Semangat Anak Desa Mengenyam Pendidikan, Terdaftar di Dua Sekolah, Belajar Lebih Delapan Jam

Semangat Anak Desa Mengenyam Pendidikan, Terdaftar di Dua Sekolah, Belajar Lebih Delapan Jam

  Sabtu, 30 January 2016 08:57
MENITI RAKIT: Sejumlah siswa SDN 04 di Desa Puguk Kecamatan Sungai Ambawang,Kabupaten Kubu Raya. Dengan semangatnya mereka menarik tali untuk menyeberangi sungai menggunakan rakit agar bisa sampai ke sekolah. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Ada hal unik di SD Negeri 04 Dusun Limau, Desa Puguk, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Di sana anak-anak disekolahkan di dua tempat sekaligus, SD negeri dan swasta. IDIL AQSA AKBARY, Kubu Raya

Senin pagi dua pekan lalu, di sebuah rumah dekat dermaga penyeberangan bantaran Sungai Ambawang. Di luar cuaca cerah, kabut yang menyelimuti sungai perlahan terhapus sinar matahari. Jam menunjukkan pukul 06.30, Royhan baru terbangun dari lelapnya. Udara pedesaan yang dingin membuatnya malas untuk langsung beraktivitas.Masih mengenakan sarung yang diselimutkan ke seluruh badan, bocah 10 tahun ini meringkuk di depan televisi. Tayangan berita dan kartun menjadi menu utama, sebelum ibunya memasak sarapan. Sudah menjadi rutinitas, tiap pagi Roy, sapaan akrabnya harus bersiap ke sekolah.

Setengah jam beralalu, di seberang dermaga mulai tampak murid sekolah dasar (SD) yang ingin menyebrang. Rumah mereka tak jauh, masih satu dusun namun terpisah oleh sungai. Fasilitas penyeberangan yang akan mereka gunakan adalah milik ayah Roy, tepat di depan rumahnya.Melihat murid-murid SD yang mulai berdatangan, sang ayah Ahmad Nisob memerintahkan Roy segera mandi. “Mandi Roy kawan-kawan sudah datang,” teriaknya. Roy pun bergegas menarik handuk menuju WC di luar, sebelah kanan rumah. Bocah kelas empat SD ini sudah mandiri, segala sesuatu dilakukan sendiri. 

Sementara, waktu hampir menunjukan pukul 07.00, yang awalnya hanya ada dua murid menunggu, muncul lagi tiga lainnya. Hanya ada lima murid SD dari seberang yang akan menuju sekolah pagi itu. Setelah berseragam merah putih lengkap dengan sepatu, ditemani ayahnya Roy menjemput mereka yang menunggu di seberang.Sungai yang dilintasi tak terlalu besar. Jaraknya sekitar sepelemparan batu dari dermaga depan rumah Roy. Fasilitas penyeberangannya pun cukup sederhana, hanya terbuat dari susunan papan yang diapungkan dengan drum plastik berwarna biru. Tak butuh kayuh, rakit itu bisa berjalan cukup dengan menarik tali yang dibentangkan melintas sungai.

Sampai di dermaga seberang, kelima bocah itu langsung melompat naik ke atasnya. Dengan sigap, bergantian mereka menarik tali penggerak. Roy pun ikut menarik, tubuhnya terlihat paling pendek dibanding teman-temannya. Hanya perlu waktu sekitar tiga menit mereka pun sampai.Meski terbilang sederhana, penyeberangan milik Ahmad Nisob sangat berarti bagi warga yang ingin melintas sungai. Termasuk murid-murid dan para guru yang hendak ke sekolah. Hasil dari usaha penyeberangan inilah bakal menghidupi istri dan ketiga anaknya. Tetapi demi memajukan pendidikan di dusun terpencil itu, khusus anak sekolah dan guru, Nisob tidak menarik biaya alias gratis seumur hidup.

