Sembilan Anak Meninggal di Jalan

Sembilan Anak Meninggal di Jalan

  Sabtu, 13 Agustus 2016 10:36
grafis.PONTIANAK POST

Berita Terkait

JALAN raya masih menjadi mesin pembunuh yang paling membahayakan. Tahun ini tercatat lebih 500 kasus kecelakaan lalu lintas terjadi dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 69 orang.

 
Dari 69 orang yang meninggal di jalan, sembilan korban diantaranya adalah anak. Sementara 29 anak mengalami luka berat dan 61 anak mengalami luka ringan.

Kasat Lantas Polresta Pontianak Kompol Wahyu Jati Wibowo mengatakan, anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas tersebut mereka adalah korban mulai dari mengendarai kendaraan, menjadi penumpang dan pejalan kaki.

Yang perlu menjadi perhatian, lanjut Wahyu, ketika anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas dikarenakan mengendarai kendaraan. Padahal, sesuai dengan undang undang anak tidak pernah dizinkan untuk mengendarai kendaraan.

Namun kenyataannya, dia menambahkan, masih cukup banyak ditemui anak menggunakan sepeda motor dengan berbagai alasan, seperti pergi ke sekolah. "Yang sangat kami sayangkan, anak-anak ini kerap mendapat izin dari orang tuanya. Ini jelas sangat membahayakan keselamatan anak dan orang lain," kata Wahyu, Jumat (12/8).

Wahyu menuturkan di kepolisian, pihaknya telah melakukan berbagai upaya guna menekan anak menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Adapun upaya itu adalah dengan melakukan razia, sosialisasi ke tingkat sekolah hingga bekerjasama dengan pihak sekolah untuk merazia anak didiknya yang menggunakan sepeda motor.

Menurut Wahyu, hal itu dilakukan pihaknya selain menegakan hukum dan upaya menyadarkan masyarakat, juga sebagai bentuk perhatian polisi terhadap nyawa anak. "Namun kenyataannya masih ditemukan anak yang memakai motor. Bahkan beberapa waktu lalu, seorang anak usia 14 tahun meninggal dunia karena menabrak motor dari arah berlawanan," terangnya.

Wahyu berharap cukup banyaknya anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas itu harua menjadi perhatian orangtua untuk tidak memberi izin anaknya menggunakan motor. "Keluarga kelompok sosial terkecil yang dapat mengambil peran kontrol pencegahan," terangnya.

Wahyu pun berharap orang tua dapat bekerjasama dengan kepolisian untuk menekan kecelakaan yang melibatkan anak. "Pernah ketika kami merazia anak, orang tuanya malah balik marah. Tidak terima anaknya dirazia dengan alasan anaknya terpkasa pergi sekolah menggunakan motor karena tidak ada yang mengantar. Inikan bentuk pembelaan yang salah, karena selain melanggar aturan juga tidak sayang dengan nyawa anaknya," imbuhnya. (adg)

Berita Terkait