam rangka pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kantor DPRD Kota Pontianak, Rabu (5/10).

Untuk memastikan apakah dirinya juga positif atau tidak, ia pun langsung menjalani tes HIV. Ternyata positif. "Waktu itu suami saya kelihatan sudah tidak ada harapan. Badannya sangat kurus. Saya juga hampir putus asa," katanya.

Namun perlahan, dia mulai membuktikan bahwa harapan akan selalu ada di tangan mereka yang berusaha. Setelah mendapat semangat dari tim pendamping ODHA dan sebagian keluarganya, ia pun mulai bangkit. "Alhamdulillah pendamping mendukung, keluarga memberikan semangat dan tidak mengucilkan. Sejak itu saya pun mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) secara intens," kenangnya.

Tidak semua keluarganya tahu tentang penyakitnya ini. Demi kebaikan dia memang harus memilih siapa saja yang boleh tahu. Kebetulan salah satu saudara yang tahu persis adalah kakak iparnya. Kakak ipar inilah yang memang mengetahui dari awal sejak suaminya sakit. "Kakak saya ini banyak membantu. Itu yang menambah semangat hidup. Apa saja yang kami minta dipenuhi. Apalagi suami saya hanya office boy dengan gaji di bawah UMR," ujarnya.

Lalu untuk keluarga yang lain, seperti kepada ibu mertua, masih dirahasiakan. Termasuk para tetangga. Hanya bapak dan ibu kandungnya sendiri yang sudah tahu. Ibu mertuanya sengaja tidak dikabari. Alasannya karena ibu mertuanya mengidap darah tinggi. Ditambah pernah ada kejadian tetangga dekat rumahnya meninggal akibat HIV AIDS. "Makanya saya jaga rahasia ini, takut kepikiran dan berdampak dengan kesehatan mertua," katanya.

Selain pendamping dan keluarga tadi, satu anugerah terbesar yang membuatnya semakin kuat untuk bertahan hidup sebagai penyintas (survivor) HIV adalah keberadaan anak. Apalagi diketahui anak pertamanya negatif HIV, artinya ada harapan besar untuk menjaga sang anak hingga dewasa. Agar tidak terpapar HIV, sang anak memang tidak pernah diberikan ASI, hanya sebatas susu formula.

"Sejak tahu anak saya negatif, semangat untuk hidup makin tinggi. Berat badan terus naik dari yang awalnya hanya 40 kilogram sekarang sudah 65 kilogram, sampai saya dan suami perlahan kembali pulih hingga sekarang," ungkapnya.

Sedikit pun dia mengaku tidak pernah menyesali mengapa suaminya bisa positif HIV. Karena menurutnya semua orang memiliki masa lalu termasuk masa lalu yang negatif. "Masa lalu biarlah masa lalu, sekarang tinggal berpikir bagaimana masa depan bisa lebih baik. Memang penyakit ini tidak bisa dilupakan makanya saya rutin minum obat ARV," ucapnya. 

Terkait akses mendapatkan layanan kesehatan selama hamil, wanita berusia 26 tahun ini mengatakan,  pelayanan kepada ODHA tidak pernah dibedakan. Artinya tidak ada diskriminasi oleh tenaga kesehatan mulai dokter hingga perawat. Termasuk dalam mendapatkan obat ARV juga cukup mudah dan semuanya gratis.

Sampai sekarang, wanita berhijab ini telah memiliki dua orang anak. Anak pertama berusia sekitar lima tahun dan telah dinyatakan negatif, sementara anak kedua yang berusia dua bulan statusnya masih menunggu. Karena setelah berusia 18 tahun barulah bisa diketahui seorang anak mengidap HIV atau tidak. "Dengan rutin meminum ARV selama kehamilan kemungkinan besar anak bisa negatif, itu yang membuat saya memiliki harapan besar," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pontianak, Lusi Nuryanti membeberkan kasus HIV terhadap ibu rumah tangga memang lumayan tinggi. Karena itu perlu menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak. 

Di Kota Pontianak saja, tahun 2015 KPA telah menangani sebanyak 50 ibu rumah tangga yang positif ODHA. Lalu di tahun 2016 ada sebanyak 77 kasus temuan baru dengan 17 kasus diantaranya menimpa ibu rumah tangga. "Terbukti fenomena gunung es mulai terkuak ketika ada program di Kota Pontianak yang mewajibkan ibu hamil dites HIV," tandasnya. 

Wali Kota Pontianak Sutarmidji menambahkan, memang ada peningkatan tren bayi yang terpapar HIV/AIDS di Indonesia. Meski belum mengetahui angka pastinya di kota ini, dia mengimbau agar setiap pasangan selalu berhati-hati.

Berbagai program melalui Dinas Kesehatan secara maksimal dilakukan, mulai dari penyuluhan, pemahaman tentang HIV dan program lainnya. Termasuk tes kepada ibu hamil dan pasangan pranikah. Peran keluarga terdekat dinilai sangat penting dalam hal ini. "Artinya ini semakin mengkhawatirkan. Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan sudah dilakukan,  tapi bagaimana mau menjaga rumah rangga orang," katanya. (*)  

Berita Terkait