Setelah menyeberang, Roy dan kawan-kawan harus lanjut berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Antara rumah Roy dan SD memang tak jauh, jaraknya tak lebih dari satu kilometer. Usai berpamitan kepada ayah dan ibunya, anak pertama dari tiga bersaudara ini berangkat. Bersama kelima temannya, melewati geretak kayu ke arah hilir sungai dimana sekolah berada.

Mereka terlihat bersemangat. Maklum hari pertama masuk setelah libur hari Minggu. Walau umur dan jenjang kelas berbeda, mereka tampak kompak. Berbaris memanjang, satu per satu menyusuri papan pijakan dengan hati-hati. Lebar jalan yang dilalui kurang lebih hanya setengah meter, kiri kanannya diapit semak dan rumput liar. Sebagian papan kondisinya sudah lapuk, susunannya juga jarang-jarang. Bahkan sesekali langkah Roy harus terhenti, kaki mungilnya dipaksa melompat menghindari lubang. Geretak kayu itu menjadi akses terdekat sampai ke sekolah.

Tiba sekitar pukul 07.30 suasana masih sepi. Ruang kelas belum berisi. Mereka berlima menjadi yang terawal datang. Jangan harap bertemu guru jam segini, apalagi jika pagi atau malam sebelumnya turun hujan. Jalan menjadi becek, guru bisa terlambat bahkan kadang tak datang sama sekali. 

Tidak ada apel Senin, mereka hanya bisa menunggu. Mengisi waktu kosong, ketua kelas VI Musnawi berinisiatif  mengambil sapu lalu membersihkan ruang kelas. Sebagian ikut membantu, sebagian lagi memilih bermain, bergurau, berlarian di pelataran kelas. Tak lama, murid-murid yang lain bertahap mulai berdatangan.SD Negeri 04 ini secara administratif terletak di Dusun Limau, Desa Puguk, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Jumlah muridnya memang tak ramai. Keseluruhan hanya 26 siswa, terbanyak ada di Kelas 1 dan VI, masing-masing tujuh siswa. Sementara jumlah guru terbilang cukup, dengan tujuh pengajar ditambah satu kepala sekolah.

Cukup lama menunggu, tepat pukul 08.02 dari kejauhan tampak dua orang guru datang. Pria dan wanita. Celana mereka digulung seperempat, mungkin agar tak kotor akibat jalan becek, sepatu setengah berlumpur. Melihat guru yang datang, tanpa bel masuk, murid-muird segera menuju kelas masing-masing. Di sekolah ini, guru yang datang lebih dulu, harus meng-handle guru-guru lain untuk memulai kegiatan belajar mengajar. 

Secara umum proses belajar di SD ini tak jauh berbeda dengan di kota. Waktu belajar memang agak lebih singkat. Ada kebiasaan unik yang seolah menjadi tradisi orang tua siswa di sana. Mereka tak hanya menyekolahkan anaknya di SD Negeri, namun juga di Swasta atau Madrasah. Artinya secara umum setiap anak dituntut sekolah dua kali di dua tempat.

Jam 12.15 mereka harus sudah dipulangkan. Jika tidak, guru bisa ditinggal pergi oleh muridnya. Termasuk Roy yang menghabiskan waktu belajar lebih dari delapan jam per hari di dua sekolah. Sepulang dari SD Negeri, waktu di rumah hanya cukup untuk makan siang dan istirahat sebentar.

Pukul 13.30, Roy harus kembali sekolah di tempat kedua yaitu di Madrasah, Yayasan Darud Da'wah wal Irsyad (DDI). Letaknya lebih ke hilir namun masih sedusun, waktu tempuh sekitar 10 menit sampai 15 menit dari rumahnya. Untuk ke sana terkadang Roy diantar ayahnya, kadang juga naik sepeda atau jalan kaki bersama kawan. Sore menjelang magrib barulah dia bisa pulang kembali ke rumah.

Walau harus menghabiskan banyak waktu di dua sekolah, Roy sama sekali tak pernah megeluh. Justru dia senang karena bisa lebih banyak bertemu teman-teman sebaya. Nisob sengaja menyekolahkan anakanya di dua tempat untuk mengejar ketinggalan pembelajaran. Dia merasa kurang maksimal jika hanya mengandalkan SD Negeri. Alasannya waktu belajar singkat akibat guru sering terlambat bahkan tak masuk. Dia mengakui faktor jalan memang jadi sumber penyebab.

Namun ayah 36 tahun ini menyayangkan guru-guru di sana tak satupun orang setempat. Rumah-rumah dinas dibiarkan kosong tak berpenghuni. Dia mengenang sekitar lima tahun silam ketika kepala sekolah yang lama lebih memilih tinggal di sana, keadaan jauh lebih baik. Yang jelas kala itu murid-murid sekolah negeri lebih ramai.

Kepala Sekolah SD Negeri 04 Husin mengatakan, fenomena sekolah di dua tempat sudah lama terjadi. Hampir seluruh siswa seperti itu. Menurutnya alasan orang tua murid melakukannya agar anak tak hanya pandai pelajaran umum, tetapi juga mampu memperdalam ilmu agama. “Mayoritas agama di sini Islam, jadi di Madrasah mereka bisa lebih fokus belajar agama,” ujarnya.

Sebagai kepala sekolah Husin merasa harus punya komitmen. Dia pun mengeluarkan sebuah peraturan sejak menjabat kepala sekolah pada 2010 lalu. Bahwa murid diperbolehkan sekolah di dua tempat asal jenjang kelasnya sama. Misal jika seorang siswa di SD Negeri sudah kelas empat, maka di SD Swasta harus sama, begitupun sebaliknya. Jika bisa berkomitmen dan berjalan lancar, terakhir saat kelas VI siswa tinggal memilih ingin ujian dan lulus di mana. Karena sesuai aturan tidak bisa seorang pelajar mendapat dua ijazah di jenjang sekolah yang sama. “Kebanyakan mereka lebih memilih lulus di sekolah negeri,” lanjutnya.

Kepala Sekolah berusia 48 tahun ini selalu mewanti-wanti kepada orang tua murid, sebelum mendaftarkan anak ke SD Negeri, anak tersebut tidak boleh lebih dulu sekolah di Swasta. Kecuali mau berhenti dan fokus di SD Negeri saja. Ini dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan jenjang. Koordinasi yang baik antar dua sekolah tersebut diakuinya sangatlah penting dan terus dijalankan.

Tetapi aturan itu lantas membuat banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di SD Swasta. "Dulu di sini muridnya cukup ramai, semenjak itu terus berkurang," katanya. Penyebab lainnya adalah karena sebagian besar jarak dari rumah ke sekolah negeri cukup jauh. SD Negeri 04 ternyata dikeliling oleh lima sekolah swasta, masih dalam satu wilayah desa. Otomatis orang tua akan memilih sekolah yang paling dekat.

"Kadang-kadang kami banyak menerima pindahan murid dari kelas 3 madrasah, mereka sekolah di sana dulu karena dekat, setelah agak besar baru pindah, alasannya jika dari kecil di negeri jaraknya jauh orang tua khawatir," terangnya.

Salah satu guru madrasah di Darud Da'wah wal Irsyad (DDI) Abdul Hamid memiliki pandangan berbeda. Menurutnya kebanyakan orang tua menyekolahkan anak ke swasta karena waktu belajar yang berbeda. Pagi hari biasanya anak-anak harus ikut orang tua bekerja di kebun atau membantu menyadap karet. "Karena itu mereka tidak sekolah pagi di negeri, melainkan sekolah di madrasah yang masuk siang sampai," ungkapnya.

Terbukti murid di tempatnya mengajar lebih banyak dibanding di SD Negeri, padahal jarak antar sekolah itu tidak terlalu jauh. Terhitung ada sekitar 100 lebih jumlah murid yang sekolah di sana. Sebagian kecil juga ada yang sekolah di dua tempat seperti Roy dan kawan-kawan. "Mereka yang sekolah dua biasanya lebih milih ikut ujian di SD, jadi ketika naik kelas VI berhenti sekolah di sini untuk fokus di sekolah negeri," tutup guru agama yang mengajar sejak 2007 itu. (*)

Berita Terkait